Kementan Dorong Sulteng Mandiri Cabai

Senin, 29 April 2019, 08:58 WIB

Lahan cabai. | Sumber Foto: Kementan

AGRONET -- Pengembangan kawasan cabai di seluruh wilayah Kepulauan Indonesia terus digencarkan. Ditargetkan seluruh wilayah pulau utama harus mandiri cabai, tidak tergantung lagi pasokan dari Jawa. Pada saat bersamaan pasokan cabai harus tetap aman dan harga terkendali.

Hal itu disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam keterangannya, Minggu (28/4). Menurutnya, potensi cabai di luar Jawa masih banyak dan harus bisa dioptimalkan.

“Sudah dua kali Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan tahun baru, pasokan cabai nasional stabil dan aman. Ini bukti kalau pengembangan kawasan cukup berhasil. Apalagi sejak 2016 tidak ada impor cabai lagi," sambung Amran.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Tengah, Trie Iriyani, mengatakan wilayahnya siap dijadikan sebagai penyangga produksi cabai di Indonesia Timur. Menurutnya, daerah Donggala, Banggai, Sigi, Parigi Moutong, dan Tojo Una Una merupakan sentra cabai di Sulawesi Tengah.

Ditambahkan Trie, dalam setahun ada sekitar 5 ribu hektare tanaman aneka cabai di Sulteng dengan produksi mencapai 33.500 ton dan terus mengalami peningkatan. Sedangkan kebutuhan daerah tersebut hanya sekitar 18.500 ton per tahun. Jadi ada surplus yang signifikan, bisa memasok wilayah sekitar.

“Tahun 2019 ini kami didukung oleh Kementerian Pertanian pengembangan kawasan cabai seluas 375 hektare. Bantuan tersebut sangat membantu," ujar Trie.

Untuk Donggala sendiri, ada potensi sekitar 1.200 hektare pertanaman cabai selama musim tanam setahun. Saat ini sudah mencapai 900 hektare. Hasilnya, seperti cabai Rawit Sirup sudah dipasarkan hingga ke Gorontalo, Makassar, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Kementerian Pertanian mencatat produksi cabai nasional pada 2018 mencapai lebih dari 2,52 juta ton, meliputi jenis rawit merah, rawit hijau, cabai keriting, dan cabai merah besar. Sementara tahun 2017 produksi hanya 2,36 juta ton. Kebutuhan nasional diperkirakan 1,6-1,8 juta ton per tahun.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ismail Wahab,  mengingatkan pentingnya pengaturan pola tanam, Menurutnya, tidak hanya surplus produksi dalam setahun, tapi sebaran produksi antar bulan dan antar wilayah sudah diatur sedemikian rupa melalui manajemen pola tanam. Jadi menurutnya, tidak ada lagi bulan yang produksinya berlebih atau kurang. 

Untuk memenuhi kebutuhan cabai di berbagai daerah, Kementan terus berupaya melakukan terobosan, seperti pengembangan cabai di luar Jawa dan perbaikan distribusi antar-pulau. Khusus menghadapi puasa dan lebaran tahun ini, Kementan memastikan pasokan cabai mencukupi, karena beberapa sentra besar memasuki panen raya sekitar bulan Mei -Juni ini. (591)