Saatnya Bangkitkan Kejayaan Komoditas Udang untuk Dongkrak Pasar Ekspor

Rabu, 09 Januari 2019, 05:38 WIB

Produksi komoditas udang terus ditingkatkan untuk pasar ekspor. | Sumber Foto: KKP

AGRONET -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya mendongkrak peningkatan ekspor produk perikanan nasional. Hal ini dilakukan untuk mencapai target ekspor produk perikanan Indonesia tahun 2018 yang ditetapkan mencapai nilai USD5 miliar.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Rifky Effendi Hardijanto, di Jakarta, akhir Desember lalu, mengatakan ada enam komoditi perikanan yang diharapkan mampu memacu nilai ekspor perikanan, yaitu udang, tuna, kepiting dan rajungan, gurita dan rumput laut, serta cakalang dan tongkol. Namun udang dinilai sebagai pilar utama ekspor produk perikanan karena pada periode Januari-Oktober 2018 saja, nilai ekspor udang sudah mencapai USD1,5 miliar.

Pasar utama udang Indonesia adalah pantai timur Amerika. Sedangkan pantai barat Amerika masih dikuasai pemasok dari India. Begitu pula dengan pasar Eropa yang belum dapat dioptimalkan untuk pemasaran produk perikanan Indonesia. “Amerika marketnya in general, market leadernya adalah india, kita nomor 2. Di Eropa lebih parah lagi, size marketnya kurang lebih sama dengan amerika yaitu 6 koma sekian miliar dollar setahun, tapi Indonesia hanya nomor belasan, tidak masuk 10 besar. Di Eropa, dari market 6 koma sekian miliar dolar itu, kontribusi kita hanya sekitar USD84 juta. Jadi kecil sekali,” paparnya.

Padahal menurut Rifky, secara umum kebutuhan udang dunia masih belum dapat dipenuhi pemasok-pemasok yang ada, sehingga ini merupakan kesempatan Indonesia untuk mengoptimalkan pemasaran hasil penangkapan atau budi daya udang. Utamanya dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi penangkapan atau budi daya dan pemberdayaan ahli-ahli perikanan Indonesia.

“Potensi udang ini masih besar dan ternyata UPI (Unit Pengolahan Ikan) udang itu baru beroperasi di kisaran 60 persen. Ketika saya ngobrol dengan eksportir-eksportir udang, mereka mengaku kekurangan bahan baku. Artinya yang harus kita dorong adalah sektor hulu, produsen udangnya. Tambaknya ini yang harus kita perbanyak. Jadi kita dorong intensifikasi dan penggunaan teknologi kolam bioflok udang,” lanjut Rifky.

Sebenarnya industri pertambakan udang Indonesia pernah berjaya di tahun 1980-an. Namun karena berbagai faktor seperti faktor teknis, finansial, politik, dan sebagainya, banyak industri pertambakan udang kemudian mati. Menurut Rifky, sudah saatnya mengembalikan kejayaan industri udang di Indonesia dengan pemanfaatan teknologi mulai dari perhitungan tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR), penetasan (hatchery), pembibitan (nursery), hingga pembesaran.

Rifky juga mendorong para investor berinvestasi di sektor pembibitan karena dinilai sangat menguntungkan secara ekonomi. Peningkatan nilai udang dari benur hingga menjadi bibit udang yang siap dibesarkan sangatlah besar atau berkali-kali lipat. “Makanya KKP merencanakan program tambahan ekspor USD1 miliar komoditi udang dalam 3 tahun ke depan, pada 2021. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa mendorong produksi di hulu,” tuturnya.

Di sektor hatchery, kata Rifky, perlu keterlibatan investor-investor yang memiliki pengalaman cukup panjang. Selain investor, perlu pula penataan daerah yang akan difokuskan sebagai sentra pengembangan industri penetasan udang, sehingga terbentuk klasterisasi yang dapat mempermudah jalur logistik penyiapan rantai benih.

Rifky menambahkan perlu dilakukan riset mengenai potensi jenis udang yang disukai masing-masing negara, misalnya monodon (udang windu) yang banyak disukai pasar Eropa atau udang jerbung yang banyak diminati negara Asia Timur seperti Jepang. Kemudian, industri udang Indonesia juga perlu memperbaiki sistem logistik dari hulu ke hilir yang dapat membantu upaya pembebasan atau pengurangan tarif bea masuk produk perikanan Indonesia ke negara tujuan ekspor.

Optimalisasi juga dapat dilakukan pada industri pengolahan komoditi perikanan menjadi bahan makanan siap saji sesuai karakteristik millennial generation. Pengembangan ini menurut Rifky tentunya membutuhkan dukungan permodalan dari perbankan. “Kalau kita bisa menambah (nilai ekspor) USD1 miliar dalam 3 tahun ke depan, maka kita bisa membantu memperbaiki neraca perdagangan Indonesia,” pungkasnya. (591)