OKU Selatan Didorong Jadi Daerah Lumbung Jagung

Minggu, 24 Pebruari 2019, 14:15 WIB

Panen raya jagung di OKU Selatan. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produksi jagung nasional. Salah satunya di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan sebagai salah satu sentra produksi jagung di Provinsi Sumatera Selatan.

Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prihasto Setyanto, mengatakan pada Februari 2019, Kabupaten OKU Selatan sudah panen jagung seluas 7.380 hektare (ha). Luas panen jagung tersebar di 19 kecamatan, antara lain Kecamatan Buana Pemaca dan Buay Pemaca yang merupakan wilayah terluas dan tertinggi produksi jagungnya di Sumatera Selatan.

"Potensi panen jagung sampai bulan Maret sebesar 28.000 ha. Produktivitas jagung rata-rata 6,3-7 ton per ha,” ujar Prihasto, saat menghadiri acara panen raya jagung dengan Bupati OKU Selatan di Desa Gemiung, Kecamatan Buana Pemaca, Sabtu (24/2).

Melihat potensi lahan jagung yang cukup luas ini, Prihasto berharap, ke depan Kabupaten OKU selatan ini menjadi lumbung jagung di Sumatera Selatan. Untuk Sumatera Selatan sendiri luas panen pada Februari 2019 mencapai 14.866 ha, dan saat ini sudah memasuki masa panen raya.

Sementara itu, panen jagung di sejumlah sentra produksi diperkirakan berlangsung selama dua bulan ke depan. Panen ini diharapkan mampu diserap oleh Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) secara maksimal. Langkah penyerapan perlu dilakukan supaya kondisi harga tetap stabil.

Sentra produksi yang sedang panen ini, antara lain daerah Tanah Karo, Simalungun, Lampung Timur, Gorontalo, Tanah Laut, Pandeglang, Grobogan, Blora, Bojonegoro, dan Tuban. Kemudian, Lamongan, Sragen, Wonogiri, Boyolali, Bone, Jeneponto, Bolmong, dan Minahasa Selatan. 

Seperti dilansir oleh Kementan (23/2), sebagian besar sentra produksi jagung menunjukkan harga pipilan kering kadar air 15-17 persen menurun signifikan dari Rp5.400 per kg menjadi Rp3.650 per kg. Namun, harga tersebut akan kembali naik sesuai kualitas.

Terkait anjloknya harga, upaya yang sedang dilakukan Kementan adalah turun langsung ke lapangan. Selain itu juga meminta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) agar terus memaksimalkan mesin pengering/dryer bantuan pemerintah sehingga jagung hasil panen dapat disimpan 2-3 bulan ke depan. 

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Gatot Irianto, mengatakan terkait harga jagung, managemen pascapanen dan pengolahan hasil juga perlu direspon Perum Bulog, mulai dari penyerapan saat panen, pengolahan, penyimpanan, hingga pemasaran jagung. "Melalui cara ini, harga jagung akan stabil. Saya juga mendapat kabar GPMT mau berkomitmen akan menyerap jagung dari petani hingga 1 juta ton per bulan secara cepat," katanya. (591)