LIPI Kembangkan Bioproduk Berbasis Lignoselulosa

Rabu, 30 Oktober 2019, 11:30 WIB

Para pembicara pada kegiatan seminar “Inovasi Berkelanjutan Bioproduk Berbasis Lignoselulosa untuk Peningkatan Nilai Tambah di Era Industri 4.0” pada Rabu (30/10) di di Cibinong, Jawa Barat. | Sumber Foto: Humas LIPI

AGRONET -- Data Asian Productivity Organization (APO) menunjukan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebesar 5.8 persen dan hanya 0,1 persen saja yang bersumber dari total factor productivity (TFP) jika dibandingkan dengan total modal kapital dan modal tenaga kerja. Hal ini menggambarkan masih sangat minimnya kemampuan adopsi terhadap teknologi dan inovasi untuk memberikan nilai tambah pada suatu produk terutama yang berbasis sumber daya alam.

Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan berbagai macam bioproduk dari bahan lignoselulosa yang merupakan komponen utama kayu. Produk itu akan ditampilkan dalam kegiatan seminar “Inovasi Berkelanjutan Bioproduk Berbasis Lignoselulosa untuk Peningkatan Nilai Tambah di Era Industri 4.0” pada Rabu (30é10) di Cibinong, Jawa Barat.

Bioproduk merupakan material yang berasal dari sumberdaya hayati (bio-based material) yang diproses dengan teknologi menjadi produk baru yang mempunyai nilai tambah dari segi ekonomi. Contoh bioproduk antara lain biokomposit, biopestisida, bioetanol, biosurfaktan, perekat alam ramah lingkungan, dan sediaan sumber pangan fungsional melalui rekayasa teknologi.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati, menjelaskan saat ini Indonesia merupakan eksportir kayu terbesar. Namun demikian, tambah Enny, Indonesia belum menjadi eksportir kayu olahan terbesar di dunia. 

“Bioproduk menerapkan metode dan proses berkelanjutan, terbarukan, dan mengutamakan aspek proses yang ramah lingkungan. Dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ditunjang inovasi berkelanjutan, tantangan ini optimis dapat diwujudkan lewat berbagai macam bioproduk yang bersumber dari bahan lignoselulosa," jelas Enny.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Iman Hidayat, menjelaskan saat ini LIPI melakukan penelitian dan pengembangan bahan lignoselulosa melalui serangkaian proses-proses mekanik, fisika, kimia, maupun biologi. Tujuannya untuk menghasilkan produk-produk yang terus dikembangkan menjadi material maju dan pendukung material maju.

“Selain itu pada tahun ini juga akan segera terwujud laboratorium bioproduk terintegrasi atau iLab yang diharapkan mampu mendukung program pemerintah dalam mengembangkan industri kreatif. Kemudian dapat membantu produk lokal melalui inovasi dan pengembangan produk supaya dapat bersaing pada kancah industri nasional maupun internasional,” ungkap Iman.

Menurut Iman, iLaB dapat menjadi mitra strategis dengan pihak industri dan pemerintah terkait dengan pembuatan standar bioproduk ataupun pengembangan bioproduk yang diinginkan industri dan masyarakat. Dia berharap lewat kegiatan ini dapat melakukan kolaborasi dengan semua pihak untuk penguatan inovasi berbasis bahan lignoselulosa sebagai material hijau ramah lingkungan. “Kami juga akan menggagas pembentukan Pusat Kajian Nanoselulosa,” jelasnya.

Untuk diketahui, Lignoselulosa secara sederhana adalah komponen utama penyusun dinding sel tumbuhan. Sumber lignoselulosa bisa berasal dari beragam sumber daya alam, seperti produk pertanian, perkebunan, dan hutan.  
Sumber utama bahan lignoselulosa yang banyak digunakan adalah berasal dari kayu hutan.

Namun, seiring dengan terus meningkatnya jumlah penduduk, eksploitasi terhadap kayu dari hasil hutan semakin tinggi, dan membuat produksi kayu juga menurun dan berdampak pula pada pasokan sumber lignoselulosa. Padahal kebutuhan lignoselulosa terus meningkat. (Humas LIPI/591)