Generasi Milenial Berpotensi Kembangkan Peternakan

Minggu, 03 Maret 2019, 09:23 WIB

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, bersama mahasiswa peternakan Polbangtan di Magelang. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Dalam upaya mewujudkan swasembada protein hewani, dibutuhkan sumber daya manusia yang andal. Untuk itu Kementerian Pertanian mendorong mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) setelah lulus kuliah menjadi penyuluh yang dapat mencerdaskan peternak di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, saat menjadi narasumber utama dalam kuliah umum mahasiswa peternakan Polbangtan di Magelang, Jawa Tengah (1/3). Ia mengharapkan agar mahasiswa sebagai generasi penerus diharapkan ke depan ikut serta membangun bangsa yang mandiri dalam hal ketersediaan protein hewani. "Tugas kalian nantinya adalah mencerdaskan peternak kita, bagikan ilmu kalian kepada mereka," imbaunya.

I Ketut mengatakan Indonesia mempunyai mimpi menjadi lumbung pangan Asia untuk daging sapi pada tahun 2045. "Untuk mempersiapkannnya mau tidak mau kita harus kerja keras. Generasi muda harus mempunyai tekat yang kuat dan tangguh untuk memajukan peternakan. Terutama mahasiswa Polbangtan jurusan peternakan, untuk menuju Indonesia lumbung pangan," ujarnya.

Terkait dengan penyediaan protein hewani di Indonesia, I Ketut menjelaskan  pemerintah telah membuat program terobosan, yaitu upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus Siwab), penambahan sapi indukan impor, peningkatan status kesehatan hewan melalui pengendaluan penyakit, dan penjaminan keamanan pangan asal ternak. Sementara program pendukung, yakni skim pembiayaan, investasi, dan asuransi ternak, serta peningkatan kualitas bibit ternak melalui introduksi pengembangan sapi belgian blue, galacian blonde, dan sapi wagyu.

Dia merinci sejak diluncurkan pada bulan Oktober 2016 lalu, program Upsus Siwab  dinilai sukses. Hal ini terlihat dari pelayanan inseminasi buatan (IB) dari Januari 2017-31 Desember 2018 telah terealisasi 7.964.131 ekor. Kelahiran pedet mencapai 2.743.902 ekor atau setara Rp21,95 triliun dengan asumsi harga satu pedet lepas sapih sebesar Rp8 juta per ekor. Nilai yang sangat fantastis mengingat investasi program Upsus Siwab pada 2017 sebesar Rp1,41 triliun, sehingga ada kenaikan nilai tambah di peternak sebesar Rp20,54 triliun.

Selain itu, Upsus Siwab juga berdampak terhadap penurunan pemotongan betina produktif melalui kerja sama dengan Baharkam Polri. Hasilnya mampu menekan angka pemotongan betina produktif mencapai 12.209 ekor pada tahun 2018 secara nasional atau mencapai 47,10% penurunan jika dibandingkan dengan pemotongan tahun 2017.

"Esensi Upsus Siwab mampu mengubah pola pikir petani/peternak yang cara beternaknya selama ini masih bersifat sambilan. Sekarang diarahkan ke praktik beternak yang menuju ke arah profit dan menguntungkan bagi peternak,” katanya.

"Kalian semua nantinya setelah lulus harus mampu membangun kampung halamannya, besarkan peternakan di daerah kalian karena sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat buat orang lain. Kalian semua ini adalah generasi milenial penerus bangsa yang diharapkan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih maju lagi," pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, I Ketut Diarmita juga mengunjungi sapi belgian blue yang saat ini juga dikembangkan oleh Polbangtan Magelang. Berat sapi tersebut mencapai 140 kg dengan umur baru 4 bulan. (591)