Pascatsunami Selat Sunda

Serahkan Bantuan, Kementerian KKP Berharap Ekonomi di Pandeglang Meningkat

Sabtu, 23 Pebruari 2019, 13:35 WIB

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto (baju orange), saat menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak tsunami di Kampung Mataram, Pandeglang. | Sumber Foto: AGRONET

AGRONET – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya meningkatkan kembali perekonomian masyarakat pascabencana tsunami di Selat Sunda, Banten, beberapa waktu lalu. Khususnya, kepada para pembudi daya sektor perikanan agar dapat kembali beraktivitas meningkatkan usahanya sehingga perekonomian dan kesejahteraan masyarakat meningkat lebih baik.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Slamet Soebjakto, saat menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak tsunami di Kampung Mataram, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kab. Pandeglang, Banten, Jumat (22/2). Pada kesempatan itu, Slamet langsung menyerahkan bantuan secara simbolis kepada masyarakat berupa benih ikan lele dan nila sebanyak 35 ribu ekor, pakan ikan sekitar 1,2 ton, dan paket sembako, kepada 45 rumah tangga. Total bantuan secara keseluruhan untuk Kabupaten Pandeglang sekitar 1,5 juta benih ikan lele dan nila, serta 10-15 ton pakan ikan (pelet).

Hadir dalam kegiatan penyerahan bantuan, antara lain Kepala Balai dalam Lingkup Ditjen Perikanan Budidaya seluruh Indonesia dan Kepala Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, Yayan Sofyan. Turut hadir Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang, Wowon Dirman, unsur Muspida, Koramil, dan tokoh masyarakat.

Slamet mengatakan bantuan kepada masyarakat ini untuk memberi motivasi dan semangat serta meringankan beban masyarakat pascabencana tsunami agar kembali giat untuk beraktivitas, khususnya di sektor budi daya perikanan. “Kami berharap dengan bantuan ini masyarakat di Kampung Mataram dan Pandeglang umumnya bersemangat kembali dalam budi daya perikanan agar perekonomian dan kesejahteraan masyarakat tumbuh dan meningkat,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Slamet menjelaskan, pasar permintaan ikan budi daya dalam negeri meningkat cukup pesat. Tingkat konsumsi terus tumbuh dan semakin besar. Bahkan, ujarnya, produksi perikanan budi daya saat ini sudah menembus pasar ekspor ke mancanegara. Hal ini menjadi peluang usaha bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha perikanan. Di samping itu, masyarakat tidak perlu kuatir terhadap pasar penjualan perikanan budi daya.

Untuk itu, guna meningkatkan usaha perikanan budi daya di Kab. Pandeglang, Slamet mendorong agar masyarakat membentuk koperasi atau kelompok-kelompok pembudi daya agar lebih kuat dan terorganisir sehingga pengelolaanya dapat berjalan lebih baik. Melalui koperasi atau kelompok pembudi daya, masyarakat akan lebih mudah mengakses berbagi program bantuan dan pembinaan dari pemerintah.

Selain itu,kata Slamet, masyarakat juga akan didampingi oleh para penyuluh perikanan di lapangan. Penyuluh akan membantu dan membimbing para pembudi daya dalam pengembangkan usahanya. “Kepada dinas terkait agar dapat mendorong pembentukan kelompok-kelompok pembudi daya perikanan. Dengan adanya koperasi dan kelompok itu, dinas perikanan dan dinas terkait agar dapat mengajukan program bantuan. Jadi ke depan dapat dipertimbangkan berbagai bantuan, seperti alat escavator, mesin pakan, teknologi budi daya, dan kolam bioflok,” tambahnya.

Usai penyerahan bantuan, Slamet dan rombongan meninjau kolam ikan masyarakat yang sudah siap ditebar benih lele dan nila. Dia pun memberikan arahan dan meminta agar akses jalan menuju kolam tanah diperbaiki dan kolam-kolam gar dirapikan baik dari luas maupun kedalamannya.

Pada kesempatan itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang, Wowon Dirman, mengatakan di Pandeglang ada lebih dari 2.000 orang pembudi daya, seperti pembudi daya lele, nila, udang, kerapu, dan kerang hijau. Sementara sebaran wilayah yang potensial untuk budi daya perikanan tersebar pada 18 desa di 7 kecamatan. Seperti di Kecamatan Sumur dan Panimbang yang potensial dalam budi daya kerang hijau. “Bantuan dari Ditjen Budidaya Perikanan KKP akan kita maksimalkan, seperti nantinya akan ada lagi bantuan berupa bibit gurami, bawal bintang, udang, serta budi daya rumput laut,” ujarnya. 

Sementara itu, Ade Nawawi (41), salah seorang masyarakat yang terkena dampak tsunami di Pandeglang mengatakan, sebelumnya ia sempat mengalami kerugian, empat kolam ikan miliknya yang siap panen terkena dampak tsunami. Namun kini ia sudah membangun kembali 6 kolam ikan. Bantuan ini, katanya, membuat ia termotivasi untuk giat berusaha budi daya perikanan. “Kami mengucapkan terima kasih dan tetap berharap ke depan pemerintah terus membimbing dan membina kami, sehingga perekonomian masyarakat meningkat dan sejahtera,” sebutnya.

Terkait pemasaran pascapanen, Ade mengatakan selama ini berjalan lancar. “Alhamdulillah, pembelinya selalu ada. Kalau diborong, harga lele sekitar Rp18 ribu per kilogram. Sementara di pasaran harga lele atau nila berkisar kurang lebih Rp25.000 per kilogram,” tukasnya. (591)