Menteri Pertanian Dr.Ir. Andi Amran Sulaiman

Total Football Amankan Pangan

Jumat, 23 Juni 2017, 10:50 WIB

Andi Amran Sulaiman

AGRONET -- Total football amankan pangan? Ibarat gaya sepakbola, itulah yang dimainkan Menteri Pertanian Dr.Ir. Andi Amran Sulaiman di Kabinet Kerja 2014-2019 saat ini. Gaya sepakbola itu mengemuka di Piala Dunia 1974 setelah dikenalkan oleh tim Belanda yang dilatih Rinus Michels dan dikapteni Johan Cruyff. Begitu efektif dan memesona gaya itu. Hanya ‘nasib’ yang membuat mereka kalah di final oleh kesebelasan Jerman.

Amran, nama panggilan menteri ini, berasal dari daerah yang kental dengan urusan sepakbola. Yakni Sulawesi Selatan. Daerah yang melahirkan legenda sepakbola Indonesia, Ramang di masa lalu. Juga Hamka Hamzah  di era sekarang. Gaya sepakbola total football itu ternyata diadopsi oleh menteri kelahiran Bone, 27 April 1968 ini.

Tidak kenal lelah dan pantang menyerah, serba bisa, serta fokus membuat gol menjadi ciri total football. Ciri itu pun dikembangkan menjadi karakter diri  Doktor Universitas Hasanuddin 2012 ini. Universitas yang terus menjadi tempat kuliahnya sejak masuk S1 tahun 1988. Selama lebih dari 10 tahun bekerja di perusahaan perkebunan negara, setelah lulus kuliah, dipakainya untuk menempa karakter tersebut. Kawah candradimuka itu kemudian juga ditinggalkannya untuk sesuatu yang menantang: berbisnis di dunia pertanian.

 Maka begitu terpilih memimpin Kementerian Pertanian pada 2014, Menteri Amran segera membuat orang-orang di kementeriannya seperti harus mendadak terbangun. Menteri-menteri terdahulu umumnya mengikuti pakem yang sudah berlaku. Sumberdaya yang ada, termasuk anggaran, dibagi secara relatif merata ke semua sub-sektor yang ada. Ia tak memilih pendekatan itu.

 Bagi Menteri Amran, gol yang akan dibuat harus jelas. Harus fokus. Menurutnya, ia diangkat menjadi Menteri Pertanian oleh Presiden Joko Widodo hanya untuk menjalankan satu tugas saja. “Tugas mewujudkan swasembada pangan,” katanya. Tugas itupun diuraikan dengan sangat jelas tahap demi tahap per tahun. Pada tahun pertama misalnya, ia membawa kementeriannya untuk untuk fokus menggarap swasembada padi, jagung, dan kedelai.

Seluruh SDM Kementerian Pertanian dikerahkan mengejar target tersebut. Yakni target meningkatkan produksi dan menyetop impor tiga komoditas tersebut. Seluruh eselon satu diwajibkan untuk ikut mengawal program ‘pajale’ (padi, jagung, kedele) dengan provinsi pantauan masing-masing yang tegas. Selain tentu tetap harus mengawal program bidangnya masing-masing. Kebijakan tersebut bukan tanpa resiko.

Tak semua pejabat siap menjalani tugas satu komando mengamankan ‘pajale’ tersebut. Ada yang kemudian memilih mengundurkan diri. Selain itu, muncul pula seloroh bahwa Menteri Amran bukan Menteri Pertanian melainkan “Menteri Pajale’. Namun bukan seorang Amran kalau terganggu oleh seloroh macam itu.

Dulu ia tinggalkan karir profesionalnya di perkebunan untuk membangun bisnis urusan tikus. Yakni berbisnis memberantas tikus. Ia bangun Tiran, perusahaan obat pembasmi tikus. Orang-orang menyebut nama perusahaan Tiran berasal dari singkatan “tikus mati karena Amran.”  Hasilnya, kini Tiran menjelma menjadi sebuah grup raksasa di perkebunan sawit, gula, serta distributor berbagai produk, bahkan juga tambang. Amran pengusaha itupun berkembang menjadi sangat efektif dengan gaya total football-nya.

Gaya total football pengusaha itu dibawanya buat mentransformasi kementrian. Ia tidak peduli apa kata orang sepanjang tujuannya tercapai. Di kementeriannya, ia blak-blakan mengatakan bahwa sebagai menteri ia sengaja tidak mengikuti berita pertanian. Ia mengaku tidak ingin konsentrasinya “membuat gol” untuk swasembada pangan terganggu. Ia mempertaruhkan jabatannya untuk itu. Hasilnya memang segera terbukti.

Belum genap dua tahun, Indonesia mampu menyetop impor beras. Selain itu, Indonesia juga mampu memangkas sekitar dua pertiga dari impor jagung, yang selama ini sebanyak sekitar 3 juta ton per tahun, buat memenuhi industri pakan ternak. Hal yang membuat negara importir jagung kalang kabut. Namun langkah besar Menteri Amran sejauh ini masih terganjal pada komoditas kedelai. Tanaman yang asalnya memang dari daerah sub-tropik. Masih perlu  diperoleh terobosan besar untuk benar-benar dapat mengamankan bahan baku tahu tempe ini.

Sambil terus mengawal program swasembada ‘pajale’, di tahun kedua Menteri Amran mulai membawa timnya menuju sasaran baru. Yakni mekanisasi pertanian dan pengembangan benih. Saat ini, para petani rata-rata sudah semakin tua. Sedangkan anak-anaknya umumnya enggan untuk melanjutkan bertani. Maka pengembangan teknologi sungguh diperlukan. Sementara itu, di bidang holtikultura Menteri Amran mulai menggarap cabai dan bawang. Pedasnya harga cabai yang mencapai Rp 100 ribu per kg pada sekitar Lebaran 2016 benar-benar menyengat perhatiannya.

Di perkebunan, Menteri Amran juga mulai menggarap tebu. Hak yang tidak mudah karena struktur industri dan distribusi gula telanjur jauh dari ideal. Apalagi untuk memenuhi swasembada daging sapi yang juga menjadi harapan Presiden. Kementerian Pertanian dibawah kepemimpinannya kini mengembangkan program Sapi Indukan Wajib Bunting atau Siwab. Namun tampaknya, hingga waktu yang sangat panjang, Indonesia masih akan bergantung pada sapi dari Australia.

Tantangan yang dihadapi Menteri Amran sungguh berat. Namun untuk total football amankan pangan, tidak ada kata menyerah baginya. Ia terus berkeliling ke berbagai pelosok Indonesia, lebih dari menteri lainnya  Bagaimana caranya berkoordinasi kalau sering tak di kantor? “Gunakan teknologi,” tegasnya pada tim Kementan yang harus siap untuk dikontak 24 jam. Dengan di lapangan Menteri Amran dapat menemukan serta mengatasi langsung masalah secara nyata.

Bukan hanya kuat di lapangan, mantan koordinator relawan Sahabat Rakyat KTI pendukung Jokowi-JK pada 2014 ini juga piawai membangun sinergi antarkementerian dan lembaga. Terutama dengan Kementerian Pekerjaan Umum serta Kementerian Pembangunan Desa yang juga berhubungan dengan pertanian. Sementara itu, secara internal Menteri Amran juga mendorong seluruh SDM untuk produktif. Para peneliti di lingkungan Kementerian Pertanian pun kini sibuk menulis da menerbitkan buku atas desakan menteri. Dalam pandangan Menteri Amran, kalau masing-masing tidak mampu menyelesaikan satu buku dalam tiga bulan adalah keterlaluan.

Jalan masih panjang untuk membuat gol menuntaskan seluruh program swasembada pangan. Salah satu medan berat untuk itu yang ingin ia taklukkan adalah pemanfaatan lahan kering di Indonesia yang mash sangat luas, karena pertanian lahan basah atau sawah sudah mendekati titik puncaknya. Untuk itu, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas diri buat “memanen air hujan’ buat pengairan lahan kering tersebut. Waktu yang akan menjawab, seberapa cepat Menteri Amran menaklukkan tantangan itu. Adapun saat ini setidaknya ia telah berhasil membuat insan Kementerian Pertanian untuk bangkit, dan ikut permainan total football amankan pangan seperti total football-nya Cruyff dulu. (312)

BERITA TERKAIT

Komunitas