Wonogiri Panen Jagung di Lahan Berbatu

Selasa, 12 Pebruari 2019, 15:01 WIB

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, menghadiri panen jagung. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Lahan pertanian Provinsi Jawa Tengah saat ini memasuki panen raya jagung. Tercatat, pada Februari 2019, seluas panen mencapai 145 ribu hektare (ha) dan Maret 48 ribu ha, terutama di Grobogan, Blora, Wonogiri, dan lainnya. 

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, mengapresiasi keberhasilan petani yang mampu memanfaatkan lahan pertanian yang relatif tandus ini untuk bisa ditanami jagung secara optimal. Pasalnya, lahan yang ditanami jagung sebelumnya berupa batu padas, kemudian dilakukan reklamasi dengan menambahkan tanah subur yang dibeli dari daerah lain.

"Saya sangat bahagia hari ini karena petani di Desa Watangrejo ternyata mampu memanfaatkan tanah pertanian yang relatif tandus ini untuk bisa ditanami dengan optimal. Ke depannya agar petani tetap mengusahakan lahannya dengan baik dengan cara menggunakan pupuk organik,” ujarnya, Selasa (12/2).

Terkait usulan petani yang meminta bantuan cultivator dan alat pemipil jagung, Suwandi menjelaskan, agar usulan tersebut melalui Dinas Pertanian Kabupaten untuk diusulkan ke Kementan sesuai prosedur. Pada kesempatan itu, Suwandi membagikan bantuan gratis benih sayuran kepada petani seperti cabai, timun, dan jagung manis. Ia pun meminta ke peternak agar mengambil jagung dari petani di Jateng dan Jatim yang saat ini sedang banjir jagung.

Lebih rinci, Suwandi menjelaskan pada tahun 2015 Indonesia impor jagung 3,5 juta ton setara Rp10 triliun. Namun demikian, berkat program Kementan di bawah komando Mentan Andi Amran Sulaiman bisa menekan impor sehingga 2016 impor turun drastis dan 2017 tidak ada impor jagung pakan ternak. Bahkan, lanjutnya, di tahun 2018 Indonesia sudah ekspor jagung yang totalnya 341 ribu ton.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri, Sapuan, menjelasakan luas panen jagung Wonogiri pada Februari 2019 mencapai 37.000 ha. Di antaranya di Kecamatan Pracimantoro 5.874 ha, dan saat ini di Desa Watangrejo panen 453 ha. Produktivitas 7,3 ton per  ha. Menurutnya, pada umumnya di daerah pegunungan lahan kering ini petani tanam tumpang sari, yakni padi-jagung-singkong, jagung-singkong-kacang tanah, dan lainnya. Bahkan tanaman salip-salipan belum dipanen sudah disusul tanam berikutnya.

"Wilayah sini kebanyakan lahan berbatu tandus dan diurug tanah untuk ditanami. Walaupun mengandalkan air dari hujan, tapi lahan dimanfaatkan optimal, tidak ada lahan yang tidak ditanami, pekarangan rumah pun ditanami buah dan sayuran,” jelasnya.

Sementara itu, Giman, Ketua Kelompok tani Sidorejo, Desa Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro, mengatakan saat ini harga jagung di petani mencapai Rp4.200 per kg pipilan kering. Harga ini sudah turun dibanding minggu lalu Rp4.500 sampai Rp4.700 per kg pipilan kering. Sedangkan harga di pasar Rp5.200 per kilogram. Kadar air jagung yang habis dipanen adalah 27 persen. (591)