Verifikator Lahan Sawah Dilatih Pakai Aplikasi Canggih

Selasa, 24 September 2019, 17:33 WIB

Direktur Pembiayaan Pertanian pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Indah Megahwati (tengah) saat memimpin acara Sosialisasi dan Pelatihan Pemetaan Melalui Aplikasi Collector ArcGIS di Medan, Sumatera Utara, Selasa | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET – Sekitar 50 orang tenaga penyuluh pertanian dan aparatur dinas di Provinsi Sumatera Utara mendapatkan pelatihan verifikasi lahan baku sawah dengan aplikasi canggih. Pelatihan dipimpin langsung Direktur Pembiayaan Pertanian pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Indah Megahwati.

Menurut Indah, pelatihan verifikasi lahan baku sawah sangat penting dilakukan guna mendapatkan validitas data lahan sawah. Apalagi, tahun lalu Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) telah menetapkan lahan baku sawah Indonesia mengalami penyusutan di sejumlah daerah.

“Secara nasional, data Kementerian ATR menyusutkan lahan baku sawah lebih dari 1 juta hektare. Menurut data BPS 2016, lahan sawah ada 8,1 juta hektare, sedangkan menurut data ATR/BPN 2018, lahan sawah hanya 7,1 juta hektare,” ujar Indah pada acara Sosialisasi dan Pelatihan Pemetaan Melalui Aplikasi Collector ArcGIS di Medan, Sumatera Utara, Selasa (24/9).

Indah melanjutkan, pelatihan diperlukan guna mengklarifikasi lahan baku sawah yang belum tercatat oleh ATR/BPN. Dengan penggunaan aplikasi Colletor for ArcGIS, maka mutlak diberikan pelatihan khusus agar keterampilan petugas pendata lahan bisa lebih meningkat. “Aplikasi ini kan tergolong baru, canggih, belum banyak yang bisa menggunakannya, makanya perlu dilatih,” ujar Indah.

Mengenai dampak perbedaan data luas lahan baku sawah, Indah mengatakan, hal itu berpengaruh terhadap penghitungan kebutuhan pupuk, pengadaan benih, serta produktivitas. Karena itu, ke depannya pelaksanaan pemetaan dilaksanakan dengan cata tracking langsung ke lokasi lahan sawah yang sudah ditandai dalam database peta lahan baku sawah versi ATR/BPN. Database ini sudah ada di dalam aplikasi, sehingga petugas di lapangan akan lebih mudah memetakan lahan sawah yang belum masuk ke dalam peta atau sebaliknya menandai lahan yang sudah beralih fungsi,

 “Ini kan sudah ada bukti fakta di lapangan, di Tapanuli Tengah, ada lahan sawah yang menurut peta data ATR/BPN disebutkan merupakan gunung. Nah, lahan-lahan inilah nanti yang divalidasi dengan aplikasi yang kita miliki. Jadi, petugas lebih mudah di lapangannya,” ujar Indah.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara Jonni Akim Purba menerangkan, di Sumut terdapat perbedaan luas baku lahan sawah mencapai 177.133 hektare yang tersebar di 323 kecamatan di 32 kabupaten yang ada. Imbas perbedaan data luas lahan, kata Jonni, sudah terasa pengaruhnya terhadap suplai pupuk kepada para petani. Sampai 16 September 2019, realisasi penyerapan pupuk sudah hampir 100 persen. Perinciannya, Urea 93,67 %, SP-36 96,28 %, ZA 92,12 %, dan NPK 92,61 %. Padahal, kuota pupuk subsidi untuk Sumut sudah ditambah 10 % pada Agustus 2019.

“Tahun-tahun sebelumnya, realisasi penyerapan pupuk per September biasanya di angka 70 persenan. Ini kan indikasi kalau luas baku lahan sawah versi ATR/BPN itu perlu divalidasi ulang karena nggak mungkin kan pupuk dibuang ke laut, pasti kan ke sawah,” ujar Jonni.

Dia melanjutkan, pada akhir tahun lalu, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi sudah menyampaikan hasil validasi dan verifikasi ulang lahan sawah yang berbeda dari Ketetapan Menteri ATR/Kepala BPN-RI No.339/Kep-23.3/X/2018 tanggal 8 Oktober 2018. Hasilnya, angka luas lahan sawah Sumut mencapai 397.947,20 hektare. Sedangkan data versi ATR/BPN hanya 245,953 hektare. Ada pula data versi lainnya, yakni 428.961,89 hektare versi Sensus Pertanian 2017.

“Saya berharap ke depan ada satu data yang dijadikan acuan bersama untuk menentukan alokasi subsidi pupuk, produktivitas, dan penetapan swasembada. Aplikasi yang terbaru ini sangat membantu untuk validasi secara akurat,” ujar Jonni.

Fungsional Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementan Mokhamad Subehi yang menjad mentor pelatihan penggunaan aplikasi Collector ArcGIS menjelaskan, aplikasi memungkinkan petugas mengunggah data lahan sawah secara akurat. Dengan memanfaatkan citra satelit sampai 70 sentimeter, data lahan sawah bisa direkam secara digital dan dapat dipantau secara online dari pusat data Kementan.

Menurut pria yang akrab disapa Mamad, petugas hanya perlu smartphone yang mendukung penggunaan aplikasi Collector ArcGIS kemudian menentukan koordinat letak lahan sawah baku. Selanjutnya, aplikasi akan menghitung luas lahan sawah secara digital dan dikirim ke pusat data Kementan.

“Data ini bisa dilihat langsung di server pusat, semua orang bisa mengecek kebenarannya. Sepengetahuan saya, banyak sekali spot-spot kecil lahan sawah yang tidak terekam oleh ATR/BPN,” kata Mamad.

Dia melanjutkan, bagi daerah dengan koneksi internet yang kurang baik, pengunggahan data tetap bisa dilakukan secara offline. Petugas hanya perlu mengunduh terlebih dahulu form yang harus diisi saat melakukan validasi ke lapangan. Dengan demikian, spot-spot kecil lahan sawah yang ada akan makin akurat terekam. Contoh terbaru, ada lahan sawah di Labuhan Batu Utara belum dipetakan hampir satu desa, padahal di lapangan hamparan sawahnya sangat luas.

“Dengan aplikasi ini, tidak ada lagi yang terlewat karena citra satelit sangat jelas membedakan mana yang lahan sawah, kebun sawit, atau lapangan. Semua terekam secara digital,” kata Mamad. (360)

BERITA TERKAIT