Krai, Buah Berbuka Puasa Khas Banyuwangi

Minggu, 19 Mei 2019, 09:33 WIB

Selama bulan Ramadan banyak pedagang dadakan yang menjual buah krai di Banyuwangi. | Sumber Foto:banyuwangikab.go.id

AGRONET -- Selain kuliner yang khas, setiap bulan puasa di Banyuwangi juga banyak ditemui buah Krai. Buah ini kerap diburu oleh pembeli karena menjadi bahan utama minuman yang menyegarkan untuk berbuka puasa. Para pedagang pun panen rezeki, omsetnya bisa mencapai Rp. 2 juta perhari

Bentuk buah krai mirip dengan timun suri namun dengan daging buah yang berwarna orange cerah. Warna kulitnya cenderung kuning dengan sulur kehijauan. Buah ini rasanya hampir sama dengan buah blewah, namun tekstur daging buahnya lebih lembut. Aroma buah yang masak juga jauh lebih harum dibanding blewah. 

Buah ini biasanya disajikan dengan air gula yang sudah dilarutkan dengan air terlebih dahulu. Di campur es batu, rasanya makin nikmat dan segar.

Selama bulan Ramadan banyak pedagang dadakan yang menjual buah krai di Banyuwangi. Salah satu pedagang yang berjualan buah krai adalah Suripah (60) bersama anaknya Ana (32). Suripah berjualan di pinggir jalan nasional Kabat-Banyuwangi bersama dengan beberapa pedagang lainnya. Tempat ini sejak lama memang telah menjadi pusat penjualan buah krai selama Ramadan di Banyuwangi.

“Pertama kali yang berjualan di kawasan sini adalah Bapak saya, mulai tahun 80-an. Bapak satu-satunya pedagang di sini. Dulu masih memakai alas tikar untuk berjualan, tidak pakai lapak seperti sekarang. Sekarang saya dan ibu yang meneruskan  usaha ini,” kata Ana saat menceritakan awal berjualan buah musiman ini.

Lapak Ana dan ibunya mulai dibuka pada jam 07.00 wib hingga jam menjelang waktu buka puasa. Buah Krai dijual secara eceran atau bijian oleh Ana dan ibunya. Harganya mulai Rp. 3.000 untuk ukuran yang paling kecil dan Rp. 20 ribu untuk ukuran terbesar. Dalam satu hari , omsetnya bisa mencapai Rp. 2 juta atau jika sedang sepi minimal bisa mengantongi Rp. 700 ribu.

“Alhamdulillah karena adanya cuma bulan puasa, ya setiap jualan diserbu pembeli. Kami sendiri mulai jualan sudah sejak puasa kurang dua hari, biasanya nanti sampai beberapa hari setelah lebaran. Maklum, banyak pemudik yang juga kangen buah ini, banyak plat mobil luar kota yang mampir beli,” kata Ana.

Di Banyuwangi, Kecamatan Kabat termasuk salah satu sentra penanaman buah krai. Bapaknya sendiri, kata Ana, menjadi pengepul buah krai di wilayah Kabat yang menjual kembali pada pedagang eceran.

“Selama bulan puasa, Bapak bisa menebas hingga lima hektar tanaman buah krai. Satu hektar bisa ribuan buah krai, untuk dijual lagi ke pedagang lain,” ujar Ana.

Ana pun mengaku kalau pendapatan penjualan buah Krai selama Ramadhan cukup menguntungkan. Semua hasilnya selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga juga diputar kembali untuk usaha jualan sayur mayur di luar bulan Ramadan.

"Alhamdulillah, rejeki terus mengalir saat berjualan krai di Ramadan ini. Karena krai ini memang hanya ada saat puasa, jadi pembeli benar-benar memburu buah ini," kata Ana. 

Sementara itu salah satu pembeli, Cak Erda asal Surabaya mengatakan dirinya selalu membeli krai  di bulan ramadhan semenjak dia  bekerja dan menetap di Banyuwangi. Minuman es krai telah menjadi salah satu menu favorit takjil keluarganya saat puasa. 

“Seger banget rasanya.  Minuman ini hampir selalu ada di menu buka puasa keluarga kami. Kami juga sering membawakan ke kerabat di luar  Banyuwangi sebagai oleh-oleh, atau membelikan buah ini untuk mereka bawa pulang saat berkunjung ke Banyuwangi” ujarnya.

Buah krai memang sangat segar disajikan menjadi minuman berbuka puasa. Cara membuat minuman ini juga sangat mudah. Buah dipotong lalu diserut atau dipotong dagingnya. Buat larutan air gula, lalu buah krai dimasukkan ke dalamnya.  Akan lebih  segar jika  disajikan dalam keadaan dingin. Dimasukkan dalam kulkas selama beberapa jam  sebelum dihidangkan atau langsung tambahkan es batu, es buah krai pun siap disantap.(banyuwangikab/ 234)