Budi Daya 'Kepah' Alternatif Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Bangka

Senin, 19 Agustus 2019, 09:43 WIB

Kepang/ Kerang | Sumber Foto:KBRN

AGRONET -- Sebagian nelayan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencari "kepah" (kerang) menjadi alternatif untuk penghasilan tambahan saat musim paceklik. Namun bagi warga Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Kepah tidak hanya sekedar dicari tapi dibudidayakan.

Kepah yang menjadi potensi di Desa Jada Bahrin itu dibudidayakan masyarakat setempat dan mengembangkannya hingga menjadi industri rumah tangga. Kepah merupakan salah satu potensi kekayaan di desa tersebut selain perkebunan.

Kepah adalah sejenis kerang yang hidup dalam lumpur di daerah hutan mangrove air payau dan sungai besar berlumpur. "Pengembangan industri Kepah sudah dilakukan sejak lama, karena kondisi alam di desa ini sangat cocok untuk pengembangan budidaya Kepah. Rasa Kepah seperti kerang pada umumnya hanya saja teksturnya lebih kenyal," kata Kepala Desa Jada Bahrain, Sadik, Minggu (18/8).

Dia menuturkan, sampai dengan saat ini sudah banyak masyarakat di desanya yang melakukan pembudidayaan Kepah. Selain harganya cukup menjanjikan, perawatannya juga sangat mudah dilakukan.

Menurut Sadik, sebagai potensi alam yang bernilai ekonomis, dia terus memotivasi masyarakat dan melakukan pembinaan terkait cara pembudidayaan Kepah. Kemudian membentuk Pokdakan agar pengembangan industri Kepah bisa berjalan optimal, sehingga meningkatkan ekonomi masyarat desa.

Ditambahkan Sadik, Kepah yang dikonsumsi masyarakat setempat itu, juga dijual kepada pengumpul untuk dipasarkan di pasar tradisional. Selain kepada pengumpul juga ada diantaranya dijual ke pengelola restoran atau dijual kepada perorangan yang memesannya. Harga jual bervariasi mulai dari Rp5.000-Rp100.000.(KBRN /591)