Berhasil Surplus Padi dan Jagung, Ini Strategi Kementan

Sabtu, 12 Januari 2019, 06:05 WIB

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto, dalam acara Bakpia. | Sumber Foto: AGRONET

AGRONET --  Berdasarkan data secara nasional sepanjang tahun 2018, Kementan berhasil mencapai target peningkatan produksi padi dan jagung.   Demikian disampaikan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto  saat Bincang Asyik Pertanian Indonesia (Bakpia) di Kantor Kementerian Pertanian,  Jumat (11/1).

Gatot meyampaikan, produksi padi tahun 2018 mencapai 83,04 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 48,3 juta ton beras. Angka ini tercatat surplus dibandingkan dengan angka konsumsi sebesar 30,4 juta ton beras. Demikian juga dengan jagung, pada periode yang sama produksinya mencapai 30,05 juta ton pipil kering (PK). Sedangkan perhitungan kebutuhan sekitar 15,58 juta ton PK. Jadi surplus sekitar 14 juta ton. 

“Dapat disimpulkan sepanjang tahun 2018, secara nasional terjadi surplus padi dan jagung. Namun, jika data itu diturunkan secara spesifik per daerah dan periode tertentu terjadi kekurangan. Tetapi masalah ini bisa ditutupi dari daerah lain yang punya kelebihan produksi. Hal ini hanya karena masalah distribusi,” ujarnya.

Surplus padi dan jagung merupakan hasil dari program upaya khusus padi jagung dan kedelai (Upsus PJK) sejak tahun 2015. Sejak dilaksanakan, Upsus PJK mampu meningkatkan luas tanam padi secara tajam sebesar 2 juta hektare, dari 14 juta hektar pada 2014 menjadi 16 juta ha tahun 2018. “Dengan perbaikan prasarana dan sarana, penanganan pascapanen, dan pengamanan produksi, diproyeksikan produksi pada tahun 2019  akan lebih meningkat," terang Gatot.

Potensi tambahan produksi tahun 2019 berpeluang besar di antaranya melalui pengembangan padi di lahan rawa pasang surut/rawa lebak, pemanfaatan lahan kering untuk padi, jagung, dan kedelai. Kemudian pengembangan budi daya tumpang sari, perbaikan teknologi benih, pupuk, budi daya, penanganan pasca panen, dan pengamanan produksi dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). 

Menurut Gatot, perluasan areal tanam pada program Serasi (Selamatkan rawa, sejahterakan petani) ditargetkan bisa memperluas lahan rawa pasang surut dan lebak tahun 2019 sebesar 500.000 hektare terutama di Provinsi Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Diharapkan adanya program tersebut dapat meningkatkan indeks pertanaman dan mengembangkan korporasi petani. “Dengan adanya program ini kita upayakan pertanaman di lahan rawa menjadi 2 kali dalam setahun dari sebelumnya yang hanya satu kali,” ujarnya. 

Selain di rawa, tambah Gatot, perluasan areal tanam juga dilakukan melalui pengembangan padi di lahan kering di antaranya dengan budi daya tumpangsari. Upaya ini sebagai solusi untuk mengatasi persaingan lahan antar komoditas.

"Tahun 2019, dengan tumpangsari ditargetkan perluasan areal tanam mencapai 1,05 juta hektare atau setara luas pertanaman 2,1 juta hektare. Dari sisi pendapatan pun, budi daya tumpangsari bisa memperoleh keuntungan lebih besar dari pada budi daya monokultur," pungkasnya. (591)