Harus Bersinergi untuk Stabilkan Harga Kentang

Sabtu, 16 Maret 2019, 06:23 WIB

Dirjen Holtikultura, Kementerian Pertanian, Suwandi, dalam acara pengembangan kentang dalam rangka stabilisasi harga. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Faktor utama pembentuk harga usaha pertanian antara lain sistem produksi, logistik, distribusi, tata niaga, struktur, dan perilaku pasar. Untuk itu perlu perbaikan sistem untuk meningkatkan daya saing dan menjaga harga tetap optimal.

Hal itu disampaikan Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Suwandi, dalam acara pengembangan kentang dalam rangka stabilisasi harga. Kegiatan dilaksanakan di Balai Benih Kentang, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (15/3).

"Petani kentang di daerah lain bisa memproduksi 17 sampai 22 ton per hektare dengan biaya Rp40-60 juta per hektare. Harga juga bagus kisaran Rp7.000 per kg. Ini salah satu contoh bertani efisien," tegasnya.

Caranya, kata Suwandi, dengan menerapkan budi daya ramah lingkungan, mengurangi penggunaan pestisida, dan pupuk kimia. Petani harus mulai membuat sendiri pestisida hayati dan pupuk organik. Bahkan bertani tidak harus monokultur, tetapi tumpangsari, dan ada rotasi antar tanaman. "Kelembagaan petani juga diperkuat dan naik kelas dari kelompok tani menjadi koperasi, badan usaha milik pertanian, atau sejenisnya," ucap Suwandi.

Menurutnya, koperasi dapat  melayani input benih dan lainnya secara kolektif sehingga efisien, dan dapat mengakses kredit dan asuransi. Koperasi juga perlu mengembangkan industri olahan seperti kentang skala rumah tangga dan kecil, bermitra dengan industri, eksportir, pelaku usaha, dan supermarket. "Dengan demikian penjualan satu pintu oleh koperasi, sehingga petani bersatu, posisi tawarnya menjadi kuat. Jangan jalan sendiri-sendiri," ujarnya.

Selain itu, dia meminta agar sistem transaksi kentang di pasar Pangalengan ditata rapih, bersinergi dengan pedagang untuk membentuk pasar lelang. “Pasar lelang sayuran bermanfaat bagi petani agar memperoleh harga tertinggi dari penawar yang ada, serta dapat memotong rantai pasok," paparnya.

Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, Uung Gumilang, menuturkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas, petani harus berbudidaya secara baik. Petani melakukan penerapan good agricultural practices (GAP) dan pascapanen yang baik atau good handling practices (GHP).

Petani yang sudah menerapkan GAP, lahannya dapat diregistrasi. Apabila memenuhi syarat dapat disertifikasi menjadi Prima 3. "Cara pandang melakukan budi daya juga harus diubah dari menjual apa yang diproduksi, menjadi memproduksi apa yang dibutuhkan pasar,” pungkasnya. (591)