Rektor IPB: Menginovasi Kampus, Menginovasi Pertanian

Senin, 31 Juli 2017, 10:25 WIB

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Herry Suhardiyanto

AGRONET - Ya, menginovasi kampus menginovasi pertanian. Itulah atribut yang layak disandangkan pada Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Herry Suhardiyanto. Kesibukannya yang luar biasa, dengan harus menaklukkan macetnya Bogor pula, meneguhkan apa yang menjadi tekadnya itu. Toh, alumnus program studi Mekanisasi Pertanian ini masih dapat menampakkan senyum lebarnya. ”Sudah lama menunggu?” sapanya pada ’Agronet’ di IPB Convention Centre, Bogor.

Herry, begitu kawan-kawan lamanya biasa memanggil, kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 10 September 1959. Daerah subur di jalur tengah Jawa Tengah itu membuatnya tidak dapat berpaling dari pertanian. Maka sebagai salah seorang lulusan terbaik di SMA-nya, ia tak kuasa menampik undangan untuk kuliah di IPB pada 1977.

Herry sempat merasakan kepemimpinan IPB oleh Prof. Ahmad Satari yang kebapakan. Juga oleh Prof. Andi Hakim Nasution yang jenius-visioner. Begitu kemudian terpilih sebagai rektor, ia dapat menggabungan karakter kedua pendahulunya yang legendaris itu. Tahun 2007, tiga puluh tahun setelah masuk IPB, ia terpilih sebagai rektor.

Koleganya memandang Herry sebagai seorang yang ’teduh’, selain tentu juga cerdas dan berkomitmen yang menjadi ciri banyak dosen senior lainnya. ’Keteduhan’ itu membantunya memimpin IPB di situasi sulit. Saat diungkit soal manajemen teduhnya, ia tertawa. ”Ya harus begitu, saya memimpin orang-orang pintar,” katanya. ”Orang pintar itu kadang-kadang suka punya mau sendiri.” Tapi, kecerdasan para dosen itulah yang justru dimanfaatkannya buat menginovasi kampus, menginovasi pertanian.

”Tidak ada pilihan lain, kuncinya memang inovasi,” paparnya. Apalagi saat itu, ketika iklim nasional kurang berpihak pada IPB. Status IPB sebagai perguruan tinggi, sebagaimana seluruh perguruan tinggi negeri lain di Indonesia, sedang tidak jelas. Pemerintah semula memberlakukan status Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Tidak lama kemudian, status itupun dibatalkan. Seluruh perguruan tinggi negeri sepert menjadi anak ayam yang kehilangan induk. Tanpa terkecuali IPB yang dituntut menjadi motor pembangunan pertanian.

Situasi tidak pasti juga memicu polemik internal soal berbagai hal. Termasuk soal apakah IPB tetap harus dipertahankan sebagai institut, atau perlu diubah menjadi universitas? Dukungan pemerintah pada perguruan tinggi negeri antara lain tergantung pada peringkat internasionalnya. Sedangkan untuk meraih peringkat tinggi dunia, universitas jelas lebih mudah dibanding institut.

Belum lagi gengsi dunia pertanian makin menurun. Kalah gengsi dibanding dengan kedokteran, keuangan/perbankan, apalagi bidang teknologi informasi yang memang tengah naik daun. Dulu, banyak siswa hebat dari sekolah ternama, bangga kuliah di bidang pertanian. Keadaannya berubah, walaupun sebenarnya bisnis dan industri pangan dari waktu ke waktu semakin berkembang pesat.

Ia pun mengajak para dosen dan karyawan IPB untuk menginovasi kampus. Dimulai dari hal sederhana seperti penataan sistem adminisi, lingkungan kampus, hingga pola relasi dengan masyarakat sekitar kampus. Inovasi manajemen asrama serta pembinaan mahasiswa hingga pengembangan media kampus termasuk menjadi programnya. Sebagai institusi pertanian, IPB tentu juga didorongnya untuk aktif untuk mengembangkan inovasi pertanian.

Hasilnya cepat dirasakan. Pada tahun pertama kepemimpinannya, IPB telah menyumbang inovasi terbanyak di antara seluruh perguruan tinggi dalam penilaian karya ’inovatif dan prospektif’ dari Business Inovation Center dari Kemenristek-LIPI. Dari inovasi tahunan perguruan tinggi yang menang, rata-rata IPB menguasai 35-40 % di antaranya. Sisanya terbagi oleh berbagai perguruan tinggi lain di seluruh Indonesia. Pada tahun 2010, IPB memenangkan 51 (50%) dari 102 inovasi baru nasional. IPB menjadi perguruan tinggi ’paling inovatif’ se-Indonesia. Mengalahkan ITB, UI, UGM, dan banyak perguruan tinggi prestisius lainnya.

Maka pada 2012 Prof. Herry pun terpilih untuk memimpin IPB kedua kalinya. Dorongan inovasi yang dilakukannya bukan hanya berimbas ke kampus. Namun juga ke dunia pertanian secara luas. Berbagai jenis baru tanaman terus dikembangkan IPB. Di tengah lahan pertanian yang makin terbatas, terobosan IPB tersebut sangat membantu. Seperti temuan jenis padi IPB3S yang panennya telah dihadiri Presiden Joko Widodo.

”Anakan jenis padi ini memang lebih sedikit, tapi daunnya yang lebar memungkinkan proses fotosintesis lebih baik,” kata Prof. Herry. Bulirnya lebih banyak dibanding jenis-jenis padi yang kini ditanam petani Indonesia, hingga hasilnya bisa mencapai 50% persen lebih banyak ketimbang biasanya.

Di petak percontohan yang terkontrol, produksi dapat mencapai 12 ton per hektar. Di lahan biasa, tingkat produksi sekitar 10 ton per hektar. Selain itu, yang dianggap unik dari jenis padi ini adalah daunnya yang meruncing tegak melindungi bulir padinya. Burung tidak suka hinggap di padi jenis ini karena tertusuk oleh ujung daun.

Bukan hanya untuk tanaman pangan, inovasi juga untuk produk hortikultura dan lain-lain. Jenis pepaya yang dipopulerkan masyarakat sebagai Pepaya Kalifornia adalah produk IPB. Dengan tingkat produktivitasnya yang tinggi serta daya tahannya pasca panen menjadikan jenis papaya ini favorit untuk ditanam petani. Begitu juga jambu kristal yang dikembangkan IPB bersama lembaga riset Taiwan. Buahnya yang banyak, mengobati kerinduan orang pada renyahnya jambu sukun yang sangat sulit berbuah. ”Saya juga menanam jambu kristal, di kebun kecil keluarga,” kata penggemar bulutangkis ini.

Sejalan dengan pengembangan inovasi tersebut, Prof. Herry juga mendorong kewirausahaan pada mahasiswa. Dorongan itu itu bukan semata berupa imbauan melainkan juga melalui dukungan nyata. Pada 2012, IPB menjadi perguruan tinggi pemilik paten terbanyak. Selang tiga tahun kemudian, pada 2015, IPB tercatat sebagai kampus dengan tingkat komersialisasi terbanyak. Sejumlah produk hasil paten IPB itu kini dijual di gerai Serambi Botani di mal-mal berbagai kota di Indonesia. Sementara itu, badan usaha milik IPB, PT Bogor Life Science and Technology, pun meraih penghargaan sebagai salah satu badan usaha kampus terbaik di dunia.

Dorongan Rektor IPB ini berhasil. Minat lulusan IPB untuk berwiraswasta meningkat pesat melampaui masa-masa sebelumnya. Banyak bisnis alumni IPB kini yang menembus omset trilyun rupiah, ikut menambah daya tarik itu bagi lulusan baru untuk terjun di dunia usaha.

Maka Prof. Herry menilai bahwa sekarang adalah saatnya bagi putra-putra terbaik bangsa untuk kembali terjun ke pertanian. Industri agribisnis Indonesia diyakini akan meningkat pesat di waktu-waktu mendatang, seiring perubahan gaya hidup masyarakat. Apalagi bisnis makanan yang disebutnya paling digdaya dan bahkan meningkat di saat ekonomi lesu sekalipun.

Maka Prof. Herry merasa tidak lelah untuk menjalankan yang telah dilakukannya selama hampir 10 tahun ini. Yakni menginovasi kampus, menginovasi pertanian. Salah satu hasil lainnya adalah apresiasi koleganya, sesama rektor perguruan tinggi negeri se-Indonesia, yang menunjuknya sebagai Ketua Majelis Rektor buat mengoordinasikan mereka. ”Kalau mau maju, kuncinya memang inovasi,” katanya.(312)




BERITA TERKAIT