Mobile Corn Dryer, Solusi Pascapanen Jagung

Selasa, 19 Pebruari 2019, 17:20 WIB

Mobile Corn Dryer. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan.

AGRONET -- Salah satu solusi dalam pengelolaan jagung pascapanen adalah penggunaan mesin pengering jagung yang bersifat mobile, terutama di sentra produksi jagung yang jauh dari pabrik pakan. Kementerian Pertanian bekerjasama dengan PT. Charoen Pokphand Indonesia memperkenalkan penggunaan mobile corn dryer (MCD), yaitu peralatan pengeringan jagung yang dapat dipindahkan secara mudah. Solusi ini diharapkan dapat memecahkan persoalan kadar air pada jagung sehingga pertumbuhan jamur aflatoksin dapat dikendalikan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, Senin (18/2) menjelaskan mobile corn dryer merupakan hasil karya anak bangsa. Dia mengharapkan ini menjadi solusi dalam mengatasi masalah pascapanen jagung yang selama ini selalu dihadapi oleh petani saat menjual hasil produksinya.

Sementara itu, Eka Budiman, dari PT. Charoen Phokphand, Jawa Tengah, mengatakan pihaknya telah menyediakan dua mobile corn dryer (MCD) untuk membantu petani mengeringkan jagungnya. Menurutnya, kelebihan penggunaan MCD ini adalah dapat meningkatkan waktu simpan setelah dikeringkan, melancarkan tata niaga, mendapatkan kualitas lebih baik, dan pada akhirnya petani dapat menikmati harga yang lebih baik  dari jagung berkadar air lebih rendah.

Prototipe ini sudah dilakukan uji coba lapangan perdana pada panen jagung di Lampung Selatan pada 29 Agustus 2018. Selanjutnya pada 15 Februari 2019 kembali dilakukan uji coba lapangan pada acara panen raya jagung di Tuban. Berikutnya akan terus dilakukan uji coba secara berkala di beberapa sentra produksi jagung untuk memberikan bukti implementasi nyata atas kegunaan dari MCD. "Jika ada petani yang kesulitan menjual hasil panennya, dapat langsung menghubungi kami, dan akan kami bantu menyerapnya," kata Eka.

Erno, petani jagung, yang hadir di acara tersebut berharap MDC ini bisa diperbantukan di Kabupaten Blora selama 1 bulan selama musim panen. Ia juga berharap, limbah hasil pertanian jagung (tebon) di wilayahnya juga dapat dimanfaatkan oleh peternak untuk pakan ternak. Di samping itu, selama ini mereka juga telah memanfaatkan kotoran ayam sebagai pupuk organik yang dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik. (591)