Waspadai, Ulat Amerika Serang Indonesia

Jumat, 08 Pebruari 2019, 15:42 WIB

Waspadai Spidoptera frugiperda | Sumber Foto:Dok FAO

AGRONET -- Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian dihimbau untuk mewaspadai potensi masuknya hama ulat grayak jenis baru yang disebut "Fall Armyworm" ke Indonesia.

Pakar Hama dan Penyakit Tumbuhan dari IPB, Idham Sakti Harahap menyebut ada ancaman dari hama ulat spodoptera frugiperda yang berasal dari AS. Kerusakan akibat hama ulat itu jauh lebih besar daripada hama ulat yang sudah ada di Indonesia. Jenis Spodoptera frugiperda menyerang tanaman pangan seperti jagung, padi, dan gandum.

"Hama ini sudah mewabah di Myanmar, India, Thailand, dan Filipina. Jika tidak diantisipasi sejak dini, tinggal selangkah lagi dari negara tetangga ke Indonesia melalui Sulawesi," kata Idham saat diskusi nasional Fall Armyworm on Corn a Threat to Food Seceruty in Asia Pacific Region yang diselenggarakan Corteva di Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/2/2019).

Idham menjelaskan, penyebaran hama ulat spodoptera frugiperda bisa melalui perdagangan sayur-mayur, buah-buahan antarnegara. Apalagi, ulat Spodoptera frugiperda ini sangat cocok hidup dan berkembang biak di Indonesia dengan iklim tropis

"Pada tahun 2016 mewabah di Benua Amerika, kemudian masuk  Benua  Afrika tahun  2017  dan menyebar di  wilayah Asia hingga masuk ke Thailand pada tahun 2018," ujarnya.

Dikatakannya, hama ini termasuk  yang sulit dikendalikan, karena  imagonya cepat menyebar, bahkan termasuk penerbang kuat yang dapat mencapai jarak cukup jauh dalam satu minggu, bahkan dengan bantuan angin bisa mencapai 100 km.

Sebelumnya, pada tahun 2017, hama tersebut menyebar hampir ke semua negara yang menanam jagung seperti di Afrika dan Afrika Selatan. Kini, hama tersebut sudah menyebar di negara tropika dan subtropika, seperti Brasil dan Amerika Selatan, di  Asia sendiri sudah masuk ke Yaman, India, Myanmar dan Thailand.

Mengingat banyak produk pertanian masuk ke Indonesia, Idham mengingatkan kemungkinan hama tersebut masuk terbawa produk sayuran yang diimpor dalam bentuk larva. 

"Ini patut kita waspadai dan kita harus mulai mengawasi produk pertanian impor. Kementerian Pertanian terutama karantina harus memperketat pengawasan terhadap produk yang masuk," ujarnya. 

Brazil sendiri mempunyai pengalaman pahit dalam mengendalikan hama ulat yang bergerak secara masif seperti pasukan tentara tersebut.  

Bahkan, Brazil harus mengeluarkan biaya hingga 600 juta dolar AS. Sementara itu di negara-negara Afrika yang juga terserang hama tersebut bukan hanya menurunkan produksi jagung, tapi juga menurunkan pemasaran dan perdagangan internasional. 

Sementara itu, peneliti Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB lainnya, Dewi Sartiami mengungkapkan, untuk mengendalikan hama tersebut bukan hanya media pembawa yang diwaspadai, tapi juga ada kemungkinan manusia yang membawanya, terutama yang bepergian ke wilayah yang sedang mewabah Spidoptera frugiperda.

"Jangan sampai Spidoptera frugiperda sampai invansif di Indonesia. Kasus rusaknya tanaman jagung di Papua yang mencapai 500 ha secara cepat dan serempak harus kita waspadai," tegasnya.

Kepala Balai Penelitian Serealia Balitbangtan, Maros, M. Azrai menegaskan, hingga kini pihaknya mengakui belum ada laporan tanaman jagung yang terserang hama Spidoptera frugiperda.  

Dia menyatakan hama  yang selama  ini  ada yakni penggerek batang, penggerek tongkol, aphis, belalang kembar, sedangkan ulat grayak yang menyerang tanaman jagung memang dari jenis sudah adadi Indonesia yakni Spidoptera lituran dan exigua (234)

Agro Pilihan