BKP Kementan Dorong Pemda Perkuat Cadangan Pangan

Rabu, 10 Juli 2019, 22:47 WIB

Risfaheri, (tengah) saat menerima kunjungan DPRD Provinsi Sumatera Barat di Kantornya, Jakarta. | Sumber Foto:Humas BKP Kementan

AGRONET -- Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) memiliki peran strategis dalam penyediaan pangan untuk penanganan bencana, kerawanan pangan, kondisi darurat, serta menjaga stabilisasi harga pangan di daerah. Salah satu kelebihan CPPD adalah apabila terjadi bencana alam atau sosial dalam skala kecil dan bersifat lokal, pemerintah daerah dapat langsung menyalurkan bantuan kepada korban bencana.

Meskipun pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam memanfaatkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ada di Bulog, provinsi sebesar 200 ton dan kabupaten/kota 100 ton untuk penanganan tanggap darurat, namun dalam proses pengeluarannya diperlukan persetujuan pemerintah pusat yang disertai dengan penetapan status tanggap darurat. CPPD dapat menjadi bantuan pangan tanggap darurat pertama sebelum turunnya bantuan beras dari CBP.

Menurut Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan, Badan Ketahanan Pangan (BKP), Risfaheri, tentang cadanga panga telah diamanatkan dalam UU No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan pada Pasal 23 bahwa untuk mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan, pemerintah menetapkan cadangan pangan nasional, yaitu : cadangan pangan pemerintah; cadangan pangan pemerintah daerah; dan cadangan pangan masyarakat. Sesuai PP No. 17 Tahun 2015 Pasal 5 dan 13 bahwa cadangan pangan pemerintah dan pemerintah daerah berupa pangan pokok tertentu ditetapkan berdasarkan jenis dan jumlahnya oleh Kepala Lembaga Pemerintah, Gubernur, Bupati/Walikota, dan Kepala Desa.

Mengingat mayoritas masyarakat di Indonesia mengonsumsi beras sebagai pangan pokok, dalam pengelolaan cadangan pangan pemerintah daerah dalam penentuan besaran jumlah cadangan pangan yang ideal dimiliki oleh provinsi maupun kabupaten/kota telah ditetapkan melalui Permentan No. 11/2018 tentang Penetapan Jumlah Cadangan Beras Pemerintah Daerah. “Dalam mengatur cadangan pangan pemerintah daerah dan keberlanjutan pengelolaannya, sebaiknya diatur dalam Peraturan Daerah. Sedangkan pelaksanaannya dapat bekerjasama melalui Bulog atau BUMD," ujar Risfaheri, saat menerima kunjungan DPRD Provinsi Sumatera Barat di Kantornya, Jakarta, Selasa (9/7), untuk mendiskusikan Raperda Cadangan Pangan Pemerintah Daerah.

Ditambahkan Risfaheri, Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus mengalokasikan APBD untuk pengadaan, pengelolaan, dan penyaluran CPPD. "CPPD ditetapkan secara berkala dengan memperhitungkan tingkat kebutuhan. Pengadaan Cadangan Pangan Pemerintah diutamakan melalui pembelian Pangan Pokok produksi dalam negeri, terutama pada saat panen raya," tambahnya.

Berdasarkan Permentan No. 11/2018 kebutuhan ideal cadangan beras daerah setiap provinsi (Pemda provinsi ditambah pemda kabupten/kota) adalah 0,5% persen dari umlah penduduk dikali konsumsi perkapita dibagi 1000. Cadangan beras yang harus dimiliki Pemda Provinsi sebesar 20 persen dari cadangan beras daerah provinsi, dan sisanya 80 persen di Pemda Kabupaten/kota yang besar cadangan berasnya di masing-masing kabupaten/kota sesuai proporsi jumlah penduduknya.

"Untuk provinsi Sumatera Barat idealnya, cadangan beras daerah sebesar 2.938 ton. Terdiri dari 588 ton tanggungjawab pemda provinsi, dan sisanya pemda kabupaten/kota," kata Risfaheri.

Selain itu, perlu didorong pembentukan Cadangan Pangan Desa yang selama ini masih belum terimplementasikan dengan baik. "Dengan adanya Dana Desa, Cadangan Pangan Pemerintah Desa dapat lebih mudah direalisasikan oleh Pemerintah Desa. Untuk itu perlu dukungan kebijakan dari kementarian terkait," jelasnya.

Sampai saat ini daerah yang telah mengalokasikan CPPD sebanyak 25 Pemda provinsi, dan 206 Pemda kabupaten/kota. Masih terdapat 308 Pemda kabupaten/ kota yang belum mengalokasikan CPPD, dan 9 Pemda provinsi, yaitu di Bali, DKI. Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Barat. (591)