Alsintan Sebagai Solusi Peningkatan Produksi Pertanian

Senin, 07 Januari 2019, 05:19 WIB

Alsintan meningkatkan produktivitas pertanian. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Kebijakan pemerintah yang mengutamakan keberpihakan kepada petani antara lain dengan penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) secara masif, mulai dari pengolahan lahan sampai dengan tahap panen dan pascapanen. Dengan demikian, kegiatan usaha pertanian berubah dari sistem tradisional menuju pertanian yang lebih modern.

Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Andi Nur Alam Syah, menjelaskan berdasarkan hasil analisis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan tahun 2015 bahwa jumlah terbanyak tenaga kerja pada sektor tanaman pangan adalah petani yang sudah berusia lebih kurang 60 tahun, kemudian usia antara 40-45 tahun. Dampak nyata adanya kelangkaan dan usia lanjut tenaga petani untuk mendukung budi daya tanaman padi adalah rendahnya kapasitas kerja tanam padi per satuan luas lahan dan mahalnya biaya tanam.

“Masalah yang muncul pada kegiatan tanam dapat ditangani dengan menerapkan mesin tanam pindah bibit padi. Mesin transplanter adalah sebagai solusi peningkatan kerja kegiatan tanam padi. Hemat tenaga kerja, mempercepat waktu penyelesaian kerja tanam per satuan luas lahan, dan faktor tersebut akhirnya mampu menurunkan biaya produksi budi daya padi,” ungkap Andi Nur Alam Syah di Jakarta, Jum’at (4/1).

Pengguna mesin transplanter menunjukkan bahwa rata-rata kinerja 1 mesin transplanter dengan 1 orang operator dan 2 asistennya dapat menggantikan antara 15 hingga 27 hari orang kerja (HOK). Sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1 hingga 1, 2 hektare per hari. 

“Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan telah menghasilkan mesin transplanter yang dinamai mesin transplanter jarwo 2:1. “Keuntungan lain dari cara tanam dengan mesin transplanter munculnya usaha pembibitan padi, karena mesin memerlukan bibit khusus, yaitu umur bibit harus kurang dari 18 hari dan bibit harus ditaruh pada kotak mesin (tipe dapog) sesuai ukuran mesinnyna. Rata-rata kebutuhan bibit sebanyak 250-300 dapog per hektare,” lanjut dia.

Andi Nur Alam membeberkan petani sudah profesional atau lihai menggunakan mesin transplanter. Ini terungkap dari hasil pemberdayaan yang dilakukan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Kementan. 

Di antaranya, Gapoktan Madiun Bersatu di Dusun Parit Madiun, Kecamatan Sei Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Petani sudah sangat menggantungkan kegiatan tanam pada mesin transplanter jarwo 2:1. Biaya tanam padi secara manual dengan metode tanam jarwo sebesar Rp1,8 juta per ha dan dengan transplanter jarwo hanya Rp1,4 juta per ha. Produktivitas padi dengan metode tanam Jarwo meningkat rata-rata dari 3,3 ton per ha menjadi sekitar 4,7 ton per ha.

“Begitu juga di Kabupaten Subang, Jawa Barat, ongkos tanam manual sebesar Rp3,5 juta per ha dibanding untuk jarwo transplanter hanya Rp1,8 juta per ha. Rata-rata produktivitas padi yang menerapkan metode tanam Jarwo mencapai 7,6 ton per ha,” ungkapnya.

Fakta lainnya, sambung Andi Nur Alam, dirasakan juga oleh Kelompok Tani Suka Maju, Dusun Kalikebo, Kecamtan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dengan menggunakan mesin transplanter, biaya tanam secara manual untuk cara jarwo Rp2 juta per ha. Sedangkan dengan transplanter sebesar Rp1,9 juta per ha dengan rata-rata produktivitas padi dengan metode tanam jajar legowo mencapai 7,5 ton per ha.

Untuk itu, tambahnya, dalam meningkatkan hasil panen petani, Kementan terus meningkatkan jumlah bantuan alat mesin pertanian. Tahun ini, pemerintah memberikan sekitar 80 ribu unit alat mesin pertanian untuk disebar di seluruh wilayah di Indonesia.

Hal senada juga dikatakan Kepala Bidang KSPHP, Agung Prabowo, bahwa Balai Besar Pengembangan Mekanisasi bahwa penggunaan alat mesin pertanian secara nyata telah meningkatkan produksi pangan salah satunya padi. Contohnya, panen perdana di area pengembangan pertanian modern di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menghasilkan 10 ton padi per hektare. 

"Ini bukti nyata penggunaan alat mesin pertanian. Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah, produksi naik, dan petani tentunya sejahtera," pungkasnya. (591)