Saat Musim Panen, Bulog Siap Ekspor Beras

Selasa, 22 Januari 2019, 07:56 WIB

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam dialog tentang pangan beberapa waktu lalu. | Sumber Foto:Kementan

AGRONET --  Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, menyatakan Bulog menargetkan ekspor beras ke sejumlah negara pada pertengahan tahun 2019 mendatang. Target ini diprediksi akan berlangsung seusai panen raya pada pertengahan bulan April hingga akhir Mei 2019.

Hal itu disampaikannya dalam rapat kerja jajaran Kementerian Pertanian dengan Komisi IV DPR RI (21/1). Selain dihadiri Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, beserta para pejabat eselon I dan II, juga hadir manajemen dan para Direksi BUMN sektor pertanian, serta kepala dinas dari sepuluh wilayah sentra padi.

"Makanya kita targetkan bulan Januari sampai April itu kita akan menyerap 1,8 juta ton beras dari petani. Kalau ditambah dengan sisa beras kita hasilnya bisa lebih dari 4 juta ton. Kita masih punya sisa 2,1 juta," kata Buwas saat menghadiri rapat kerja tersebut.

Menurut Buwas, alasan lain dari ekspor ini adalah soal kapasitas gudang Bulog yang hanya menampung 3,6 juta ton. Kalau dipaksakan, maka hasilnya bisa merusak beras secara perlahan. Untuk itu, ekspor merupakan langkah tepat untuk efisiensi dan menjamin pengawasan.

"Jadi, untuk mengawasi kelebihan itu, saya bekerja sama dengan beberapa menteri, termasuk menteri pertanian. Kita harus berupaya ekspor beras ke beberapa negera. Sudah kita petakan dan kita juga sudah membangun komunikasi, ternyata mereka juga membutuhkan beras," katanya.

Meski demikian, Buwas mengaku belum bisa menjelaskan secara detail berapa total ekspor yang akan berlangsung nantinya. Kemungkinan besar, tahap awal yang akan dikirim sekitar kurang lebih 100 ribu ton.

"Kita lihat perkembanganya nanti, yang pasti bagaimana caranya supaya petani tidak dirugikan. Artinya di saat gabah harganya tinggi, petani juga harus bisa jual dengan nilai jual yang tinggi. Di saat panen raya harus kita serap. Intinya kita berprinsip petani harus untung dan jangan dirugikan," katanya.

Buwas juga menyatakan sangat hati-hati dalam menjalankan fungsi impor. Untuk komoditas jagung, ia menyampaikan Bulog mengimpor berdasarkan pesanan dan kebutuhan pengguna. "Kami tidak menjualnya di pasar bebas dan sangat selektif dalam pendistribusiannya. Bulog tidak ingin impor yang dilakukan merugikan petani jagung," ujarnya. (591)

Agro Pilihan