Sinkronisasi Program Kementan di Pangkep, Tingkatkan Ekspor

Rabu, 10 April 2019, 08:37 WIB

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat hadir di acara Apresiasi dan Singkronisasi Program Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2019 di Lapangan Andi Mappe, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Selasa (9/4). | Sumber Foto:Dok Kementan

AGRONET --  Sebanyak 15 ribu peserta dari empat kabupaten yakni Kabupaten Pangkep, Barru, Maros dan Pare-Pare terlihat semarak dan sangat antusias mengikuti pertemuan Apresiasi dan Singkronisasi Program Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2019 di Lapangan Andi Mappe, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Selasa (9/4). Peserta tersebut terdiri dari petani, santri tani milenial, Gerakan Petani Muda Indonesia (Gempita), penyuluh dan pendamping desa.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman hadir dalam dialog dengan para petani dan stakehokder pertanian, serta memberikan bantuan langsung. Mentan memberikan bantuan kepada petani senilai Rp 34,54 miliar. Mentan Amran pun melepas ekspor umbi porong 50 ton ke Vietnam dan palm kernel sebanyak 313 ton senilai Rp 804 juta ke Malaysia.

"Kami bawa bantuan hari ini untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menurunkan angka kemiskinan. Kami datang bukan bawa janji, tapi bawa bantuan," demikian dikemukakan Mentan Amran dihadapan petani.

Amran menyebutkan selama tahun 2014 sampai dengan hari ini, pemerintah telah menggelontorkan bantuan sektor pertanian dan pedesaan di Provinsi Sulawesi Selatan senilai Rp 15 triliun. Bantuan tersebut di antaranya pembangunan bendungan senilai Rp 3 triliun, irigasi tersier termasuk di Kabupaten Pangkep seluas 350 ribu ha yang terbesar sepanjang sejarah, alat mesin pertanian, ternak, dan pendampingan petani.

Amran menegaskan komitmennya selama ditakdirkan menjadi menteri pertanian yakni dengan menjalankan kebijakan strategis. Bersama pihak kepolisian, mafia tidak diberikan diruang di Kementan. Di pemerintahan Jokowi-JK terdapat 786 mafia pangan, kemudian diproses hukum sehingga masuk menjadi tersangka sebanyak 409. 

"Khusus Mafia pangan ini, kami tindak tidak ada kompromi yang mempermainkan ekspor, impor, harga, dan nasib rakyat terkecil karena itu perintah Bapak Presiden Jokowi," tegasnya.

Mentan Amran mengatakan kinerja sektor pertanian selama empat tahun terlihat signifikan. Jika dulu volume ekspor hanya 33 juta ton, tapi hingga 2018 meningkat menjadi 42 juta ton. 

"Ini merupakan yang terbesar dalam sejarah. Kurang lebih akumulasi nilainya Rp 1.700 triliun. Jadi jangan impor yang 30 ribu ton terus yang dibahas. Tapi yang 10 juta ton terabaikan yang selama ini kita lakukan bersama petani," bebernya.

Terkait komoditas umbi porong atau masyarakat Sulawesi Selatan menyebutnya dengan "Siapa" yang diekspor hari ini,  Amran berkomitmen untuk mengembangkan dengan memberikan bantuan bibit unggul. Adapun volume yang diekspor hari ini mencapai 50 ton ke Vietnam, nilainya Rp 708,45 juta. Umbi porang ini masih berasal dari hutan, bukan hasil budidaya.

"Sejak kecil kami dibesarkan dengan makanan ini, rasanya pahit dan beracun kalau pengolahannya tidak tepat

Tapi ternyata makanan yang beracunpun bisa kita expor. Dan diterima di Jepang, Cina dan Vietnam. Insyaalah sekembali dari sini kami akan menyiapkan bantuan bibit, ini harus didorong karena ini aku tau hanya bisa diambil di hutan," bebernya.

Dari data otomasi IQFAST Badan Karantina Pertanian, tercatat ekspor porang tercatat tahun 2018 sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspornya mencapai Rp 11,31 miliar.

Selain melepas ekspor porang, Mentan Amran juga melepas ekspor komoditas unggulan lain yakni palm kernel sebanyak 313 ton atau sejumlah 15 kontainer. Komoditas ini diekspor dengan negara tujuan Malaysia senilai Rp. 804 juta. Palm kernel ini diambil dari petani di Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sumatera Selatan oleh PT JAS Mulia. 

"Pemerintah pusat melalui Kementan bersama pemerintah daerah akan terus mendorong ekspor komoditas pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani," tandas Amran.

Pada 2018, ekspor palm kernel dari Sulawesi Selatan mencapai nilai Rp 16,92 miliar, sedangkan pada 2019 hingga triwulan pertama nilai ekspornya Rp 10,29 miliar dengan negara tujuan Tiongkok dan Malaysia. 

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menambahkan ekspor dari Sulawesi Selatan tidak hanya umbi porang dan minyak inti sawit. Dari sistem data otomasi Badan Karantina Pertanian, tercatat beberapa komoditas unggulan ekspor lainnya yakni rumput laut, lada biji, kacang mede, kopi biji, kakao biji, kakao olahan, kacang hijau dan sarang burung walet. Dengan berbagai tujuan negara seperti Tiongkok, Australia, Belanda, India, Jepang, Inggris, Jerman, Turki, Korsel, Malaysia, Amerika Serikat dan Uruguai. 

"Nilai total ekspor yang dikirim dari Sulawesi Selatan selama tahun 2018 lebih dari Rp 33,92 triliun. Sedangkan hingga triwulan pertama pada tahun ini, ekspor yang berangkat dari Sulsel sudah mencapai nilai Rp 12,63 triliun," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Wakil Bupati Pangkep, Syahban Sammana mengapresiasi upaya pemerintah melalui Kementan yang terus mendorong investasi dan peningkatan ekspor dan bisnis dibidang pertanian di daerahnya. Kunjungan ini dipastikan dapat memberikan semangat para petani untuk memajukan sektor pertanian.

"Program Kementan diantaranya pembuatan embung, modernisasi pertanian, regenerasi petani dan bibit unggul sejalan dengan visi kami mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani," 

Adapun bantuan yang disalurkan Kementan hari ini terdiri dari berbagai benih komoditas pertanian seperti benih padi, jagung, kelapa 7 ribu batang, cabai, mangga 1.000 batang, sayuran, juga berbagai alat pertanian seperti combine harvester, power trhesher, corn sheller, traktor roda dua, serta ayam dan kambing. 

Selain benih dan alsintan, Kementan juga salurkan bantuan pendanaan senilai Rp 4,04 miliar kepada 47 poktan dalam empat program yang digalakkan Kementan.(234)