Dinas Pertanian Kota Serang Periksa Hewan Kurban

Rabu, 07 Agustus 2019, 14:02 WIB

Pemkot Serang melalui Dinas Pertanian telah memeriksa kesehatan hewan kurban di seluruh lapak penjualan hewan kurban pada 1 dan 2 Agustus 2019. | Sumber Foto:Dok Dinas Pertanian Kota Serang

AGRONET --  Guna memastikan terjaminnya masyarakat  bebas dari penyakit yang berasal dari hewan kurban, menjelang Idul Adha, Pemkot Serang melalui Dinas Pertanian telah memeriksa kesehatan hewan kurban di seluruh lapak penjualan hewan kurban pada 1 dan 2 Agustus 2019, minggu lalu, di segenap penjuru kota Serang, Banten. 

“Tim dari provinsi  terdiri dari 12 orang, ditambah tim dari Dinas Pertanian Propinsi Banten telah melakukan pemeriksaan kesehatan hewan, kelengkapan surat keterangan sehat hewan dari penyuplai, dan kelayakan lapak hewan kurban di seluruh lapak penjualan hewan kurban di Kota Serang,” kata Siswati, Kabid Peternakan, Dinas Pertanian Kota Serang,  di kantornya, Senin  (5/8).

Pihaknya menemukan hewan-hewan kurban yang terkena penyakit seperti Orf pada ternak yang dijual di lapak penjualan hewan kurban. Penyakit yang paling dikhawatirkan yaitu Antraks, tidak ditemukan. “Sejauh ini kami belum menemukan kasus hewan kurban yang terkena Antraks di Kota Serang, yang ditemukan adalah penyakit Orf itu, namun tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya. Yang lain adalah penyakit ringan seperti penyakit mata, batuk, pilek, dan adanya luka pada ternak kurban serta scabies terutama pada kerbau.

Pihaknya telah memberikan stiker kelayakan jual pada lebih dari 50 lapak yang sudah dilakukan pemeriksaan. Pemeriksaaan dilakukan terhadap semua ternak baik sapi, kerbau, kambing maupun domba.

Ecthyma Contagiosa atau Soremouth atau Dermatitis Pustularis Contagiosa atau lazim disebut Orf merupakan penyakit viral yang sangat infeksius, ditemukan pada 38 ekor domba. Penyakit Orf ditandai dengan terbentuknya lesi basah, bernanah, dan berkeropeng pada moncong dan bibir. Penyebab Orf disebabkan virus cacar pada ungulata berkuku genap.

 “Meski Orf bukan penyakit yang mengkhawatirkan, kami perintahkan ke pedagang agar mengkarantinakan hewannya. Dipisah sampai pulih,” ujar Siswati yang alumnus Fakultas Peternakan Unsoed.

Dikatakannya, 80 persen para pelapak hewan kurban mendapatkan domba dan kambing dari luar Kota Serang seperti Garut, Sukabumi, Bandung, Tasik dan Majalengka, sisanya dari wilayah Provinsi Banten.

“Kami memang sudah menyarankan kepada para pedagang untuk tidak mengambil hewan kurban dari daerah Boyolali dan Salatiga, sebab di sana pernah terjadi kasus hewan yang terkena bakteri antraks. Bakteri antraks bertahan lama dan dapat menular ke manusia,” ujarnya.

Meski untuk ternak sapi masih ada sebagian hewan kurban yang didatangkan dari Boyolali dan Magelang selain dari Kupang dan Bali, namun tidak ditemukan satupun penyakit yang berarti pada semua sapi yang diperiksa.(234)

BERITA TERKAIT