Program Bekerja Sapa Lombok Barat

Senin, 30 September 2019, 11:10 WIB

Kegiatan Bimbingan Teknis Program Bekerja Subsektor Hortikultura di Aula Dinas Pertanian Lombok Barat, NTB, pekan lalu. | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET -- Dalam rangka mendukung percepatan pengentasan kemiskinan, Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan program unik bertajuk Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera atau dikenal dengan akronim Bekerja. Program tersebut menyasar rumah tangga miskin di wilayah perdesaan yang rata-rata bermatapencaharian pokok sebagai petani. Caranya dengan memberikan paket kegiatan produktif berbasis pertanian yang dapat menambah penghasilan.

Tak tanggung-tanggung, tahun 2019 ini Kementan mengalokasikan program Bekerja di 23 provinsi, 154 kabupaten, 386 kecamatan, dan 4.068 desa. Program tersebut menjangkau sasaran 209.127 rumah tangga miskin pertanian (RTMP) yang basis datanya bersumber dari Kementerian Sosial.

Tidak hanya RTMP, penerima manfaat dari program yang diluncurkan sejak 2018 itu adalah Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), terutama yang berlokasi di desa stunting atau daerah rentan rawa pangan. Dengan adanya program ini, pemerintah berharap para Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tergabung dalam kelompok KRPL mampu memenuhi pangan dan gizi keluarga sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kementan Liferdi Lukman mengatakan, upaya percepatan pengentasan kemiskinan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebijakan strategis Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Melalui program Bekerja, setiap RTMP diberikan paket kegiatan produktif berbasis pertanian. Hasilnya diharapkan mampu mendapat penghasilan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Bentuknya berupa paket budidaya sayuran, paket ayam ternak, dan paket budidaya buah tahunan, seperti durian, bahkan tanaman perkebunan seperti kakao, kopi dan lada.

“Konsepnya sederhana, tapi mengena. Tentunya ada paket pembinaan dan bimbingan teknis yang intensif,” ujar Liferdi di sela-sela kegiatan Bimbingan Teknis Program Bekerja Subsektor Hortikultura di Aula Dinas Pertanian Lombok Barat, NTB, pekan lalu.

Di hadapan puluhan anggota KWT setempat, Liferdi melanjutkan, dalam jangka waktu 1-2 bulan setiap RTMP diharapkan bisa panen sayuran daun, seperti kangkung, bayam, sawi, kacang panjang, paria atau jagung manis. Dalam jangka menengah, mereka bisa mendapat penghasilan dari telor ayam. Jangka panjang, berkembang klaster durian yang hasilnya bisa dinikmati RTMP.

“Tentu yang lebih penting lagi, kita berharap ada perubahan mindset positif dan tumbuh mental bangkit keluar dari kemiskinan. Bimbingan teknis yang diberikan Kementan,” kata dia.

Menurut Liferdi, khusus program Bekerja bidang hortikultura tahun ini dialokasikan di 11 provinsi dan 14 kabupaten, termasuk Lombok Barat. Sasaran penerima manfaat program tersebut mencapai 54.373 RTMP dan 55 kelompok KRPL dengan total anggaran Rp 16,86 miliar.

Dalam satu desa atau kecamatan dikembangkan satu varietas durian. Istilahnya, One Village One Variety. Meskipun lahan yang dimiliki RTMP relatif sempit, jika ditanami secara serentak dan dikelola secara terpadu,makan akan membentuk satu kawasan sayuran atau kawasan durian yang luas. “Ini yang kami sebut filosofi sapu lidi,” imbuh Liferdi.

Kepala Dinas Pertanian Lombok Barat Muhur Zokhri menyambut baik program Bekerja di daerahnya. Menurut Zokhri, Lombok Barat sangat potensial untuk dikembangkan aneka komoditas hortikultura.

“Andalan hortikultura kami adalah Kang Madura, singkatan dari kangkung, manggis, durian, dan rambutan. Untuk manggis, kami sudah ekspor dari Narmada. Rencana akan ada investor yang mengembangkan 5.000 hektare di Lombok Barat untuk diekspor ke Cina melalui pelabuhan Lembar Lombok,” kata Zokhri.

Selain manggis, Zokhri melanjutkan, potensi sayuran Lombok Barat juga sudah mencapai manca negara. Kangkung khas Lombok sudah diekspor ke Singapura dan Arab Saudi. “Kalau durian, kami punya puluhan jenis durian lokal. Salah satunya jenis blueband yang pernah menjuarai kontes nasional durian,” ujar Zokhri.

Peneliti BPTP Sulawesi Tenggara Alwi Mustaha menyebut Lombok Barat sangat cocok untuk pengembangan aneka sayur dan buah-buahan. Tipologi kawasan di NTB sesuai untuk perkebunan durian Boutique, yaitu dalam satu kawasan terdiri dari beragam varietas.

“Durian Gundul dan Tong Madaye bisa dikembangkan sebagai varietas unggul lokal, walau tidak menutup kemungkinan jenis durian introduksi. Kalau program Bekerja ini sukses dijalankan, bisa menjadi role model pengembangan kawasan berbasis komunitas,” kata Alwi. (360)