Peluang Ekspor ke Cina Besar, Kementan Perbaharui Protokol Kerjasama

Kamis, 28 November 2019, 03:06 WIB

Kepala Barantan, Ali Jamil, memberi keterangan kepada media di Gedung A Kementan, Jakarta. | Sumber Foto: Agronet

AGRONET -- Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian, melakukan penandatanganan perbaharuan protokol kerjasama ekspor berbagai komoditas pertanian ke Cina. Pembaharua protokol itu berlangsung saat menerima kunjungan Wakil Menteri General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC), Zhang Jiwen, di Ruang Pola Gedung A, Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (27/11).

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, di sela-sela pertemuan mengatakan hasil pertemuan itu membuka beberapa peluang ekspor baru komoditas pertanian, di samping peningkatan ekspor ke Cina yang sudah berjalan selama ini. Seperti buah salak menjadi salah satu buah-buahan yang saat ini popular di pasar ekspor, dan pasar Cina merupakan pasar terbesar setelah Kamboja.

“Berdasarkan data pada sistem automasi perkarantinan, IQFAST, secara nasional di tahun 2019 tercatat peningkatan tren ekspor berbagai komoditas seperti salak sebesar 57,4%. Tahun ini, hingga bulan November sebanyak 1.385 ton lebih tinggi dibanding tahun 2018 yang hanya 880 ton,” kata Jamil.

Menurut Jamil, protokol buah salak telah ditandatangani pada tahun 2013 dan akan berakhir pada tahun 2019 ini. Untuk itu penandatangan kerjasama guna menfasilitasi ekspor salak ke Cina menjadi sangat strategis. Tren ekspornya juga meningkat dari 69,7 ton pada tahun 2018 menjadi 77,6 ton hingga November tahun 2019.

Lebih jauh, Jamil merinci, pembicaraan kerjasama itu juga membahas fasilitasi ekspor produk pertanian lainnya, seperti buah naga, buah nanas, sarang burung walet (SBW), serta produk peternakan. “Ini sesuai dengan arahan Presiden Jokowi melalui Menteri Pertanian untuk mengawal ketat akselerasi dan perluasan ekspor. Kita akan kebut pembahasan harmonisasi aturannya,” ujar Jamil. 

Berdasarkan data neraca perdagangan sektor pertanian Indonesia-Cina tahun 2018, secara umum Indonesia berada pada posisi surplus sebesar 1,5 juta US Dolar. Adapun komoditas ekspor dengan jumlah terbesar baik secara tonase maupun nilai ekonomi masing-masing kelapa sawit, karet, kelapa, kakao, kulit dan jangat, manggis, lemak, kacang hijau, pisang, dan kopi.

Pada kesempatan itu, Ali Jamil memberi pesan kepada para petani agar dapat memperhatikan kembali prosedur-prosedur yang ditentukan agar komoditas hasil pertanian bisa diterima pasar mancanegara. Hal yang perlu diperhatikan seperti kebun sudah teregistrasi, sistem pemeliharaan kebun, penanganan pascapanen, dan pengemasan/packing house yang sesuai standar.

Di tempat yang sama, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Barantan, AM Adnan, yang turut mendampingi acara penandatanganan menyampaikan bahwa untuk protokol ekspor buah naga dari Indonesia ke RRT telah ditandatangani pada bulan April 2019 di Beijing, Cina. Untuk mendorong percepatan realisasi ekspor buah naga, pihak Cina berkomitmen mengirimkan tim ahli GACC untuk melakukan kunjungan audit di kebun packing house buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, pada saat musim panen buah naga di bulan Desember 2019.

Sementara itu, untuk akses pasar buah nanas, surat permohonan akses pasar nanas dari Indonesia ke Cina telah disampaikan sejak 2016. Menurutnya, Barantan mengharapkan proses analisa resiko penyakit atau pest risk analysis ekspor buah nenas dapat segera diselesaikan sehingga protokol ekspornya dapat segera ditandatangani antar negara. (591)