Rahasia Maju Pertanian di Jepang

Selasa, 14 Mei 2019, 08:54 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, ujicoba panen padi dengan alat mesin pertanian. | Sumber Foto:Biro Humas dan Publik Kementan

AGRONET -- Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di sela-sela kunjungan ke Jepang sempat berdialog dengan petani Jepang, Masato Shuto. Dalam dialog tersebut, diketahui petani Jepang mendapatkan fasilitas yang memadai dalam usaha taninya.

Amran dalam keteranganya, Minggu (12/5) menjelaskan fasilitas pemerintah yang paling menonjol di Jepang adalah tersedianya sarana in out produksi yang memadai. Kemudian hasil produksi petani diserap langsung oleh Koperasi Pertanian Jepang, Japan Agriculture.

Sementara itu, Masato Shuto, menjelaskan, konsep pertanian di Jepang mulai dari tanam hingga panen sudah menerapkan sistem mekanisasi. Hanya saja mereka masih kesulitan mendapatkan tenaga kerja sehingga menggunakan petani muda asal Indonesia.

Masato Shuto menambahkan Japan Agriculture juga memberi bantuan pembiayaan tanpa bunga setara Rp13 juta per hektare. Dana itu untuk pembelian pupuk Rp8 juta dan Rp5 juta untuk pestisida. Sementara benih padi Japonica, petani menyediakannya secara mandiri.

Produktivitas padi di Jepang rata-rata 4,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektare dengan harga setara Rp30 ribu per kilogram. Hasil panen itu ditampung seluruhnya oleh Japan Agriculture. Sementara petaninya hanya menyimpan sedikit untuk konsumsi.

Dibandingkan dengan petani Indonesia produktivitas jauh lebih tinggi yakni 5,2 ton GKG per hektare.
Rata-rata petani padi Jepang mendapatkan penghasilan sekitar Rp130 juta per musim tanam.

Pertanaman padi di Jepang hanya satu kali setahun. Selebihnya digunakan untuk bertani hortikultura.

Faktor utama penentu tingginya pendapatan petani padi Jepang adalah harga gabah yang mencapai Rp30 ribu GKG per kilogram. Sementara di Indonesia hanya Rp4.600 per kilogram. (591)