Produk Olahan Cabai Sinjai Siap Bersaing

Rabu, 09 Oktober 2019, 20:31 WIB

Kegiatan pelatihan kelompok wanita tani (KWT) Arango di Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. | Sumber Foto: Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Harga cabai berfluktuatif dan mengikuti permintaan pasar. Di samping itu, sebagai bahan pangan yang mudah rusak, cabai tidak tahan disimpan dalam bentuk segar. Mengantisipasi hal tersebut, cabai segar diolah menjadi cabai kering, cabai bubuk, dan pasta cabai. Produk olahan ini tentunya akan memberikan nilai tambah yang besar.

Hal itu terungkap, pada pelatihan kelompok wanita tani (KWT) Arango di Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Rabu (9/10). Animo kalangan ibu rumah tangga mengikuti bimbingan teknis pengolahan hortikultura sangat tinggi. Desa Arabika merupakan salah satu sentra cabai. Harga cabai di daerah ini pernah menyentuh Rp 60 ribu dan terendah Rp 3 ribu per kg. 

Guna mendukung usaha pengolahan cabai, KWT ini menerima bantuan dari Kementan antara lain berupa mesin penepung cabai kering berkapasitas 15 kg dan blender berkapasitas 1.5 liter. Kemudian ada bantuan berupa panci, timbangan digital, kompor, wajan besar, meja produksi, 9lemari display, serta mesin penutup botol untuk packaging.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik, berharap bantuan sarana pengolahan ini dapat meningkatkan nilai tambah dan saya saing cabai terutama saat harga jatuh. “Penerima bantuan harus dapat kreatif dan inovatif sehingga bentuk olahan, baik mutu, jenis, dan kemasannya dapat bersaing dengan produk lain.

Jumlah bantuan fasilitasi sarana pengolahan hortikiltura pada 2019 untuk komoditas cabai 78 unit, bawang 18 unit, sarana pengolahan hortikultura lainnya 52 unit dengan total 144 unit. Bantuan alat tersebut bervariatif dan optional mulai dari alat pengering, alat penggiling, wajan, timbangan, spinner, dan beberapa item lainnya.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sinjai, Kamarudin menyampaikan Bimtek pengolahan cabai ini sangat membantu membuka wawasan bagi anggota KWT Arango ini. Diharapkan selalu muncul aneka inovasi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan pasar.

Sementara itu Kasi Pasca Panen dan Pengolahan Hasil dari Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan, Musykerinawati, menyampaikan wanita tani harus mampu memproduksi sesuai dengan tren kebutuhan pasar. Apalagi, produksi olahan memiliki peluang pasar yang bagus dikaitkan kondisi pasar dan konsumen di masa kini. "Kesempatan ini sekaligus memotivasi agar usaha pengolahan bisa memberikan nilai tambah sekaligus memunculkan lapangan usaha baru,” ujar Musykerinawati.

Ketua KWT Arango, Suarni, mengatakan harga cabai naik turun. Karena itulah anggota KWT Arango mengolah cabai menjadi saus cabai, cabai kering, dan sambal. Meskipun pemasarannya baru di tingkat lokal namun sangat berpotensi untuk lebih dikembangkan.

Dia menambahkan bantuan dari Kementan ini sangat membantu dalam pengolahan cabai. “Cara mengolah cabai menjadi beberapa macam diversifikasi olahan merupakan peluang usaha yang paling baik. Dengan harga per botolnya Rp 20 ribu dirasa menguntungkan dan membantu memberikan nilai tambah saat harga cabai jatuh,” ujar Suarni semangat.

Untuk diketahui, cabai merah (Capsicum annum, L) salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomis tinggi. Konsumsi cabai rata-rata masyarakat Indonesia sebesar 4,6 kg per kapita per tahun.

Cabai merah kaya akan gizi, mengandung vitamin C dan betakaroten yang merupakan provitamin A. Jumlah kandungan vitamin C pada cabai mengalahkan buah-buahan segar seperti mangga, nanas, papaya atau semangka. Senyawa kapsaisin yang terkandung dalam cabai berkhasiat sebagai penambah nafsu makan dan obat pengurang rasa sakit. Beberapa literatur menyebutkan, kapsaisin bersifat anti koagulan, mencegah serangan stroke, dan jantung koroner. (360/591)