Kementan Bentuk Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu

Senin, 12 Agustus 2019, 15:26 WIB

Alat mesin pertanian disalurkan kepada petani guna meningkatkan produksi pangan. | Sumber Foto:Humas Kementan

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin agar harga jual yang diperoleh petani pada posisi tinggi supaya menikmati keuntungan. Penanganan pascapanen yang baik harus dengan sistem pengelolaan yang terstruktur, salah satunya melalui pembentukan Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T). 

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Gatut Sumbogodjati, mengatakan Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T) lahir atas dasar keprihatinan. Selama ini petani padi banyak yang tidak menikmati hasil panennya secara maksimal karena banyak dijual dalam bentuk gabah kering panen. Bahkan, menurutnya ada yang dijual secara tebasan ketika gabah masih ada di lahan.

Selain itu Kementan juga menyalurkan alat mesin pertanian. "Kami berikan bantuan Alsintan, seperti combine harvester, vertical dryer, RMU, dan mesin packing untuk unit pengelolala jasa alat mesin pertanian atau UPJA," ujarnya di Jakarta, Minggu (11/8).

Ia berharap melalui bantuan tersebut tidak ada lagi gabah rusak ketika musim hujan karena tidak ada mesin pengering atau harga jatuh karena panen raya. Bahkan, dengan adanya paket sarana ini lembaga tani bisa memproduksi beras kemasan dengan label yang khas. "Petani dapat menyesuaikan dengan kearifan lokal setempat yang tentunya akan memberikan nilai plus bagi produk yang dipasarkan," tambahnya.

Gatut menegaskan bantuan Alsintan yang diberikan Kementan ke daerah sesuai dengan kebutuhan atau misi daerah setempat untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. Ia mencontohkan daerah yang dikunjungi beberapa saat lalu, yakni Desa Guntung Ujung Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan untuk meresmikan bantuan Alsintan dari Kementan berupa paket SP3T UPJA. "Bantuan pemerintah tersebut sesuai dengan misi Bupati dalam rangka mengangkat Kabupaten Banjar menjadi sejahtera," tegasnya.

Sementara itu,  dalam kunjungan ini bersama Bupati Banjar, Khalillurrahman, juga melaunching beras Mayang Gambut khas Banjar ’’Karindangan”. Khalillurrahman mengatakan beras gambut sudah terkenal kemana-mana, bahkan siapapun yang ke Banjar tidak akan disebut pernah ke Banjar kalau belum pernah mencicipi rasa beras gambut yang mempunyai aroma khas dan tekstur rasa yang unik. 

Khalillurrahman menambahkan kondisi ini memberikan peluang ketika pasar beras sudah menciptakan konsumen yang fanatik maka berapapun produksi yang ada pasti akan terserap. "Namun karena beras gambut varietas lokal hanya tersedia atau dibudidayakan di daerah Banjar, musimnya tertentu, dan produksi terbatas, sehingga hal ini yang masih menjadi kendala kami saat ini," sebutnya.

Varietas Gambut ini hanya bisa diproduksi sekali dalam setahun dengan umur tanaman cukup panjang mencapai 180 hingga 210 hari dengan produktivitas mencapai 3,2 ton per hektare. "Varietas Gambut di sini ada di lahan seluas 715 ha. Harga jual GKP sekitar Rp6.500 per kilogram dan harga berasnya cukup lumayan sebesar Rp11.000 sampai Rp12.000 per kilogram," rincinya. (591)