Peluang Bisnis Milenial, Ekspor Tanaman Herbal

Rabu, 12 Desember 2018, 06:42 WIB

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi (kanan). | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET - Prospek bisnis biofarmaka atau tanaman obat akan menjadi primadona bagi angkatan milenial. Pasalnya, tidak hanya untuk obat herbal, tetapi juga sebagai peluang ekspor yang menjanjikan.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Suwandi, saat menjadi pembicara dan kuliah umum di sekitar 175 mahasiswa dan civitas akademik Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta-Magelang, Selasa (11/12). Menurutnya, biofarmaka ada 14 komoditas rimpang, antara lain jahe, kunyit, lengkuas, lempuyang, temu lawak, temu kunci, temu ireng, dan dlingo yang sangat diminati masyarakat dan memiliki pasar yang luas.

"Permintaan ekspor jahe dan kunyit sangat tinggi. Masih ada lagi 52 jenis komoditi non rimpang, seperti kapulaga, mengkudu, sambiloto, mahkuto dewa, lidah buaya, dan lainnya," ujar Suwandi.

Di sisi lain, Suwandi menekankan transformasi yang dilakukan, mengubah STPP menjadi tren untuk mencetak regenerasi muda untuk berbisnis pertanian, termasuk biofarmaka berkelas dunia. Mampu menjadi wirausaha muda tangguh untuk menggerakkan roda ekonomi di sekitarnya.

"Seluruh kegiatan usaha dari apa yang sangat menyenangkan untuk mengembangkan milenial. Bahkan, bisnis, tata niaga, dan ekspor jahe, kunyit, dan lengkuas sangat menjanjikan," ujarnya.

Suwandi mengungkapkan pada tahun 2018, ekspor jahe mencapai 2.000 ton, saffron 1.000 ton, kunyit 7.000 ton, kapulaga 6.000 ton, dan tanaman biofarmaka lain 1.000 ton. Bisnis biofarmaka lebih maju seiring berkembangnya industri herbal dan menawarkan gaya hidup masyarakat yang alami.

“Produk tanaman obat untuk memasok ke industri herbal, rumah sakit herbal, salon kecantikan, bahan kosmetik, spa, dan lainnya. Kuncinya di teknologi pengolahan, manajemen industri, pengemasan, dan jejaring, "ungkapnya.

Di tempat terpisah, Jati Kuswardono, eksportir dari Yogyakarta mengatakan, ekspor jahe gajah dan jahe emprit ke Bangladesh sekitar 300 ton per tahun. Bantuan dari petani di Cianjur, Sukabumi, Banjarnegara, dan Ponorogo dengan harga jahe gajah di petani berkisar Rp4.500 hingga Rp7.000 per kg dan jahe emprit Rp9.000 hingga Rp12.000 per kg.

“Permintaan ekspor sangat tinggi, itu pasokannya yang masih kurang dan kualitasnya tetap baik. Kami juga menjual kentang granula ke Singapura, kemiri ke Cina. Ekspor sayuran baby buncis dari Wonosobo, Magelang, dan Semarang ke Singapura, ”sebutnya.

Hal yang sama dengan Igbal, pelaku eksportir. Dia mengatakan ekspor massal ke Bangladesh. Bensin asal dari Sukabumi, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan dengan harga di petani berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kg. “Pertanyaan kunyit juga tinggi. Pasar ekspornya ke Bangladesh dan Jepang. Jahe juga dipasarkan ke Belanda, ”ujarnya. (591)