Petrokimia Gresik Siapkan Pupuk Subsidi Empat Kali Lipat

Rabu, 09 Oktober 2019, 12:28 WIB

Selain pupuk usaha meningkatkan produktifitas pertanian juga didukung dengan teknologi. | Sumber Foto:Humas Kementan

AGRONET -- PT Petrokimia Gresik menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 787.280 ton untuk menghadapi musim tanam periode Oktober-Maret 2019- 2020. Jumlah tersebut empat kali lebih banyak dari ketentuan minimum pemerintah sebesar 188.018 ton.

Rinciannya, pupuk urea sebanyak 47.776 ton, ZA 138.690 ton, SP36 sebanyak 197.814 ton, NPK Phonska sebanyak 342.834 ton, dan Petroganik 60.168 ton. "Namun untuk wilayah Boyolali dan Soloraya, kami tidak menyediakan pupuk urea di sana karena dilayani Pusri,” ujar Manager Humas PT Petrokimia Gresik, Muhammad Ikhwan di Boyolali, Selasa (8/10).

Ia menjelaskan dalam penyaluran pupuk bersubsidi, pihaknya berpedoman pada Permentan No 47/2018 tentang Alokasi dan HET Pupuk Bersubsidi tahun anggaran 2019. Dalam Permentan tersebut, alokasi pupuk bersubsidi yang harus disalurkan oleh Pupuk Indonesia sebanyak 8,87 juta ton.

“Dari jumlah itu, Petrokimia Gresik mendapat alokasi 5,24 juta ton. hingga 25 September lalu, Petrokimia Gresik telah menyalurkan sebanyak 3,66 juta ton atau 70 persen," jelasnya.

Sedangkan untuk pendistribusian berpedoman pada Permendag No 15/2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Salah satu ketentuan adalah stok pupuk bersubsidi harus tersedia untuk memenuhi kebutuhan petani hingga dua minggu ke depan.

“Namun sebagai langkah antisipasi lonjakan permintaan, maka Petrokimia Gresik meningkatkan ketersediaan stok pupuk bersubsidi hingga tiga-empat kali lipat. Kami pastikan penyaluran pupuk subsidi lancar sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah," ujar Ikhwan. 

Pihaknya juga mengimbau petani mengikuti dosis pemupukan berimbang 5:3:2. Dimana untuk lahan seluas satu hektare sawah dibutuhkan 500 kg pupuk Petroganik, 300 kg NPK Phonska, dan 200 kg urea.

Menurutnya, pemupukan berimbang menjadi solusi atas pemakaian pupuk yang cenderung berlebihan oleh petani. Sehingga alokasi pupuk bersubsidi yang terbatas dapat lebih efektif dan efisien.

Pihaknya juga berharap agar produsen pupuk, distributor dan seluruh kios resmi pupuk meningkatkan sinergi untuk kepentingan petani dan kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi. Pihaknya tak segan menindak para distributor dan penyalur pupuk bersubsidi yang tidak menyalurkan dengan jujur. Pupuk Indonesia bersama sejumlah pihak terkait seperti Kementan, pemerintah daerah dan aparat hukum terus melakukan pengawasan terhadap penyaluran pupuk bersubsidi. (KBRN/591)