Pemkot Surakarta Merealisasi Pembangunan PLT Sampah Putri Cempo

Kamis, 10 Januari 2019, 07:42 WIB

Timbunan sampah di Putri Cempo. PLT Sampah akan menjadikannya sesuatu yang lebih bermanfaat. | Sumber Foto:dok pemkot surakarta

AGRONET --  Keinginan Pemkot Surakarta untuk mengelola sampah TPA Putri Cempo  dengan teknologi modern, nampaknya kian mendekati kenyataan. Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di lokasi itu mulai disusun Pemkot bersama PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP), selaku investor pemenang lelang.

Berbagai tantangan semula harus dihadapi Pemkot, agar sampah di TPA tersebut tidak lagi hanya ditimbun melainkan diubah menjadi energi listrik. Tender proyek pembangunan pembangkit sudah dua kali gagal menghasilkan pemenang, pada 2014 dan 2015. Tekad kuat Pemkot akhirnya membuahkan hasil, tatkala lelang ketiga berhasil menggaet PT Citra Metrojaya Putra Persero Tbk sebagai rekanan mulai Agustus 2016. Belakangan, konsorsium perusahaan itu berganti nama menjadi PT SCMPP.

“Rencananya, konstruksi PLTSa akan didirikan dua tahap. Tahap pertama dimulai awal 2019 dengan kapasitas produksi listrik sebesar 5 megawatt (MW) per jam. Lalu tahap kedua akan menunggu selesainya penerbitan Power Purchase Agreement (PPA) dari manajemen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN),” ungkap Direktur PT SCMPP, Elan Syuherlan.

Pembangunan tahap pertama itu diprediksi berlangsung selama 18 bulan. Jika konstruksi sudah siap, maka mulai 2020 sekitar 450 ton sampah TPA bisa diolah menggunakan metode plasma grasifikasi. Jumlah sampah olahan itu adalah target dalam sehari.

Elan mengakui, pembangunan konstruksi pembangkit listrik secara bertahap ini memang di luar skenario awal. Sebab rencana semula adalah mengoperasikan PLTSa berkapasitas 10 MW per jam. “Dulu akhir 2019 sudah ditargetkan beroperasi (dengan kapasitas produksi 10 MW per jam). Tapi ternyata PPA baru ada kejelasan setelah dua tahun.,” ujar Elan.

Di balik perubahan rencana itu, tetap tersimpan kabar baik. Yakni titik terang pembangunan konstruksi PLTSa dan realisasi pengolahan timbunan sampah akan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Apalagi sejak awal Pemkot Surakarta memang bersikeras untuk mengubah pengelolaan ribuan ton sampah, di TPA yang beroperasi sejak 1986  tersebut.

Informasi terkait rencana pembangunan PLTSa disambut antusias warga. Sebab selain berpotensi terbakar setiap musim kemarau, timbunan sampah itu juga menimbulkan bau tak sedap dan berpeluang mencemari cadangan air tanah di sekitarnya. "Baunya sampah minta ampun mas, apalagi jika musim hujan. Baguslah kalau pemkot bisa rubah sampah jadi listrik," tutur Eko Krismooy, salah satu warga Solo. 

Pemkot juga bukan tanpa upaya dalam merealisasikan PLTSa. Selain terus mengejar kepastian penerbitan PPA yang menjadi kontrak kerjasama pembelian listrik produksi PLTSa dari PT PLN, tercatat sudah tiga kali dilakukan penyesuaian perjanjian investasi pembangkit listrik bersama PT SCMPP. Revisi itu dilakukan dengan memperpanjang masa persiapan pembangunan konstruksi PLTSa, sembari menunggu PPA terbit.

“Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) atau PPA itu menjadi jaminan investor untuk mencari pembiayaan proyek di bank. Makanya selama ini Pemkot terus mencari informasi penerbitannya, baik ke kementerian terkait maupun direksi pusat PT PLN. Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo juga sudah beberapa kali berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar PJBL itu segera terbit,” papar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sri Wardhani Poerbowidjojo.

Hasil koordinasi Pemkot dan instansi terkait selama ini menunjukkan, tersendatnya penerbitan PJBL itu disebabkan perubahan regulasi terkait harga pembelian listrik PLTSa oleh PLN. (234)

BERITA TERKAIT