DPR Apresiasi Kementan: Dulu Impor, Kini Ekspor Sayuran

Sabtu, 05 Januari 2019, 05:20 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, melepas ekspor komoditas hortikultura di Lembang, Bandung Barat. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Anggota Komisi IV DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengapresiasi kinerja ekspor pangan yang dicapai selama Pemerintahan Jokowi-JK khususnya komoditas sayuran. Pasalnya, di awal tahun 2019, Kementan kembali melepas ekspor sayuran ke Singapura dan Brunei Darussalam. Padahal sebelumnya, sayuran diimpor dari Australia dan Amerika Serikat.

"Ini merupakan bukti hasil inovasi pertanian yang dilakukan Kementan, seperti teknologi benih, terutama alat mesin pertanian. Secara umum, capaian ekspor pertanian naik 29 persen. Inflasi pangan turun 1,26 persen di tahun 2017, merupakan wujud nyata penggunaan APBN sektor pertanian," kata Cucun saat menghadiri acara pelepasan ekspor komoditas hortikultura yang dilakukan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di Lembang, Bandung Barat, Kamis (3/1).

Menurutnya, peningkatan ekspor menopang devisa Indonesia. Dampaknya, Indonesia tidak lagi terus-terusan impor pangan, tetapi justru mengekspor guna memenuhi pangan negara lain. "Kinerja ekspor pangan saat ini sesui dengan harapan. Ke depan, mudah-mudahan Indonesia menjadi lumbung pangan Asia bahkan dunia bisa terwujud," ucapnya.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan upaya yang dilakukan Kementan untuk menggenjot peningkatan volume ekspor, yakni melalui bantuan benih berproduksi tinggi, pupuk, alat mesin pertanian, pendampingan, dan menciptakan petani milenial yang mampu menciptakan terobosan inovasi teknologi baru. Bahkan, Kementan menyediakan karpet merah bagi pelaku usaha, sehingga pengurusan izin ekspor dilakukan lebih cepat, dan turut membukakan pasar baru bagi eksportir.

Amran membeberkan kegiatan ekspor sayuran dari Kabupaten Bandung Barat setiap tahunnya mencapai 1.500 ton setahun atau 3,5 sampai 4 ton per hari. Di tahun 2019 dan ke depan, volume ekspornya akan terus ditingkatkan dan negara-negara baru yang menjadi pasar ekspor akan dijajaki, sehingga pasar ekspor semakin diperluas.

“Program peningkatan produksi sayuran yang kami lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tidak sampai di situ, hasilnya sudah berhasil menembus pasar ekspor. Ini prestasi luar biasa, ini prestasi baru dari sekian prestasi di sektor pertanian selama ini. Jadi kita dorong terus ekspor,” ujarnya.

Sementara itu, pihak PT. Momenta Agrikultura selaku eksportir, Davy Rusli, mengatakan usaha budi daya komoditas sayur-sayuran akhir-akhir ini menjadi primadona bagi pelaku usaha. Pasalnya, petani semakin banyak menggeluti budi daya sayur-sayuran sehingga tidak mengalami kekurangan pasokan.

“Karena itu untuk volume ekspor tahun 2019 ini harapan kami bisa lebih dari 2018. Pada tahun 2018 kira-kira 600 ton yang terdiri dari buncis, baby, watercress, edamame, zuchini, kyuri, red oakleft, radichio, luttuche, dan lainnya. Kita harapkan ekspor di tahun 2019 mencapai 1.000 ton,” katanya.

Menurut Davy, pihaknya optimis bisa mencapai target ekspor tersebut. Sebab, dukungan dari Kementan sangat tinggi, seperti kemudahan izin ekspor. Dia berharap agar pemerintah membuka lagi jaringan ekspor ke berbagai negara lainya.

Menanggapi hal ini, Direktur Jendral Hortikultura Kementan, Suwandi menuturkan potensi produksi sayuran Indonesia untuk mengisi pasar ekspor masih terbuka luas. Kementan bersama kementerian dan lembaga terkait serta pelaku usaha lainnya terus berupaya membuka pasar ekspor baru. (591)