MarkPro, Dekatkan Peternak dengan Konsumen

Rabu, 22 Mei 2019, 16:13 WIB

Kegiatan MarkPro di Bogor. | Sumber Foto:Kementan

AGRONET  -- Kementerian Pertanian menginisiasi kegiatan Market Project atau disingkat MarkPro. Hal ini bertujuan untuk memperpendek rantai pemasaran dan efisiensi. Selain itu juga untuk membangun saluran pemasaran baru dari peternak ke konsumen.

Demikian disampaikan Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, saat launching MarkPro Gerakan Memandirikan Peternak Rakyat, di Bogor (22/5). Kegiatan itu mengambil tema: Peningkatan konsumsi protein hewani wujudkan SDM Indonesia lebih baik.

Fini menjelaskan, daging ayam dan telur yang dijual di MarkPro ini disupply dari peternak di wilayah Bogor. Menurutnya ayam dipotong di RPU yang telah memiliki sertifikat NKV dan fasilitas rantai dingin sehingga keamanan dan kualitasnya terjamin.

Pada acara itu peternak berkesempatan memasarkan produknya berupa daging ayam broiler sebanyak 4.200 ekor karkas ayam dingin segar, 2.100 kg telur, serta produk lainnya. Di samping itu juga turut berpartisipasi 7 Industri Pengolahan Susu (IPS) yang menyediakan susu gratis ataupun bazar produk susu. Menurut Fini, pelaksanaan kegiatan MarkPro ini tidak hanya dilakukan di Kota Bogor, namun juga akan dilaksanakan di kabupaten dan kota lainnya.

Di tempat terpisah, I Ketut Diarmita, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, mengungkapkan kegiatan MarkPRO merupakan salah satu upaya mendekatkan peternak dengan konsumen. Melalui MarkPRO peternak dapat menentukan margin price sesuai dengan biaya produksi. Sedangkan konsumen dapat memperoleh harga yang realistis.

"Ini menjadi peluang bagi para UMKM. Peluang bagi Unit Pengolah Hasil Peternakan untuk mengembangkan diri mempromosikan dan memperkuat jalur marketing-nya,” imbuh Ketut.

Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, dalam sambutannya pada acara launching MarkPro, sangat mendukung penyelenggaraan MarkPro untuk memotong rantai pasok pangan asal hewan. Hal ini seiring dengan penduduk Kota Bogor yang memerlukan ketersediaan produk asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH), untuk penguatan pemenuhan kebutuhan gizi protein hewani yang cukup tinggi.

Bima berharapa agar MarkPro dapat berkelanjutan. Dengan demikian rantai pasok dari tingkat peternak hingga konsumen dapat terjaga. “Tidak hanya menguntungkan bagi kesejahteraan peternak, namun juga meningkatkan asupan gizi masyarakat dalam mendukung keuntungan bonus demografi,” jelas Bima.

Kegiatan MarkPro juga dilengkapi edukasi pengenalan produk pangan asal hewan yang ASUH kepada masyarakat. Ini dilakukan Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) Bogor, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Kami mengajak masyarakat mengenali secara langsung bagaimana cara membedakan antara karkas ayam yang sehat dengan karkas ayam yang mengandung formalin. Di samping itu juga diajarkan bagaimana mengenali bangkai ayam, sehingga masyarakat tidak salah memilih saat belanja untuk kesehatan keluarga,” papar Kepala BPMSPH, Hasan Abdullah Sanyata.

BPMSPH juga melakukan sosialisasi bagaimana membedakan telur ayam yang masih baik dan yang sudah rusak. Disamping itu masyarakat juga diajak untuk mengenali bagaimana membedakan antara daging sapi, kerbau dan babi hutan. (591)