Kementan Tebar Benih Gunakan Drone di Lahan Rawa

Rabu, 04 September 2019, 18:40 WIB

Penanggung Jawab Program Serasi Sumsel Andi Nur Alam Syah (kedua dari kiri) berfoto bersama di depan traktor roda 4 dan drone saat ingin memulai tebar benih menggunakan drone di lahan rawa Desa Muara Padang, Kecamatan Muara Padang, Kabupaten Banyuasin, Su | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET --  Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan tanam padi dengan cara menggunakan drone di 3.591 hektare lahan rawa di Kecamatan Muara Padang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (4/9). Lahan optimasi rawa melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) tersebut tersebar di tujuh desa di Muara Padang.

"Kalau untuk seluruh Sumsel, total lahan Serasi ada 200.000 hektare. Kita sudah siapkan dua drone untuk tebar benihnya, kerja cepat sesuai perintah Pak Menteri," kata Penanggung Jawab Program Serasi Sumsel Andi Nur Alam Syah.

Menurut Andi, penggunaan drone untuk menebar benih padi merupakan bagian dari upaya Kementan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian. Modernisasi pertanian yang merupakan penerapan teknologi 4.0 di bidang pertanian itu menjadi salah satu terobosan peningkatan produksi dan efisiensi sistem usaha tani.

"Ini sekaligus pembuktian Kementan sudah menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0. Kita harus optimis pembangunan pertanian ke depan semakin full teknologi modern," ujar Andi yang juga Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan.

Penggunaan teknologi modern, Andi melanjutkan, akan berdampak pada peningkatan produksi, kualitas, dan penghematan biaya. Muara akhirnya, kesejahteraan petani semakin meningkat dan visi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di masa mendatang bisa terwujud. Selain drone, Kementan juga sudah menurunkan 200 unit traktor roda 4 dan 119 eksavator untuk pengolahan lahan rawa. Traktor-traktor tersebut beroperasi dengan sistem brigade atau berpindah-pindah pada lokasi-lokasi rawa yang siap ditanami.

"Hari ini kita mulai tebar benih dengan drone di lahan seribu hektare, optimis satu pekan ke depan bisa 3.591 hektare lahan rawa di Muara Padang sudah ditanami semua. Menyusul daerah lainnya," kata Andi.

Andi menerangkan, drone mampu menebar benih di luas lahan 1 hektare dalam waktu satu jam. Adapun kapasitas angkut benih drone yang dimiliki Kementan ada dua, yaitu 5 kilogram dan 20 kilogram. Biaya operasional drone pun jauh lebih murah lantaran hanya membutuhkan recharge daya dan operator.

Koordinator Lapangan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan Kabupaten Air Salek, Banyuasin, Sumsel Zaenuddin Arifin mengatakan, penggunaan drone bisa menghemat waktu dan biaya tanam. Jika menggunakan tenaga manusia, seorang petani maksimal hanya bisa mengerjakan penebaran benih dua hektare dalam satu hari kerja (delapan jam). Selain itu, penebaran manual juga tak jarang membuat benih tidak merata.

"Ada yang tebal, ada yang kurang. Nanti setelah tumbuh 15 sampai 20 hari harus disulam lagi dan artinya butuh biaya kerja lagi," ujar Zaenuddin.

Karena itu, dia berharap, penanaman benih dengan drone bisa segera dilakukan di Air Salek. Di sana, ada 13 ribu hektare lahan rawa yang sudah siap ditanami.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumsel Ilfantria menyatakan, kegiatan Serasi di Sumsel membuat para petani senang karena petani sudah lama berkutat pada masalah budi daya di daerah rawa. Selama ini, para petani lahan rawa di Sumsel terkendala dengan minimnya tanggul serta kurangnya pintu air dan bendungan. Akibatnya, petani rata-rata hanya bisa satu kali tanam dalam satu tahun.

"Program Serasi datang, lalu bikin tanggul, pintu air, bendungan, turun pompa-pompa, traktor, petani jadi semangat. Optimis bisa dua kali tanam, produksi dan pendapatan petani pasti meningkat. Ini juga sejalan dengan program Pemprov Sumsel untuk mengurangi daerah-daerah kemiskinan," ujar Ilfantria.

Dia menjelaskan, Sumsel merupakan daerah yang kaya rawa. Dengan luas tanam padi mencapai 731.000 hektare, 500.000 hektare di antaranya adalah lahan rawa lebak dan rawa pasang surut. Dari luas tanam yang tersedia, baru 650.000 hektare yang sudah ditanami. "Sisanya masih STD (sementara tidak diusahakan, Red). Tentu kami berharap pada 2020 nanti bisa dituntaskan semua," kata Ilfantria.

Operator drone penebar benih David menjelaskan, drone yang digunakan mampu bekerja mandiri sesuai pola atau alur yang sudah dibuat pada perangkat android dan dipandu oleh GPS. Drone juga mampu melakukan resume operation, sehingga operasional yg tertunda dapat dilanjutkan kembali sehingga tidak terjadi overlap.

"Semua dilakukan secara otomatis. Daya jangkau drone juga bisa sampai tiga kilometer dan jika benih dalam tangki sudah habis, drone kembali ke titik terbang semua secara otomatis," ujar David. (360)