Impor Jagung Tahun 2018 Dilakukan untuk Kebutuhan Industri

Rabu, 23 Januari 2019, 05:25 WIB

Pada puncak masa panen antara bulan Maret dan April dipastikan produksi jagung akan melimpah. | Sumber Foto: Kementan

AGRONET -- Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang Sugiharto, memastikan impor jagung 730.918 ton pada tahun 2018 adalah untuk bahan baku industri makanan dan minuman, gluten dan sweetener, bukan untuk pakan ternak. Selain impor, pada tahun 2018 Indonesia mengekspor jagung total 341 ribu ton.

"Penting untuk menjadi catatan kita semua, bahwa empat tahun lalu, Indonesia impor jagung 3,5 juta ton dengan nilai Rp10 triliun. Kemudian 2016 impor menurun drastis hingga 2017 tidak ada impor jagung pakan ternak. Pada 2018 kita ekspor 341 ribu ton. Artinya tahun lalu produksi jagung surplus," ujarnya di Jakarta, Senin (21/1).

Sesuai Permendag 21 tahun 2018, bahwa importasi jagung untuk pakan ternak diputuskan melalui rapat koordinasi bidang perekonomian dan proses impor melalui penugasan kepada BUMN. Pada 2018 diputuskan impor jagung pakan ternak 100 ribu ton dengan realisasinya pada akhir 2018 sebesar 73 ribu ton dan sisanya direalisasikan pada awal 2019.

“Artinya impor jagung pakan ternak di tahun 2018 itu hanya 73 ribu ton, realisasi impornya dilakukan Bulog. Selebihnya jagung untuk kebutuhan industri. Mekanisme importasi jagung pakan ternak memang berbeda dengan impor jagung pangan dan industri,” kata Bambang.

“Impor jagung pakan ternak 73 ribu ton ini pun disediakan Pemerintah untuk berjaga-jaga. Bagi peternak yang setiap saat membutuhkan tinggal membeli ke Bulog. Namanya sebagai cadangan, ya dijadikan stok saja bila tidak dipakai,” tambahnya.

Terkait impor jagung berupa gluten dan sweetener, Bambang menyebutkan, seiring dengan perkembangan industri dalam negeri, rata-rata impor jagung jenis ini mencapai 500-700 ribu ton per tahun. Jenis jagung industri berbeda dengan jagung pakan ternak.

Jagung untuk industri sebagian besar juga diproses wet milling menjadi bahan pangan dan bahan industri lainnya untuk kemudian juga diekspor sehingga ada nilai tambah. “Ke depan jenis jagung untuk industri ini dengan varietas benih dan teknologi tertentu dapat kita produksi sendiri,” sebutnya.

Lebih lanjut, Bambang menambahkan, pada bulan Januari 2019 beberapa daerah sentra produksi tengah memasuki musim panen jagung yang akan berlangsung hingga April. Pada puncak panen, yakni Maret dan April, dipastikan produksi melimpah. 

Untuk melindungi petani pemerintah akan mengekspor jagung petani. “Jadi pada saat musim panen, kita ekspor jagung. Ini penting agar harga tetap stabil dan menguntungkan petani,” pungkasnya. (591)

Agro Pilihan