Winarno Tohir, Sang Petani Andalan

Minggu, 13 Agustus 2017, 22:34 WIB

Winarno Tohir, Ketua Kontak Tani Nelayan Indonesia (KTNA

AGRONET - Siapa petani andalan di Indonesia? Para pelaku lama pertanian hampir pasti menunjuk satu nama; Ir. H. Winarno Tohir. Sebutan yang tidak keliru. Ia bukan saja bertani dari bawah hingga menjadi petani sukses di daerahnya, Indramayu, Jawa Barat. Lebih dari itu, ia juga memimpin para petani andalan se-Indonesia. Yakni melalui asosiasi para petani yang disebut sebagai Kontak Tani Nelayan Indonesia (KTNA).

Perjalanannya menjadi petani andalan cukup memutar. Lahir dan besar dari keluarga petani di Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Indramayu, Winarno malah menamatkan SMA di Bogor. ”Kakak saya jadi jaksa di Bogor. Dekat komplek kejaksaan Bogor ada sekolah bagus, yaitu SMA 1,” katanya. Ke sanalah Winarno bersekolah.

Dari Bogor, ia malah pergi ke daerah yang dianggap pelosok. Tanjung Sari, Sumedang. ’Lho!’. Mengapa? Ada sekolah pertanian tua di situ, yang dibangun sejak zaman Belanda. Kemudian orang-orang menyebut sekolah itu sebagai ’SPMA Tanjung Sari’. Sekolah yang meluluskan Gubernur Bank Indonesia 2003-2008, Burhanuddin Abdullah.

Bukan di SPMA itu Winarno belajar, melainkan di Sekolah Tinggi Pertanian yang kini menjadi menjadi Universitas Winaya Mukti. Sarjana muda dari Tanjung Sari, Winarno pulang kampung. Di Desa Sleman itu, dia ditunjuk petani setempat sebagai Ketua Kelompok Tani. Selanjutnya ’naik pangkat’ menjadi Ketua Koperasi Unit Desa (KUD).

”Orang-orang menyebut saya Winarno TBC,” selorohnya. Bukan karena ia mengidap penyakit TBC, namun karena nama belakangnya ’Tohir’ dan juga ’Bachelor’ (sarjana muda). Sebutan TBC membuatnya lebih dikenal, selain tentu kapasitasnya yang diatas rata-rata petani lain.

Baru kemudian ia menyelesaikan sarjananya di universitas yang sama. Ia mengkaji ’program Insus’ untuk meningkatkan produksi padi. ”Saya hafal di luar kepala praktek program Insus. Begitu juga program pembangunan pertanian lain yang dikembangkan pemerintah,” ujar Winarno.

Dengan kapasitasnya itu, Winarno segera menarik hati tokoh petani nasional saat itu, Haji Oyon Tahyan. Ia Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan atau KTNA. ”Beliau orang hebat,” kata Winarno. Orang-orang mengenal Haji Oyon sebagai ’raja beras Tasikmalaya’. Sering duduk bersama dan dimintai pendapat langsung oleh Presiden Soeharto.

Tahun 1991, Winarno ditarik menjadi Sekretaris KTNA nasional, mewakili Jawa Barat. Tugas itu terus disandangnya sampai tahun 2000, saat Haji Oyon memutuskan lengser dari posisinya sebagai Ketua KTNA. Winarno didaulat secara nasional menggantikan Haji Oyon. Winarno punya modal cukup untuk meneruskan estafet kepemimpinan KTNA.

Pendidikannya di bidang pertanian sangat memadai. Bukan sekadar berbekal pendidikan, ia juga punya pengalaman sendiri menjadi petani di kampungnya. Dalam organisasi petani, Winarno juga mendaki dari bawah. Yakni sejak menjadi pengurus kelompok tani di kampungnya, menjadi pengurus KUD, hingga pengurus KTNA nasional.

”Di desa, para petani yang berada di hamparan yang sama biasanya membentuk kelompok tani,” ujar Winarno menjelaskan. Dalam satu desa, para kelompok tani akan membentuk kontak tani. Pengurusnya perlu mewakili tiga komponen, yakni tokoh tani, wakil perempuan, serta wakil pemuda.

Pada tingkat kecamatan, gabungan kontak tani tersebut akan membentuk kontak tani andalan. Begitu pula selanjutnya di kabupaten, provinsi, hingga nasional. Organisasi para petani dan nelayan ini berperan sebagai jembatan komunikasi antara petani dengan pihak luar. Baik pemerintah maupun swasta.

”Bila ada program pemerintah atau kalangan bisnis untuk petani, KTNA yang menyampaikannya lewat kelompok-kelompok tani. Sebaliknya bila ada usulan para petani untuk pemerintah, KTNA pula yang menyampaikan,” kata Winarno.

Peran menjadi ’jembatan komunikasi’ itu penting untuk membantu petani Indonesia. Sawah milik para petani umumnya sangat kecil. Kurang ekonomis untuk berusaha tani. Kebanyakan petani juga tak memiliki akses pada modal. ”Apalagi banyak irigasi yang sudah rusak,” kata Winarno.

Resiko? Tentu saja petani, dan juga nelayan, harus siap menghadapi itu. Termasuk yang disebabkan perubahan cuaca yang makin tidak menentu. ”Seperti sekarang ini, hama wereng kembali menyerang sawah-sawah petani. Setiap fenomena La Nina seperti pertengahan tahun 2017, serangan wereng pasti meningkat.” Katanya. Dukungan semua pihak pada petani sungguh diperlukan.

Maka Winarno sangat menghargai program Menteri Amran Sulaiman untuk membangun kembali pertanian. Terutama langkah nyatanya untuk membangun kembali saluran irigasi, bendungan-bendungan, hingga ’embung-embung’ air. Bantuan mesin-mesin pertanian pada kelompok-kelompok tani juga teramat nyata.

Winarno punya kapasitas untuk bersanding dengan menteri yang disebutnya sebagai ’menteri petarung’ ini. Sebagai pimpinan petani, ia berpengalaman berhubungan dengan semua menteri dari masa Soeharto. Bahkan berinteraksi dengan semua presiden. Sebagai petani, ia pernah magang di Jepang. Juga dikirim oleh pemerintah Indonesia untuk mengajarkan bertani di beberapa negara Afrika.

Itu sebabnya para petani Indonesia masih memintanya untuk memimpin KTNA sampai sekarang. Sebagaimana Haji Oyon dulu, Winarno kini dipandang sebagai ’tetua’ yang diteladani para petani. Sawahnya tetap menjadi sawah percontohan bagi para petani sekitarnya. Juga kebun mangga yang kini mulai dikelola anaknya. ”Saya menanam mangga gedong gincu,” kata Winarno, sang petani andalan ini. (312)

 

BERITA TERKAIT