KKP Nyatakan Kesejahteraan Pembudi Daya Ikan Membaik

Kamis, 06 Desember 2018, 13:13 WIB

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto. | Sumber Foto: KKP

AGRONET - Produksi perikanan budi daya selama lima tahun, dalam rentang 2013-2017, tumbuh rata-rata sebesar 4,97 persen per tahun. Selain itu, indikator ekonomi makro sub sektor perikanan budi daya sepanjang tahun 2018 juga terus memperlihatkan kinerja positif, ditunjukkan dengan tumbuhnya nilai tukar pembudi daya ikan (NTPi) dan nilai tukar usaha pembudi daya Ikan (NTUPi) dibanding periode yang sama tahun 2017. 

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, dalam konferensi pers di Jie Expo Kemayoran, Jakarta,  pekan lalu (30/11). Menurutnya, tahun 2017 produksi perikanan nasional tercatat 16.114.991 ton, atau naik 0,74 persen dari tahun 2016 yang mencapai 16.002.319 ton. 

Sementara untuk NTPi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren perkembangan. Hingga Oktober tahun 2018 tumbuh rata-rata sebesar 0,29 persen per bulan. Periode Oktober 2018 nilai NTPi sebesar 101,89 atau naik 2,38 persen dibanding periode yang sama tahun 2017 yang mencapai 99,52.

Sementara itu, NTUPi, BPS juga mencatat selama periode yang sama sepanjang 2018 tumbuh positif, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 0,29 persen. Bulan Oktober 2018, nilai NTUPi tercatat sebesar 114,31 atau naik 3,68 persen dibanding tahun 2017 yang mencapai 110,25. “Dengan nilai lebih besar dari 100 menunjukkan bahwa ada perbaikan struktur ekonomi masyarakat pembudi daya ikan,” jelas Slamet.

Struktur ekonomi yang dimaksud adalah peningkatan pendapatan yang berdampak pada perbaikan daya beli masyarakat pembudi daya ikan, utamanya terhadap akses kebutuhan dasar. “Nilai NTPi yang positif sebesar 101,89 juga berpengaruh terhadap saving ratio, sehingga memungkinkan para pembudi daya ikan meningkatkan kapasitas usahanya melalui re-investasi,” tambahnya.

Slamet menambahkan, dalam kurun waktu (2017 hingga triwulan III 2018), pendapatan pembudi daya secara nasional tercatat naik sebesar 8,6 persen, yakni dari Rp3,09 juta  menjadi Rp3,36 juta pada triwulan III tahun 2018. “Pendapatan ini jauh lebih besar dibanding standar upah minimum secara nasional sebesar Rp2,25 juta,” ujar Slamet. 

Untuk nilai ekspor perikanan budi daya, menurut data BPS sepanjang lima tahun terakhir (2013-2017) tumbuh rata-rata pertahun sebesar 5,24 persen. Tahun 2017 ekspor perikanan budi daya tercatat sebesar 1,83 milyar USD atau naik 13,47 persen dibanding tahun 2016. (591)