Pasar Patin Terbuka Luas ke Timur Tengah

Jumat, 07 Desember 2018, 18:39 WIB

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PSDPKP), Rifky Effendi Hardijanto (kanan). | Sumber Foto: KKP

AGRONET - Kebutuhan patin di Timur Tengah cukup besar, mencpai 50.000-60.000 ton. Untuk itu, pemerintah terus meningkatkan produksi dan memperkenalkan patin Indonesia.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PSDPKP), Rifky Effendi Hardijanto mengatakan ikan patin bersemangat sebagai komoditas ekspor. "Seperti Dubai merupakan pasar patin yang sangat baik," ujarnya di Jakarta, pekan lalu (30/11).

Kebutuhan patin dunia mencapai 700.000 ton. Indonesia memiliki peluang untuk mengambil alih  pasokan saham patin Vietnam di pasar global hingga mencapai sekitar 570.000 ton. Pangsa pasar patin dunia sebelumnya hampir 80 persen dikuasai Vietnam. Saat ini produk patin Vietnam tengah diembargo oleh negara-negara importir.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia, Azam Bachur, menambahkan salah satu upaya mendorong ekspor patin nasional dengan menutup keran impor dari Vietnam ke Indonesia.  Selain itu Indonesia mulai membidik lokasi ekspor baru, seperti Timur Tengah. 

“Dalam 4-5 tahun ini, yang paling tinggi produksinya adalah filet patin. Kasus diembargonya produk patin vietnam membuat Indonesia berpeluang menguasai 100 persen pasar patin dunia," tutur Azam. 

Rifky menambahkan, udang juga masih menjadi komoditas utama untuk ekspor. KKP telah melakukan pooling preference kepada konsumen di beberapa negara untuk mengetahui pilihan konsumen terhadap jenis udang yang disukai.

“Misalnya, konsumen di Jepang lebih interaktif udang putih. Maka kita akan menyesuaikan dengan mengembangkan budi daya udang. Konsumen di Jepang lebih banyak menggunakan udang monodon, kemudian merguensis, dan kemudian vaname. Sedangkan di Indonesia, monodon masih menjadi primadona pasar, ”ujarnya, (591)