Jimmy Hantu Inovator Agrososial

Minggu, 19 November 2017, 19:54 WIB

Jimmy Hantu

AGRONET –  Pernah melihat gambas sepanjang satu meter?  Atau sawi sebesar bunga anthurium, madu berbahan baku pisang, ayam kate sebesar ayam kampung, atau lele peliharaan sepelukan orang dewasa? Semua itu adalah sebagian dari inovasi Jimmy Hantu dari tempat usahanya di Sukamantri, Kecamatan Taman Sari, Bogor.

Bagi masyarakat di daerah itu, Jimmy memang seperti  hantu. Suka mengejutkan. Datang ke daerah itu dua dasa warsa silam, ia semula hanya dianggap sebagai pedagang UKM biasa yang sedang mengembangkan usahanya. Namun dengan cepat Jimmy segera menyulap daerah itu sebagai kawasan agrososial yang terpandang. Termasuk sebagai tempat produksi hormon tanaman, yang dimerekinya Hantu.

Hantu? “Ya, itu singkatan dari Hanya Tuhan Yang Tahu,”  kata Jimmy tergelak. Persisnya, seperti dikatakan Edi Slamet, seorang eksekutif lapangan produk itu, Hantu adalah singkatan dari ‘hormon tanaman unggul.” Produk yang kini dipasarkan ke seluruh wilayah Indonesia dan diminati oleh banyak petani hortikultura.

Perjalanan sang hantu ini memang serba tidak terduga.  Ia lahir di di Plupuh, Sragen – Jawa Tengah, tahun 1969. Saat ia berusia tiga tahun, sang ayah wafat. Tumbuhlah ia bersama orang tua tunggal, ibu, yang disebutnya mendidik dengan cara keras.  Sang ibu, guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri setempat,  menurut Jimmy mengajarinya prinsip harus bisa. Tidak boleh ada yang tidak bisa buat anaknya. Itu yang membuatnya tumbuh menjadi seorang mandiri.

Kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Salatiga, sepertinya akan mengantarkan dia ke pekerjaan teratur menjadi guru agama seperti ibunya. Namun bukan Jimmy kalau baik-baik kuliah seperti mahasiswa lainnya. Ia justru sibuk serabutan berdagang. Mulai dari melayani pembuatan seragam siswa, sampai meracik dan berjualan temulawak, ragi tempe, hingga kecap dan saus.

“Saya jualan sambil kuliah,” katanya. Maka ketika teman-temannya sibuk mencari kerja setelah jadi sarjana, Jimmy melanjutkan wirausahanya. Kabarnya terbilang maju untuk tingkatnya. Tapi hanya dua tahun berwirausaha itu, Jimmy menghentikannya. “Bosan,” katanya. Ia pun mencoba kerja di pengeboran minyak di Palembang.

Namun di pekerjaan itu, ia juga hanya bertahan dua tahun. Ia putuskan pulang dan kembali  berusaha. Kali ini mengembangkan sabun-sabun kecantikan. Sekarwangi, Skin Care,  dan Mutiara Kraton adalah sebagian merek yang dikembangkannya. Sempat berkembang pesat. Tapi, lagi-lagi penyakit bosan menyerangnya lagi. “Saya pergi dari rumah meninggalkan istri dan anak,” kata sosok yang juga pernah menjadi wartawan ini.

Selama dua tahun meninggalkan rumah, ia tinggal di masjid-masjid. Seperti di Cilincing dan banyak tempat lain. Selama masa itu, sesekali Jimmy melakukan pengobatan. Seperti pengobatan gurah yang juga dikuasainya.  Sampai kemudian  tertambat pada ‘hantu’, usaha hormon tanaman menjadi andalannya.

Awalnya adalah masa euforia tanaman Anthurium. “Itu kan tipu-tipuan saja,” katanya.  Tapi Jimmy memanfaatkan momentum tersebut buat mendongkrak ramuan organik yang telah lama dikembangkannya. “Saya buktikan bisa menghasilkan sawi sebesar anthurium,” ujarnya bersemangat.  Lalu di hadapan khalayak, Jimmy pun mempertontonkan drama.

Menggebu-gebu ia katakan ke khalayak bahwa anthurium besar berharga jutaan rupiah itu tidak ada harganya bagi seorang Jimmy.  Sebaliknya justru sawi itulah yang berharga baginya. “Ngomong apa orang ini?” Begitu yang mungkin ada di benak orang-orang di hadapannya. Saat itulah setttt....  Seperti tengah bermain sulap, ia cepat menggunting anthurium itu hingga terpotong-potong dan membuat orang-orang ternganga. Lalu ia pertontonkan lagi sawi raksasa yang dikembangkannya.

Dengan cara bombastis itu Jimmy mengenalkan bahwa Hantu, hormon tanaman yang diproduksinya adalah produk luar biasa. Tapi ia tidak asal bicara. Ia sudah mengujinya di lapangan hingga terbukti secara nyata. Tentu saja juga mengujinya di laboratorium, serta melalui kajian pakar agronomi IPB. Saatnya bagi dia untuk meyakinkan publik. Dan ia memilih cara yang tidak biasa.

“Hidup ini kan permainan. Kita yang harus memainkan dunia ini, kalau tidak dunia yang akan memainkan kita,” ucapnya dengan suara lantang. Ia sendiri mengaku mengerjakan usaha agrososial yang dijalaninya seperti bermain-main. Harus selalu gembira, tidak ada beban, dan tidak banyak berpikir. Cukup dengan terus bekerja secara antusias, sukses akan datang sendiri. Begitu keyakinannya.

Merek ‘hantu’ yang dikembangkannya tak lepas dari gaya main-main sebagai moda kerjanya. Sebuah merek yang sama sekali tak mengindahkan ilmu branding konvensional, namun terbukti ampuh di lapangan. Bahkan penggunaan nama Jimmy yang kini disandangnya pun tak lepas dari pendekatan main-mainnya.  “Ini kan sebutan urban untuk nama (sebenarnya) saya,” katanya. Semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan juga menggunakan nama Jimmy.

Aspek sosial juga menjadi bagian penting buatnya, bahkan dalam bisnis sekalipun.  Produksi Hantu dilakukan dengan sebanhyak mungkin pekerja nyang dapat ditampung. “Kami sudah minta Pak Jimmy untuk sepenuhnya menggunakan mesin agar produksi lebih tinggi. Tapi beliau menolak,” kata Edi Slamet.  Ia bangun SMK gratis untuk masyarakat sekitar. Tentu saja juga masjid yang setiap malam Jum’at tumpah ruah hingga gang-gang di sekitarnya oleh masyarakat yang menghadiri pengajian. 

Sehari-hari masjid itu diramaikan oleh 200-an anak-anak santri tahfidz Qur’an. Seluruh biaya hidupnya tentu ditanggung oleh Jimmy Hantu. Menurut Mubarak, ustadz pesantren itu, hafalan para santri di sana sangat cepat. Kuncinya, anak-anak mendapat kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri. Yang penting mereka semua gembira, sesuai prinsip hidup Jimmy Hantu.

Jimmy sendiri terus sibuk bermain-main membuat ramuan.  Beragam ramuan telah dikembangkannya dan diuji.  Termasuk madu sintesis dari pisang yang memiliki rasa maupun kandungan mirip aslinya yang tersebut di atas. Praktis ia tidak lagi mengurus bisnis yang opeasionalnya telah ia serahka  pada manajemen.  Selain itu, sesekali ia mendampingi anaknya yang kini antusias mengembangkan  mesin-mesin pertanian tepat guna.

Yang justru menjadi perhatian barunya justru urusan pengembangan masyarakat. Rakyat, menurutnya,  harus mampu memenuhi kebutuhannya sendiri  dalam urusan pangan. Maka ia pun menempuh kuliah lagi, mengambil studi Magister Pengembangan Masyarakat. Jimmy juga menyiapkan sebuah gerakan masyarakat yang membuat para petani di setiap desa dapat membuat puouk maupun pakan terenak sendiri. “Sumbernya melimpah dan membuatnya juga mudah, mengapa tidak bisa?” kata Jimmy.

Prinsip dasar yang diyakininya untuk pertanian adalah mengembalikan hasil dari alam kepada alam. Pupuk terbaik bagi setiap pohon, menurutnya, adalah daun pohon itu sendiri. Maka dedaunan perlu dikembalikan pada tanah di tempah pohon itu tumbuh. Yang diperlukan hanya sedikit pengondisian agar proses pengomposan daun-daun itu dapat berjalan secara baik.

Kekayaan alamiah perlu dioptimalkan. Seperti  kehadiran mikroba yang sangat membantu pengembangan pertanian yang sehat. Di kawasan dekat pabrik hormon Hantu, misalnya, Jimmy memelihara banyak kambing perah. Susunya yang mengandung banyak bacillus bukan untuk dikonsumsi langsung, melainkan sebagai bahan pembuatan starter pupuk awal yang dikembangkannya. 

Bonggol pisang pun di tangan Jimmy dapat menjadi beragam makanan sehat dengan memanfaatkan kandungan spesifik hara di dalamnya. Kebun di kawasan itu juga melebat dengan beragam tanaman buah yang sepertinya dibiarkan tumbuh tanpa pengaturan apapun.  Meliar menjadi seperti  hutan buah. Seorang dosen ITB yang berkunjung di kebun itu, mengomentari  bahwa di dunia pertanian dikenal istilah tumpang sari. “Yang ini bukan tumpang sari, namun ‘ngawur’ sari. Tapi anehnya sangat sukses.”

Jimmy Hantu masih akan terus ‘bermain-main’  di dalam hidupnya ke depan. Kegembiraan masa kecilnya saat bermain-main di sawah digunakannya untuk terus membuat inovasi agrososial. Jimmy Hantu terus antusias membuat terobosan-terobosan yang membuat orang lain terkesima dan bahkan merasakan manfaatnya. (312)

Komunitas