Belajar Bertani Padi Organik dari Desa Gempol

Senin, 17 Desember 2018, 14:19 WIB

Pemerintah desa, Desa Juwiran dan Desa Jaten, Kecamatan Juwiring kabupaten Klaten didampingi TPID dan Pendamping Desa Juwiring dan Karanganom. Mereplikasi keberhasilan pertanian beras organik di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten | Sumber Foto:Dok TPID

AGRONET --  Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten telah berhasil mengembangkan padi organik. Produknya telah bersertifikasi selama tiga tahun terakhir.  

Desa yang berada di alur mata air yang berhulu di Gunung Merapi,  dan berjarak 20 kilometer dari kota Kabupaten Klaten., itu telah berubah menjadi sentra produsen beras organik. Produksinya bahkan sudah menembus pasar di beberapa kota.

Lima tahun lalu, berawal dari keinginan petani menanam padi dengan mengurangi penggunaan obat kimia. yang populer sebagai pertanian organik, pemerintah desa kemudian mendukung dengan membentuk kelompok tani. Awalnya lahan pertanian organik hanya 2,5 hektare.  Berkat dukungan pemerintah desa yang terus menerus berupa pelatihan penangkaran benih sampai pembuatan agen hayati, lahan telah berkembang seluas 4,6 hektare.

Saat ini, produk organik seperti beras dan bekatul menjadi unggulan desa. Pertanian organik menjadi pilihan untuk dikembangkan karena mempertimbangkan tren gaya hidup sehat yang sedang digandrungi masyarakat luas. Masyarakat semakin sadar bahwa hidup sehat tidak hanya dengan olahraga tapi juga diimbangi pula konsumsi pangan yang sehat. 

Meningkatnya kebutuhan pasar, diimbangi petani dengan terus melakukan upaya perbaikan dengan membuat penangkaran benih, membuat pupuk organik sampai membuat pembasmi hama dengan agen hayati mandiri. Kegiatan petani tersebut, mendapat bantuan Pemprov Jateng dengan memberikan bantuan proses sertifikasi. Tahun 2018 sertifikasi memasuki tahun ketiga dan tahun 2019 ditargetkan petani mandiri.

Tahun 2018, beras jenis Rojolele menjadi ikon sebab beras berkualitas tinggi itu mulai diproduksi. Sebelumnya desa dengan dibantu Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) memfasilitasi pemuliaan dan penangkaran bersama Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Kini hasilnya  umur padi yang semula 150 hari, bisa dipanen dalam 105 hari.

Butuh waktu minimal dua tahun untuk konversi lahan konvensional ke lahan murni organik. Lama waktu tersebut digunakan untuk mengurangi bahkan menghilangkan sisa bahan kimia dari pestisida pada pertanian sebelumnya.

Dari sisi produksi, desa Gempol sudah mampu memproduksi beras organik dengan lima varietas. Antara lain jenis padi Rojolele, Mentik Wangi, Mentik Susu, Beras Merah dan Beras Hitam. Lima jenis beras itu telah bersertifikasi dan diserap pasar. Sayangnya permintaan pasar belum bisa dipenuhi. Sebab dari lahan seluas 4,6 hektare itu hanya bisa menghasilkan empat ton beras.

Kini keberhasilan tersebut menjadi pembelajaran bagi desa-desa lain di Klaten maupun di luar Klaten. Niat  itu muncul, diantaranya dari Desa Juwiran dan Desa Jaten, Kecamatan  Juwiring, Kabupaten Klaten. Melalui Program Inovasi Desa, keberhasilan desa Gempol direplikasi.  Dimulai Rabu, 12 Desember 2018 lalu, Pemerintah Desa didampingi Tim Program Inovasi Desa (TPID) dan Pendamping Desa, datang ke Desa Gempol untuk belajar bagaimana mengkonversi lahan, teknis-teknis budi daya padi organik, pupuk, pengendalian OPT sesuai prinsip-prinsip, SOP dan pengendalian mutu sesuai dengan standar SNI budi daya padi organik.  (234)

BERITA TERKAIT