Pertama di Indonesia

LIPI Bangun Laboratorium Bioproduk Terintegrasi

Selasa, 16 April 2019, 10:41 WIB

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati, Plt. Kepala Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Dede Heri Yuli Yanto, pada kegiatan ground breaking pembangunan iLaB. | Sumber Foto: AGRONET.CO.ID

AGRONET -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membangun laboratorium bioproduk terintegrasi (Integrated Laboratory of Bioproducts, iLaB). Pembangunan diawali dengan ground breaking pemancangan tiang pertama iLaB pada Selasa, (16/4) di lokasi pembangunan, Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, kawasan Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat.

Hadir dalam ground breaking, Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati, Plt. Kepala Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Dede Heri Yuli Yanto, beserta jajaran pejabat LIPI, dan undangan stakeholder terkait. 

Laksana Tri Handoko dalam sambutannya mengatakan laboratorium bioproduk terintegrasi ini merupakan yang pertama di Indonesia. Menurutnya, keberadaan iLaB memiliki posisi yang sangat penting dan dapat berkontribusi secara nyata dalam pengembangan iptek dan sistem inovasi nasional.

Lebih jauh dijelaskannya, dengan potensi sekitar 200,5 juta hektare hutan dan area produktif lain, Indonesia mempunyai sumber daya hayati, seperti kayu, serat alam, bambu, tanaman perkebunan, dan hasil pertanian dalam jumlah yang melimpah dengan potensi ekonomi yang besar. Untuk  itu, kata Handoko,  guna mendukung kegiatan penelitian, pengembangan dan pengujian bioproduk berbasis sumber daya hayati itu perlu dibangun suatu sistem yang terintegrasi. 

Bioproduk merupakan material berbahan sumber daya hayati (bio-based material) yang diproses menjadi produk baru yang mempunyai nilai tambah dan ekonomi, seperti biokomposit, biopestisida, papan serat, perekat alam ramah lingkungan, bioetanol, dan lainnya. Melalui teknologi proses dan rekayasa bahan sumber daya hayati tersebut dapat dibuat menjadi berbagai bioproduk yang bernilai ekonomi. 

Handoko menjelaskan, konsep integrasi iLaB ini mencakup karakterisasi bahan baku bioproduk, proses pembuatan bioproduk, dan pengembangan metode uji bioproduk yang terstandarisasi. Selain itu juga untuk pengujian, sertifikasi mutu, keandalan, dan kehalalan bioproduk.

“iLaB membantu Indonesia dalam mengembangkan industri kreatif, membantu produk lokal untuk memenuhi standar mutu nasional maupun internasional. Juga memproteksi pasar domestik dari produk-produk impor yang tidak memenuhi standar di Indonesia,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati, mengungkapkan pembangunan iLaB beserta peralatan pendukungnya menjadi sangat penting, strategis, dan bernilai bagi kemajuan penelitian dan pengembangan bioproduk di Indonesia. Dia juga menjelaskan arus perdagangan bebas saat ini menyebabkan produk global tak lagi terbatasi oleh sekat negara.

Menurutnya, banyak produk asing yang masuk ke Indonesia, namun tak semuanya melalui uji standar mutu yang layak dan sesuai dengan kondisi iklim Indonesia. Untuk itu, kata  Enny, pemerintah telah menerapkan atau mengadopsi standar internasional untuk menguji kualitas dan keamanan produk, serta efikasi dan keawetannya terhadap serangan hama dan organisme perusak, seperti International Standards For Phytosanitary Measures (ISPM No. 15), Japan Industrial Standard (JIS), Japan Agricultural Standard (JAS), American Standard Test Method (ASTM), German Institute for Standardization (DIN), dan lain sebagainya. 

Namun sayangnya, ujar Enny, penerapan berbagai standar tersebut tanpa mempertimbangkan fakta bahwa standar internasional tersebut dibuat berdasarkan kondisi dan situasi negara-negara Eropa. "Hal itu sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Dede Heri Yuli Yanto, menjelaskan gedung iLaB yang akan dibangun terdiri dari dua lantai dengan luas 3.379 m2 serta area workshop untuk aktivitas produksi skala kecil dari beberapa bioproduk. Gedung iLaB akan dilengkapi dengan fasilitas peralatan utama dan pendukung, seperti ruang pengolah data, ruang presentasi data, ruang tampilan bioproduk, ruang pelayanan, dan ruang pelatihan.

Pembangunan iLaB beserta peralatan pendukung riset telah mendapatkan persetujuan pendanaan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS melalui mekanisne pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tahun anggaran 2019 dengan total usulan sebesar Rp95 miliar. Diharapkan proses pembangunan akan selesai di akhir tahun 2019 ini. (591)