Kejayaan Bawang Putih Nasional akan Dibangkitkan Kembali

Selasa, 25 Desember 2018, 13:47 WIB

Bawang putih | Sumber Foto: Istimewa

AGRONET -- Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi, mengambil langkah berani dan strategis untuk menggenjot produksi bawang putih dalam negeri. Kementan lantang menyuarakan kebangkitan kembali kejayaan bawang putih nasional melalui program swasembada bawang putih 2021.

"Dalam berbagai kesempatan, Mentan, Andi Amran Sulaiman, menyebut Kementan optimis bisa menggapai swasembada benih bawang putih di tahun 2019 dan swasembada konsumsi tahun 2021. Caranya dengan intervensi APBN dan mewajibkan importir bekerja sama dengan petani menanam dan memproduksi di dalam negeri sebanyak 5 persen dari pengajuan rekomendasi impornya," ungkap Suwandi di Jakarta, Senin (24/12).

Dia mengakui bahwa impor sayuran terbesar masih ditempati bawang putih. Sejak 23 tahun lalu mulai impor bawang putih dengan volume kecil dan setiap tahun semakin bertambah besar. Petani yang dulu menanam bawang putih menyusut karena tergerus bawang putih impor.

"Akibatnya lahan bawang putih eksisting tinggal 1.500-2.000 hektare per tahun. Kini nyaris 97 persen kebutuhan konsumsi dipasok dari impor," sebutnya.

Dia menegaskan, baru di era Mentan, Andi Amran Sulaiman, dimulai gerakan masif untuk mengendalikan impor. Gerakan tanam bawang putih dimulai 2018 dari APBN, wajib tanam, investor, dan swadaya sekitar 10.000 hektare. Hasilnya dijadikan benih untuk ditanam lagi di tahun 2019 minimal 30.000 ha. 

Meski diakui tantangan tersebut relatif berat, ucap Suwandi, namun Kementerian Pertanian optimis target bisa dicapai. Buktinya hasil kerja keras bersama untuk sayuran, sejak 2016 bisa meraih swasembada, tidak impor cabai segar dan bawang merah segar, serta 2018 tidak impor kentang sayur (kentang konsumsi).

"Kita sudah membuat roadmap dan mulai gerakan 2018. Dukungan semua pihak, pemda, penyuluh, termasuk importir, investor, pelaku usaha, bermitra dengan petani, dan kelompok tani, mari bergerak bersama mengembalikan kejayaan bawang putih nasional," pungkasnya.

Selama lebih dari dua dasawarsa, Indonesia mengalami ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor bawang putih. Sejak liberalisasi perdagangan yang ditandai dengan dibukanya kran impor bawang putih besar-besaran pada tahun 1997, Indonesia mulai dibanjiri impor bawang putih konsumsi. Akibatnya, petani bawang putih lokal di sentra-sentra utama beralih komoditas, tidak lagi menanam bawang putih.

Indonesia tercatat pernah mencapai swasembada bawang putih pada era 1994-1995. Saat itu, produksi bawang putih nasional mencapai 152 ribu ton dan luas areal tanam 21 ribu hektare lebih. Derasnya impor bawang putih, membuat produksi lokal dari tahun ke tahun tergerus hingga tersisa hanya sekitar 2 ribu hektare atau produksi 20 ribu ton per tahun. Angka 2 ribu hektare per tahun tersebut nyaris tidak beranjak naik hingga tahun 2017 silam. Padahal kebutuhan total nasional lebih dari 550 ribu ton setahun.

Indonesia seperti dininabobokan oleh bawang putih impor yang nilainya bisa mencapai lebih dari Rp5 triliun per tahun. Catatan BPS, impor sayuran terbesar periode Januari-November 2018 masih didominasi oleh bawang putih dari Cina yang mencapai 448 ribu ton dengan nilai impor diperkirakan Rp5,4 triliun. (591)