Anggrek Cikampek Merambah Pasar Singapura dan Jepang

Minggu, 19 Mei 2019, 07:09 WIB

Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi tegaskan komitmen kementan untuk terus meningkatkan ekspor komoditi hortikultura.

AGRONET -- Tidak perlu lagi menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah guna mengunjungi Thailand dan Singapore,  jika hanya untuk menikmati anggrek. Di Cikampek kita bisa melihat ratusan jenis anggrek cantik  seperti anggrek bulan, anggrek hitam, anggrek kasut kumis, anggrek kebutan, anggrek sendok, anggrek bulan bintang, anggrek kerlip, anggrek jamrud, anggrek phaleonopsis, dendrobium, vanda douglas, oncidium dan lain – lain. 

Sembari ngabuburit, Kamis (16/5), Dirjen Hortikultura Suwandi berkunjung ke Ekakarya Graha Flora , lahan pembibitan yang menyuguhkan aneka ragam jenis bunga anggrek di Cikampek Pusaka, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang – Jawa Barat. Di lahan seluas 26 hektare ini, terdapat beragam jenis bunga anggrek yang seluruhnya produk lokal, tak satu pun berasal dari luar negeri.

Suwandi mengungkapkan bahwa ke depannya budidaya tanaman hias  akan semakin diminati petani karena hasilnya sangat menjanjikan, apalagi pangsa pasarnya terbentang dari Asia Tenggara hingga Eropa.

“Volume ekspor anggrek 2018 sebanyak 51,9 ton senilai Rp 4,91 miliar. Volume ekspor naik 19,4 persen dan nilai naik 16,35 persen dibandingkan ekspor 2017. Tujuan ekspor ke Jepang, Korea, Singapore, New Zealand, Netherland dan lainnya,” tambahnya.

BERITA TERKAIT

Tidak perlu khawatir jika berkunjung ke Ekakarya Graha Flora, karena pihak pengelolah siap sedia mengantar dan menjelaskan pertanaman anggrek ini. Termasuk penjelasan bangunan yang menyajikan aneka ragam bunga tersebut. Bangunan berbentuk menyerupai tenda (green house) itu menyimpan beraneka ragam bunga anggrek. Beberapa di antaranya tampak sudah bermekaran.

“Jika berbicara soal harga, maka di sini masih terjangkau. Anggrek bulan mulai dari Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah tergantung jumlah dan jenisnya, sedangkan anggrek dendrobium paling murah seharga Rp 40 ribu,” terang Suwandi.

Suwandi menegaskan pihaknya  berkomitmen untuk terus meningkatkan ekspor komoditi hortikultura. Tidak hanya sayuran, buah-buahan tapi juga tanaman hias.

Sebagai informasi, sentra anggrek terdapat di Cianjur, Tangerang Selatan, Bogor, Karawang, Batu, Karanganyar dan beberapa daerah lain dengan produksi anggrek 2018 sebanyak 24,7 juta tangkai. Bunga – bunga yang ada di kebun ini tertata rapi di persemaian dengan pengelolaan profesional dari tangan – tangan yang ahli di bidang florikultura.

“Sesuai arahan dari Menteri Pertanian, kita terus meningkatkan ekspor komoditas pertanian kita dan juga kendalikan impor. Ekspor terus kita galakkan, salah satunya dari komoditas tanaman hias,. Proses perijinannya sekarang sudah online. Nggak berbelit-belit. Nggak pakai lama. Kalau dulu 13 hari, sekarang tidak sampai 3 jam sudah selesai. Ijinnya kami percepat. Kalau perlu saya tandatangan langsung” kata Suwandi.

Banyak komoditas pertanian di dalam negeri ini bernilai devisa bagi negara. Salah satunya tanaman hias yang digalakkan oleh PT Eka Karya Graha ini. Perusahaan ini membudidayakan berbagai jenis tanaman anggrek untuk diekspor. Adapun negara tujuan ekspor tanaman hias ini antara lain Singapura dan juga Jepang.

Suwandi menilai pangsa ekspor tanaman hias luar biasa. Menariknya, permintaan dalam negeri untuk tanaman hias ini ternyata juga cukup besar. Ini ada juga kirimnya ke Bali, Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan hingga Kalimantan.

“Hampir semua pulau, hotel, bandara, gedung perkantoran, mall-mall dari sini. Tanaman hias yang ada di Bandara Cengkareng pesannya juga dari sini,” tuturnya.

Kepala Bagian Produksi Phalaopsis,PT Eka Karya Graha , Jessica Stephanie mengaku bersyukur ijin ekspor untuk tanaman hias ke mancanegara sangat mudah. ?”Kita bersyukur ekspor kami ke luar negeri nggak pernah ada masalah. Perijinannya sangat mudah, dan simpel,” katanya. (234)

BERITA TERKAIT