Salurkan Bantuan kepada Gapoktan

Kementan Berpartisipasi Aktif dalam Jelajah Desa Pangan

Senin, 09 September 2019, 13:04 WIB

Kepala BKP, Agung Hendriadi (kiri), secara simbolis menyerahkan bantuan Kementan pada kegiatan Jelajah Desa Pangan yang berlangsung di Desa Cijagang, Cianjur,Jawa Barat. | Sumber Foto: Humas BKP Kementan

AGRONET -- Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi, mengatakan peran desa dalam memproduksi pertanian sangat menentukan ketahanan pangan nasional. Untuk itu, Kementerian Pertanian terus meningkatkan pendidikan vokasi dan mendorong generasi muda dengan memanfaatkan teknologi modern agar mengembangkan pertanian di berbagai desa dan wilayah di Indonesia.

Hal itu disampaikan Agung dalam sambutannya pada acara Jelajah Desa Pangan yang berlangsung di Desa Cijagang, Cianjur,Jawa Barat, Sabtu (7/8). Agung menjelaskan saat ini Indonesia tidak lagi sebagai negara importir tapi sudah menjadi eksportir pangan. Beberapa komoditas pangan, kata Agung, memang masih ada impor karena belum dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Pada kesempatan itu, Agung menyerahkan bantuan dari Kementan berupa 1.2 ton benih padi, 2 traktor, dan cultivator. Bantuan langsung disalurkan kepada Gapoktan di Desa Cijagang.

Kegiatan Jelajah Desa Pangan ini merupakan hasil kerjasama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dengan Little Jeep Owner Community (LJOC). Acara yang mengambil tema “Menembus Batas Menggalang Aspirasi” ini bertujuan untuk mengembalikan status desa sebagai sentra produksi pertanian dan pangan, serta mengembalikan minat generasi muda terhadap pertanian. 

Kementerian Pertanian berpartisipasi aktif dalam acara Kegiatan Jelajah Desa Pangan ini. Agung menyambut baik acara ini karena dapat menjadi trigger dalam kegiatan pertanian ke depan, terlebih jika desa-desa sasarannya adalah desa rentan rawan pangan dan stunting.

"Untuk mengatasi masalah kerentanan pangan dan stunting perlu melibatkan berbagai lintas sektor karena persoalannya komplek. Ke depan, acara Jelajah Desa Pangan perlu menggandeng kementerian-kementerian terkait seperti Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan lainnya," saran Agung.

Ketua panitia pelaksana Jelajah Desa Pangan dari LJOC, Tony Setiawan, mengapresiasi dukungan dari Kementan. Menurut Tony, kegiatan ini akan terus bergerak ke desa-desa lainnya untuk mengembalikan peran desa sebagai penyangga pangan nasional.

Tony menambahkan Indonesia adalah negara agraris yang mestinya mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ia berharap desa-desa tetap menjalankan fungsinya sebagai penghasil pangan dengan menjaga dan mempertahankan lahan pertanian.

"Contohnya Desa Cijagang ini. Desa ini berpotensi menjadi desa wisata karena ada objek wisata religius. Sehingga harus dijaga kelestariannya dengan mengembangkan desa wisata berbasis pertanian," ujar Tony.

Kepala Desa Cijagang, Asep Zulkarnaen Kartadireja, mengatakan pihaknya sudah memulai konsep wisata berbasis pertanian dengan membentuk replika kampung budaya sebagai histori masa lalu. Petani di sana mengembangkan budidaya padi organik seluas 5 hektare di sekitar kampung budaya tersebut.

Lebih jauh, Asep menjelaskan, desanya mempunyai lahan sawah seluas 116 ha yang ditanam padi 3 kali setahun dengan produktivitas 6 ton per hektare (ha). Untuk itu, lanjut Asep, pihaknya mengharapkan dukungan pemerintah melalui program-program yang meningkatkan produktivitas masyarakat tani. 

“Kami akan terus mempertahankan lahan pertanian ini sesuai fungsinya sebagai penghasil pangan. Menjadikan Desa Cijagang sebagai desa wisata berbasis pertanian, dengan menggerakkan generasi muda untuk kembali ke pertanian," ujar Asep.

Acara ini juga dihadiri perwakilan BNI 46 sebagai mitra kerja petani dalam permodalan. Untuk Kabupaten Cianjur BNI 46 sudah menyalurkan dana sebesar Rp63 miliar untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bantuan itu termasuk untuk pertanian kopi, sayuran, mendukung program kartu tani, serta membina BUMN Desa. (591)