Ekspor Kunyit Menjanjikan. Petani Garut Bergairah

Jumat, 08 Pebruari 2019, 16:19 WIB

Permintaan kunyit semakin besar, termasuk untuk ekspor. | Sumber Foto:Dok Humas Hortikultura

AGRONET --  Produksi kunyit tumbuh signifikan, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Prihasto Setyanto menjelaskan bahwa pertumbuhan produksi kunyit periode 2013 - 2017 sebesar 2 persen per tahunnya yaitu 120.726 ton (2013), 112.088 ton (2014), 113.101 ton (2015), 107.770 ton (2016) dan 128.339 ton (2017).

Produksi kunyit juga diekspor ke India dan Timur Tengah, dengan angka pertumbuhan rata-rata 20 persen. Volume ekspor berturut-turut sebesar 1.947 ton, 3.808 ton, 8.670 ton, 7.464 ton dan 7.795 ton. 

“Pengembangan tanaman obat ini harus dilakukan karena dibutuhkan sebagai bahan baku untuk jamu dan fitofarmaka. Apalagi, pemanfaatan obat tradisonal untuk peningkatan kesehatan masyarakat sedang digalakan oleh pemerintah,” kata Prihasto.

Seperti diketahui, fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena diproduksi dengan standar tertentu. Optimalisasi tanaman obat tersebut diantaranya didorong dengan Inpres Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Tindak lanjut Inpres itu dengan pengembangan obat tradisonal (fitofarmaka) setara dengan obat konvesional yang dapat diresepkan oleh dokter. Jenis fitofarmaka yang akan dikembangkan salah satunya menggunakan bahan baku dari kunyit.

Dalam pengembangan tanaman obat itu, Ditjen Hortikultura bersinergi dengan beberapa instansi terkait seperti dinas pertanian (provinsi/kabupaten/kota), lembaga penelitian, kementerian terkait, perguruan tinggi, pelaku usaha serta asosiasi terkait.

Adapun dukungan Kementan sebagai penyedia bahan baku dengan mengalokasikan pengembangan tanaman obat (jahe kunyit, temulawak, kapulaga, lidah buaya dan buah merah) seluas 400 hektare (ha) di daerah sentra dan kawasan perbatasan.

Untuk kunyit sendiri dialokasikan di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Garut, tepatnya di Kecamatan Selaawi yang tersebar di tiga desa yaitu Selaawi, Mekarsari, dan Cirapuhan.

"Kunyit asal Garut ini disukai oleh pembeli karena ukuran umbinya besar dan warna dagingnya kuning cerah, sehingga kunyit dari daerah ini selalu ditunggu-tunggu oleh pedagang di pasar Kramatjati," tutur ketua Kelompok Tani Selaawi, Sopandi.

Untuk diketahui, sentra kunyit di Garut sendiri tersebar di tiga desa yaitu desa Selaawi, Mekarsari dan Cirapuhan. Dari analisa usaha tani, BEP produksi kunyit di Selaawi sebesar Rp 1.500 per kg dan harga jual di tingkat petani sebesar Rp 3.500 - 4.000 per kg. Margin berkisar Rp 2.000 - 2.500 per kg membuat petani sangat bergairah menanam kunyit. 

Dia menambahkan, produktivitas kunyit di Selaawi saat ini masih rendah yaitu sebesar 15 ton/ha. Padahal, potensi optimalnya sebesar 30 ton/ha. Hal tersebut dikarenakan petani belum sepenuhnya menerapkan budidaya dengan baik. Namun dengan melihat peluang permintaan kunyit yang semakin besar dan adanya permintaan untuk ekspor simplisia, maka petani akan berupaya menerapkan produktivitas kunyit dengan menerapkan budidaya yang baik. 

Didin, Kepala Seksi Sayuran dan Tanaman Obat Dinas Petanian Kabupaten Garut, menuturkan Kondisi kecamatan Selaawi di ketinggian menengah membuat tanah berwarna merah dan gembur. "Di sana tidak terdapat jaringan irigasi. Lahan hanya cocok ditanami jagung, singkong dan padi gogo yang hasilnya tidak seberapa," tuturnya.

Petani mulai mencoba menanam kunyit sejak 1995, baik monokultur maupun tumpangsari dengan jagung. Ternyata pendapatan dari menanam kunyit lebih menjanjikan. Inilah faktor penarik sehingga pertanaman kunyit terus berkembang sehingga saat ini mencapai luas 300 ha. (234)