Kementan Tuan Rumah Pertemuan Penanggulangan Rabies

Minggu, 10 Maret 2019, 10:48 WIB

Peserta pertemuan Rabies Risk Assessment Workshop di Denpasar, Bali. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Kementerian Pertanian bersama Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dengan dukungan dari Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air Australia mengadakan Rabies Risk Assessment Workshop di Denpasar, Bali, tanggal 6 - 8 Maret 2019. Hadir sebagai peserta dari negara kepulauan di Asia Tenggara, Timor Leste, dan Papua New Guinea. Indonesia diwakili oleh Direkturoat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) dan perwakilan dari wilayah tertular, yaitu Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Dalam kegiatan ini dilakukan kaji ulang tentang status penyakit rabies di suatu wilayah, menguraikan tentang pergerakan anjing,  dan identifikasi jalur risiko yang berpengaruh terhadap penyebaran. Hal ini untuk mendapatkan rekomendasi tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit.

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, mengatakan Indonesia memiliki 8 provinsi bebas rabies, yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua dan Papua Barat. Pada awal tahun 2019 ini, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sebelumnya bebas rabies. Tapi kini dilaporkan tertular rabies karena adanya lalu lintas hewan tertular.

Adanya penambahan wilayah tertular tersebut menjadi tantangan dalam mencapai target bebas rabies di Indonesia pada tahun 2030. "Ditjen PKH beserta pemerintah daerah  telah melaksanakan berbagai upaya pengendalian antara lain, surveilans, vaksinasi, pengendalian populasi, pengawasan lalu lintas, serta penambahan dan pelatihan sumber daya manusia. Melakukan kerja sama lintas sektor dengan Kementerian terkait, khususnya dalam pelaksanaan tata laksana kasus gigitan secara terpadu (TAKGIT),” Jelasnya.

I Ketut menambahkan sebagai upaya memaksimalkan pengendalian rabies, perlu dilakukan kajian dan  identifikasi faktor utama yang menyebabkan penyebaran penyakit. Kemudian tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi dan mengurangi  risiko penyebarannya.

Michael Ward dari Sydney University, sebagai salah satu fasilitator, menyampaikan bahwa risk assessment yang didiskusikan dalam kegiatan ini merupakan metode yang cukup praktis dan berbasis ilmiah. Diharapkan agar digunakan sebagai alat untuk mempermudah penilaian risiko penyebaran antar negara dan wilayah, serta memberikan masukkan untuk strategi pengendalian. (591)