Bagja Mulyanto, Kesederhanaan CEO PTPN

Senin, 04 Juni 2018, 08:10 WIB

Bagja Mulyanto, CEO PTPN VIII | Sumber Foto:Dokumen pribadi

AGRONET – Jangan remehkan kesederhanaan seseorang.  Siapa mengira kesederhanaan justru mengantarkan menjadi Chief Executive Officer (CEO).  Itulah Bagja Mulyanto, Direktur Utama PT. Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII).

Belum genap setahun Bagja memimpin perusahaan yang memiliki 37 ribu karyawan ini.  Sebelumnya, Bagja menempati posisi Asisten Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus komisaris PT. Pembinaan Usaha Indonesia (Bahana).  Amanah yang cukup prestisius.

Sikapnya yang sederhana dan apa adanya mengantarkannya menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan.  "Jujur kuncinya," kata Bagja.  Jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain, moto hidup yang Bagja pegang teguh.

Bagja tak pernah bermimpi menjadi seorang CEO.  Selepas kuliah, Bagja hijrah ke Jakarta, daerah yang bagaikan luar negeri pada saat kecil.  Di Ibukota, Bagja bekerja sebagai pegawai di kantor konsultasi dan tenaga akuntan, serta piah salam.  Tak berapa lama, ia berkeinginan kembali ke kampung halaman untuk menanam tebu di Karanganyar, Solo.  Belum sempat dijalankan, Bagja mendapatan tawaran lain.

Kala itu seorang teman mengajaknya mendaftar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).  Berbekal restu orang tua, ikutlah Bagja ke Klaten, tempat pendaftaran dibuka.  Alasan Bagja sangat lah sederhana untuk menjadi PNS, “Saya ingin punya pistol (senjata api) biar gaya, jadi saya memilih untuk menjadi pegawai bea cukai bagian luar kantor,” sebut Bagja. 

Hal seleksi pun muncul, nasip telah menentukan Bagja tetap menjadi pribadi yang sederhana, ia tidak berkesempatan memiliki pistol seperti yang diidamkan.  Bagja malah ditempatkan di Kementerian Keuangan divisi BUMN. 

20 tahun sudah Bagja menganu nasib di kota besar, namun Bagja tetaplah pribadi yang sederhana.  Hobinya pun masih sama seperti masa kecil dulu.  Melihat bintang.  “Dulu belum punya teropong bintang, kalau sekarang pake teropong sendiri, harganya ndak mahal kok,” ujar Bagja.  Bagiakan pembagian angkatan bersejata, hobi Bagja dibedakan menjadi 3 katagori.  Darat, laut, dan Udara.

Udara, seperti yang telah disebutkan, meneropong bintang.  Bagja bukanlah seorang ahli astronomi, hanya menyenangi astronomi.  Bagya menyebutkan, “Saat meneropong bintang, kita merasa sangat kecil dan nggak ada artinya apa-apa.  Kita itu larut dalam wahana yang sulit di gambarkan dengan kata-kata.” 

Laut, keindahan alam bawah laut Indonesia yang tersohor seantero jagat juga menjadi daya tarik Bagja.  Diving menjadi hobi Bagja selain meneropong bintang.  Menikmati keindahan alam bawah laut merupakan pengalaman yang buatnya releks.

Darat, hobi Bagja yang satu ini mencermintan kesederhaan sikapnya.  Jogging, olah raga murah meriah, namun bermanfaat bagi kesehatan.  Ditengah aktifitasnya yang padat, setidaknya dalam sepekan Bagja menyempatkan waktu untuk berjogging.

Selain rutin olah raga Bagja pun rutin terlibat dalam kegiatan sosial.  Seperti menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan Kerukunan Indonesia – Malaysia, yang bertujuan mengurangi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) informal di Malaysia.  Selain itu, Bagja juga memiliki Pondok Pesanteren yang ia beri nama Darul Bagja.  Pondok Pesantern yang berada di Leuiliang, Bogor, Jawa Barat ini tidak memungut biaya pada para santri yang menimba ilmu disana. 

Bagja sangat mengedepankan generasi muda untuk berilmu.  “setiap orang yang berilmu, khususnya yang rajin membaca, akan lebih cepat dewasa dan matang,” ujarnya.  Seperti yang kerap ia lakukan saat masih menimba ilmu di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, waktu luang ia sempatkan diri ke perpustakaan.  Bukan buku-buku teks yang ia baca, melainkan buku-buku pengembangan diri dan buku-buku prediksi perkembangan dunia kedepannya.

Semasa kuliah, selain mengenyam pendidikan formal, Bagja juga disibukkan sebagai asisten dosen dalam membantu berbagai penelitian.  Berbekal keilmuan yang mumpuni, Master Manajemen ini memiliki andil dalam mengembangkan BUMN.  Setidaknya 2 hal yang paling berkesan.

Pertama, pengajuan penyertaan modal negara untuk pembuatan kapal selam, “karena ilmu tertinggi di laut yaitu kapal selam,” kata Bagja. Kedua, mengholdingkan BUMN pertambangan. “Kuncinya, komunikasi dan niat yang tulus, alhamdulillah programnya berjalan,” sebut Bagja dengan penuh rasa syukur.

Selalu bersyukur atas karunia yang diberikan dan menjalin hubungan baik pada sesama, membuat Bagja disenangi banyak orang.  Terbukti, baru hitungan bulan Bagja memimpin PTPN VIII, namun ia sudah dekat dengan para pegawai serta masyarakat sekitar.  Tak tanggung-tanggung, Bagja juga menjadi dewan penasehat pencak silat di kawasan perkebunan.  Semua itu buah dari sikapnya yang sederhana. (269)

BERITA TERKAIT