Linawati, Profesor dan 'Social Entrepreneur' Biotek

Selasa, 22 Agustus 2017, 22:55 WIB

Prof. Linawati Hardjito dan produk bioteknya

AGRONET - Tersembunyi di belakang rumpun bambu, laboratorium itu berada. Bukan sembarang laboratorium, tapi laboratorium yang telah mengantar ’Anak Ponorogo’ itu ke berbagai pencapaian. Yakni pencapaian melanglang buana, menjadi profesor, menjadi dosen tamu di berbagai universitas dunia, menjadi pengusaha, dan –terutama— membantu masyarakat melalui biotek.

”Di sini markas saya,” kata Prof. Linawati Hardjito, sambil menunjuk sejumlah bangunan di sekeliling rumahnya di kawasan Cibanteng Bogor. Dari situlah ia berkarya, untuk membangkitkan bio teknologi, atau biotek, kelautan. Bukan hanya bagi warga pesisir, namun juga dengan merengkuh masyarakat luas.

Perjalanannya menuju dunia biotek diawali pada tahun 1980. Panggilan untuk kuliah di IPB membuatnya meninggalkan ’kota santri’ dan ’kota reog’ Ponorogo untuk hijrah ke Bogor. Dunia pertanian jelas tak asing baginya. Berasal dari pedesaan Ponorogo, tentu akrab dengan pertanian. Namun bukan Fakultas Pertanian yang kemudian ia masuki.

Lina, panggilan profesor ini, justru masuk ke Fakultas Teknologi Pertanian, walaupun kelak menjadi dosen Fakultas Perikanan. Kesempatan menjadi dosen setelah lulus kuliah dimanfaatkannya. Bukan hanya mengajar yang dilakukannya, melainkan juga meneliti. ”Dunia saya itu meneliti dan meneliti terus,” katanya.

Maka, ketika pemerintah membangun pusat biotek di ITB, Bandung, yang melibatkan berbagai perguruan tinggi, ia pun terpilih. Program masternya ia selesaikan di ITB, sebelum kemudian menempuh program doktor di Australia. Selanjutnya ia menjadi peneliti biotek di ITB, dan kemudian mengajar kembali di IPB.

Sebagai peneliti, tak cukup buatnya untuk dapat menghasilkan temuan-temuan baru. Lebih dari itu adalah bagaimana temuan tersebut dapat memberi manfaat langsung pada petani dan nelayan. ”Itu yang tidak mudah,” tuturnya. Program link and match atau kemitraan dengan dunia usaha sering tak berjalan dengan baik. Masing-masing punya tujuan dan logikanya sendiri.

Tak kunjung mendapat hasil nyata, Prof. Lina pun mengembangkan usaha sendiri bersama beberapa orang lain. Namun usaha tersebut tidak berkembang. ”Perusahaannya sudah bubar,” katanya. Sementara itu dari lapangan ia tahu persis betapa berat kehidupan masyarakat pesisir. Yakni para nelayan serta petani rumput laut.

Ia terus ke lapangan untuk mengajak para petani rumput laut mengadopsi hal-hal dasar dari bioteknologi. Cara memanen yang kurang baik, pengolahan yang sekadarnya, dan kurang memiliki kecakapan dalam berbisnis membuat kehidupan warga pas-pasan. Padahal, menurut Prof. Lina, dengan menggunakan pendekatan bioteknologi sederhana tingkat penghidupan mereka dapat meningkat.

Membantu masyarakat pesisir terus dilakukannya. ”Soal teknologi sama sekali bukan masalah,” ucapnya. Sebagai periset kelas dunia, ia menguasai masalah teknologi. Tantanganya adalah soal difusi teknologi itu agar benar-benar diadopsi masyarakat. Juga bagaimana mengaitkannya dengan kebutuhan nyata pasar.

Ia tidak mau diam untuk mengatasi masalah itu. Ia kemudian membangun lembaga lagi, untuk mengembangkan kapasitas SDM masyarakat pesisir. ”Kualitas SDM itu tantangan terbesarnya,” katanya. Apalagi sekarang, di saat bantuan pada masyarakat pesisir sangat banyak. Bantuan-bantuan itu yang disebutnya menjadi kurang bermanfaat jika SDM tidak dikembangkan.

Dengan dukungan lembaga asing, Lina melakukan pelatihan SDM di berbagai tempat. Namun masyarakat tak begitu saja mengikuti apa yang dilatihkan. ”Mereka hanya mau kalau ada contoh nyata, dan hasilnya memang benar-benar baik,” kata Lina. Maka, mau tidak mau lembaga yang dibangunnya juga harus masuk ke dunia operasional.

Tahun 2010 ia pun membangun ’Ocean Fresh’ untuk menjalankan bisnis produk-produk dari rumput laut. Petani rumput laut dari berbagai daerah digandengnya untuk bekerja sama, seperti di Palu, Muna, Karimun Jawa, hingga Sumbawa. Ia rekrut sarjana biotek IPB dan ITB untuk membimbing petani rumput laut dari berbagai daerah.

Dari olahan karagenan rumput laut, ia mengembangkan berbagai racikan algenat atau penggumpal untuk berbagai makanan. Mulai dari untuk bakso, eskrim, kebab, nugget, dan banyak lainnya. Atas dorongan sebuah lembaga di Swiss, ’Ocean Fresh’ juga masuk ke bisnis kosmetik. Saat ini ’Ocean Fresh Beauty’ yang dikembangkannya telah menjadi kosmetik terdepan di Indonesia yang benar-benar berbasis rumput laut. Produk yang kini teleh menembus pasar di berbagai negara.

Jerih payah Lina untuk membangkitkan biotek kelautan bagi masyarakat pesisir itu pun diapresiasi banyak pihak. Pada tahun 2016, misalnya, ia meraih penghargaan ‘Anugerah Inovasi’ dari Pemerintah Daerah Jawa Barat. Petani rumput laut binaannya di Sindangkerta, Cipatujah, Tasikmalaya mampu menghasilkan rumput laut coklat berkualitas tinggi yang kemudian dikembangkan menjadi bahan penyegar kulit.

Belum lagi pengakuan dari berbagai universitas dan lembaga asing. Hal yang tak mengherankan karena Prof Lina juga peneliti tamu di Dresden University Jerman, Kent University Inggris, juga Maryland University Amerika Serikat. Selain itu, ia juga dosen tamu di Sultan Qaboos University Oman. Toh, Prof Linawati tetap saja amembumi.

Menurutnya, mengembangkan biotek merupakan salah satu solusi bagi dunia pertanian dan ekonomi Indonesia. Kekayaan utama Indonesia adalah kekayaan hayati. Kekayaan ini masih belum dikembangkan secara optimal oleh semua anak bangsa. Maka, ia menyatakan hormatnya pada sejumlah korporasi yang sungguh-sungguh berbasis biotek seperti Sidomuncul, Dexxa, dan beberapa lainnya.

Lina sendiri terus mengembangkan biotek kelautan, sesuai dengan keahliannya. ”Saya ini peneliti yang juga social entrepreneur,” katanya. Tumbuh dan berkembang bersama masyarakat pesisir yang menjadi binaannya. (312)

 

Komunitas