Musim Kemarau, Momentum Naikkan LTT di Lahan Rawa

Rabu, 10 Juli 2019, 09:25 WIB

Pengolahan lahan rawa lebak. | Sumber Foto: Biro Humas dan Publik Kementan

AGRONET -- Musim kemarau menyebabkan kekeringan pada lahan petani. Namun di sisi lain, bisa menjadi momentum untuk meningkatkan luas tambah tanam (LTT), terutama di wilayah yang banyak memiliki lahan rawa lebak.

Meski beberapa wilayah terkena dampak kekeringan, sehingga menyebabkan puso, namun untuk daerah lahan rawa lebak seperti wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Lampung, Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat justru dapat dioptimalkan untuk meningkatkan LTT.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Sumardjo Gatot Irianto, mengatakan di musim kemarau seperti ini sebenarnya bisa menjadi kesempatan mengembangkan lahan rawa. Optimalisasi lahan rawa akan lebih bagus di musim kemarau seperti ini.

“Karena itu kami juga mengundang wilayah yang ada lahan rawa agar mengupayakan penambahan LTT melalui optimalisasi potensi lahan rawa. Rencana aksi bisa dengan bantuan benih padi, jagung, kedelai, tumpangsari, optimalisasi lahan, serta bantuan Alsintan,” tuturnya, Selasa (9/7).

Data Ditjen Tanaman Pangan, wilayah yang sumber airnya masih cukup yakni potensi lahan kering yang  masih ada air  sekitar 2,3 juta ha berada di 152 kabupaten di 14 provinsi. Provinsi tersebut antara lain: Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulteng, Sulsel, dan Sultra. Sedangkan potensi lahan rawa seluas 675 ribu ha berada di 31 kabupaten di 6 provinsi yakni, Sumsel, Lampung, Kalbar, Kalsel, Kalteng, dan Sulsel.

Untuk itu, pihaknya melibatkan wilayah-wilayah yang ketika terjadi kekeringan justru menjadi sumber pertumbuhan luas tanam baru. “Ini sangat kami harapkan. Selain mengkompensasi tanaman yang puso, juga menambah areal tanam baru yang produktivitasnya dan mutunya makin bagus,” ungkapnya.

Di wilayah Jawa Barat,  Jawa Tengah, Jawa Timur, Gatot berharap, Perum Jasa Tirta (PJT-I dan PJT-II )  dengan sumber air yang ada dapat mengamankan standing crop pertanaman sekaligus meningkatkan LTT. Untuk wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, diharapkan dapat meningkatkan LTT melalui optimalisasi penanaman pada lahan kering serta rawa yang masih ada airnya.

Gatot menyarankan, petani di lahan kering yang curah hujannya masih cukup jika akan bertanam padi sebaiknya menggunakan varietas padi gogo. Sebelum bertanam disarankan lahan sawah setelah panen, dicek kadar airnya, apakah masih basah atau sudah kering.

Pengecekan dapat dilakukan dengan mencabut sisa jerami. Jika mudah dicabut maka lahan tersebut masih basah dan layak ditanami padi gogo. Lakukan penugalan Tanpa Olah Tanah (TOT) di samping pangkal jerami, isi 3 biji per lubang (Tabela).

Sedangkan untuk pertanaman padi di lahan rawa, Gatot mengatakan, pemerintah telah membuat pilot project padi rawa, bahkan kini sudah ada yang panen. Hasilnya sudah terlihat, jika sebelumnya petani menggunakan benih lokal (pertanaman 6 bulan), kini dengan benih Inpara-3 pertanaman padi hanya 3-4 bulan.

“Produktivitasnya juga meningkat. Jika sebelumnya hanya 2,5 ton/ha, kini menjadi 4,58 ton/ha. IP juga nai dari sebelumnya 100 menjadi 200 yang tanam pada Maret, Juli dan Agustus,” tutur Gatot. (591)