Potensi Limbah Sawit untuk Produk Ramah Lingkungan

Jumat, 03 Mei 2019, 06:29 WIB

Tanaman sawit. | Sumber Foto: Istimewa

AGRONET -- Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), telah melakukan beberapa penelitian untuk produk ramah lingkungan berbasis bahan alam. Penelitian itu seperti adsorben polutan, material dan energi terbarukan, serta bahan baku obat alami. Ini sebagai upaya mengatasi permasalahan lingkungan dan kelangkaan energi.

"Penelitian LIPI saat ini mengupayakan bagaimana menjaga konservasi sumber daya alam. LIPI juga menyesuaikan dengan kebutuhan industri dan masyarakat,” ungkapnya Plt. Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Raden Arthur Ario Lelono, di Serpong, Selasa (30/4) lalu.

Andreas memaparkan pengembangan karbon aktif untuk dekolorisasi pewarna tekstil dalam air limbah. Material adsorben zat pewarna tersebut menggunakan karbon aktif dari lindi hitam hasil samping proses bioetanol dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Dengan karbon aktif yang digunakan, jelasnya, air limbah yang tercemar pewarna tekstil bisa menjadi jernih kembali.

Sementara itu, terkait material terbarukan, peneliti Kimia LIPI, Muhammad Ghozali, menjabarkan bioplastik generasi dua dari TKKS. Menurutnya, produk bioplastik generasi dua dari limbah tandan kosong kelapa sawit memiliki keunggulan tahan air, tahan kelembaban, bukan bahan pangan, dan sifat mekanik lebih baik untuk dijadikan kemasan, dibandingkan bioplastik generasi satu yang berasal dari pati seperti singkong dan jagung. Dia menjelaskan, teknologi di Indonesia siap untuk mengembangkan bioplastik ini.

Pada kesempatan yang sama, untuk penelitian energi terbarukan adalah pengembangan bahan bakar nabati bio-oil dari limbah tandan kosong kelapa sawit. Peneliti Kimia LIPI, Nino Rinaldi, menjelaskan sumber daya alam Indonesia sangat berpotensi untuk pengembangan bio-oil.

Menurut dia, bio-oil memiliki karakteristik seperti bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi alternatif bensin, diesel, maupun avtur. “Sejak isu CPO sawit Indonesia yang ditolak negara pengimpor, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan sawit untuk menjadi bio-oil,” kata Nino. (LIPI/591)