Pemerintah Optimis, Tahun 2019 Panen Padi akan Melimpah

Kamis, 10 Januari 2019, 12:24 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET  -- Tiga faktor penentu peningkatan provitas padi diperkirakan terpenuhi. Sehingga produktivitas padi pada tahun 2019 ini diprediksi akan meningkat. Ketiga hal itu meliputi faktor genetik, lingkungan, dan interaksi faktor genetik dengan lingkungan. 

Kepala Balai Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), Priatna Sasmita, menjelaskan saat ini upaya peningkatan produksi dari aspek genetik sebagian besar telah dilakukan petani di Indonesia melalui penggunaan berbagai varietas unggul yang telah teruji di masing-masing sentra. "Selain itu juga melakukan pengelolaan lingkungan melalui perbaikan berbagai teknologi budi daya dan adaptasi spesifik lokasi," kata Priatna di Jakarta, Kamis, (10/1).

Dia menambahkan ada faktor lingkungan yang sulit dikontrol manusia khususnya iklim. Hal ini berkaitan dengan curah hujan, intensitas cahaya, serta temperatur dan kelembaban yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman terutama fase generatif yang dibutuhkan untuk proses pengisian bulir gabah.

Kondisi lingkungan ideal untuk fase pertumbuhan generatif padi secara umum meliputi Intensitas (kualitas) cahaya tinggi, temperatur relatif tinggi, serta kelembaban dan curah hujan rendah yang biasanya terjadi mulai bulan Maret-April.  Selain efek fisiologis yang kondusif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, kondisi di atas secara tidak langsung juga dapat mengurangi perkembangan populasi hama dan penyakit tanaman di lapangan.

"Oleh karena itu prediksi pergeseran waktu tanam padi periode Oktober 2018 -Maret 2019 ke Januari 2019 cukup beralasan. Hasilnya akan berimplikasi kondusif terhadap peningkatan produktivitas tanaman padi secara signifikan," ujarnya.

Hal senada diungkapkan ahli padi Indonesia, Soemitro, bahwa produksi padi pada April 2018 diperkirakan akan meningkat drastis. Kenaikan diprediksi mencapai 30 juta ton (GKG) atau senilai Rp150 triliun. Dia menjelaskan, prediksi ini didasarkan pada elnino 2018 yang merupakan kategori kuat. Ini identik dengan elnino yang terjadi di tahun 2015.

"Produksi padi tahun 2016 terjadi peningkatan karena elnino tahun 2015. Hal ini membuat terjadinya pergeseran tanam dari Oktober 2015-Maret 2016 menjadi Januari-April 2016," kata Soemitro.

Dengan pergeseran masa menjadi Januari-April, petani akan memanfaatkan tujuh keajaiban solar energi yang memicu produksi per hektare mengalami kenaikan tiga kali lipat. Ketujuh keajaiban solar energi itu di antaranya tanaman yang bebas hama; proses penyerbukan sempurna sehingga bagai berisi; dan proses asimilasi fotosintesis yang sukses sehingga mencegah munculnya parasit.

Hal lain yaitu, terjadi efisiensi pemupukan yang meningkat empat kali lipat; saat matahari bersinar menyebabkan proses pengeringan gabah menjadi, cepat, mudah dan murah dan tidak ada gabah yang busuk. Kemudian kualitas gabah yang dihasilkan adalah kualitas premium sehingga harga jual di sawah di atas HPP.

Soemitro memperkirakan luas lahan yang akan mengalami perubahan produksi menyusul pergeseran waktu tanam seluas 5 juta ha dari 8.5 juta ha. "Kenaikannya saja 30 juta ton (GKG) atau setara Rp150 triliun. Inilah bentuk pergeseran dari green revolution menjadi gold revolution," tutupnya optimistis. (591)