Petani Padi Garut Mulai Terapkan Smartfarming

Kamis, 10 Oktober 2019, 07:09 WIB

Direktur Pembiayaan Kementerian Pertanian Indah Megahwati (kedua dari kanan) berfoto bersama dengan stakeholder lainnya pada acara Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 di Garut, Rabu (9/10). | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET – Para petani padi di Kabupaten Garut, Jawa Barat mulai menerapkan metode budidaya tanam dengan menggunakan teknologi digital (smartfarming). Mereka menggunakan alat yang disebut RITx Soil and Weather Sensor guna memantau keadaan tanah dan memprediksi cuaca terkini selama lima hari ke depan.

“Nantinya, petani bisa mengetahui tanah di sawah membutuhkan pupuk atau tidak. Semua informasi itu bisa didapat petani melalui aplikasi yang diunduh di ponsel android,” ujar Direktur Pembiayaan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Indah Megahwati pada acara Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 di Garut, Rabu (9/10).

“Teknologi ini juga bisa membantu petani agar semakin siap menghadapi masa tanam Oktober-Maret,” sambung Indah.

Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 merupakan program lanjutan dari Gerakan Mengawal Musim Tanam (Okmar) yang dilaksanakan pada tahun 2018-2019. Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 ini direncanakan akan dilaksanakan di 12 titik sentra produksi komoditas pertanian unggulan. Gerakan itu merupakan kerja sama antara BNI, Kementan, Pemkab Garut, dan PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (PT MSMB).

Menurut Indah, dengan penerapan sensor tanah dan cuaca tersebut, sejatinya para petani padi di Garut sudah bukan lagi menyongsong era pertanian 4.0, melainkan sudah melakukan pertanian 4.0 atau pertanian berbasis teknologi digital. Penerapan pertanian 4.0 juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat para petani muda (milenial) sekaligus mematahkan persepsi bahwa pekerjaan di sektor pertanian merupakan pekerjaan yang konvensional dan tertinggal.

“Ke depan, kita akan menyaksikan pertanian dikelola oleh kaum muda dengan traktor-traktor canggih, drone, dan alat-alat modern lainnya. Bertani menggunakan cangkul perlahan akan kita tinggalkan,” ujar Indah.

Bupati Garut Rudy Gunawan yang hadir langsung pada acara yang bertempat di Desa Cikembulan Kecamatan Kadungora berharap, penggunaan teknologi akan meningkatkan indeks pertanaman (IP) padi dari yang satu kali menjadi dua kali, dua kali menjadi tiga kali, bahkan tiga kali menjadi empat kali dalam setahun.

“Pemerintah Garut terus mendorong penerapan teknologi, baik mekanisasi maupun digitalisasi. Upaya itu bisa membantu produktivitas petani Garut yang merupakan salah satu lumbung pangan Jawa Barat,” ujar Rudy.

Bupati melanjutkan, sektor pertanan memberikan sumbangan siginifikan terhadap menurunnya angka kemiskinan Kabupaten Garut hingga dua digit saat ini. Terbukti, sektor pertanian berperan penting dalam meningkatkan perekonomian dan menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Garut yang pada 2014 lalu masih berada di ranking 25 dari 36 kabupaten/kota di Jawa Barat.

“Kini, Garut sudah berhasil mengalahkan 6 kabupaten lainnya dan angka kemiskinan turun menjadi ranking ke 17. Bahkan, angka kemiskinan Garut sudah di bawah rata-rata nasional,” ujar Rudy.

Direktur Bisnis UMKM dan Jaringan BNI Tambok Parulian Setyawati mengatakan, Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 merupakan perwujudan komitmen BNI dalam membangun sektor pertanian. BNI berharap, penggunaan teknologi digital semakin membuat petani Garut memiliki daya saing dan meningkatkan produktivitasnya.

Menurut Tambok, gerakan tersebut juga sejalan dengan visi pemerintah dalam penerapan pertanian 4.0 melalui mekanisasi dan digitalisasi untuk peningkatan produksi dan kesejahteraan rakyat. Dengan teknologi tersebut, proses budidaya makin efektif dan menghasilkan produksi yang lebih banyak serta pada akhirnya semakin meningkatkan kesejahteraan rakyat petani.

Tambok melanjutkan, Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 direncanakan akan dilaksanakan pada sentra-sentra produksi komoditas pertanian unggulan di Indonesia. “Jadi nggak di sini saja, tapi nanti juga di sentra-sentra produksi komoditas pertanian unggulan lainnya,” kata Tambok. (360)